Senin, 27 Juni 2022

Dukung Bioflok di Pembudidaya

Dukung Bioflok di Pembudidaya

Foto: Istimewa


Jambi (TROBOSAQUA.COM). Menghadapi kian terbatasnya lahan, terutama di perkotaan dan terus naiknya harga pakan dan saprodi lainnya maka budidaya sistem bioflok menjadi solusinya. Untuk mengenal lebih dalam budidaya ini, Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi menggelar Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Budidaya Ikan Sistem Bioflok, baru-baru ini.

Acara yang diawali dengan sambutan Kepala BPBAT Sungai Gelam, Andy Artha dan dibuka Arik Wibowo, Direktur Produksi  dan Usaha Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sekaligus sebagai pembicara kunci. Sementara narasumber lainnya terdiri dari Yudho Adhitomo, Perekayasa Madya BPBAT Jambi serta Suprapto, praktisi budidaya perikanan.


Pada kesempatan tersebut Arik menyajikan materi tentang “Kebijakan Pengembangan Teknologi Bioflok untuk Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya.” Disebutkannya, KKP memberikan perhatian lebih terhadap perikanan budidaya. Terdapat berbagai program KKP terkait dengan perikanan budidaya. Pertama, pengembangan perikanan budidaya yang berorientasi ekspor dengan komoditas unggulan antara lain udang, kepiting dan rumput laut. Lalu, pengembangan kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal guna mengentaskan kemiskinan sekaligus menjaga kepunahan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi.


Disebutkannya, pada 2022 ini bantuan KKP untuk sarana bioflok sebanyak 594 paket yang melibatkan 14 UPT. Untuk di BBAT Jambi terealisasi 34 paket yang tersebar di Sumsel (14 paket); Sumbar (8 paket), Sumut (4 paket) dan Lampung (8 paket).


“Bantuan ini bertujuan mengenalkan dan menerapkan budidaya ikan lele dan nila sistem  bioflok kepada masyarakat. Lalu untuk meningkatkan produksi ikan lele (400 kg/kolam/siklus) dan nila (140 kg/kolam/siklus). Kemudian untuk mendorong penguatan kelembagaan penerima bantuan pemerintah dan peningkatan kemampuan usaha penerima bantuan pemerintah,” urainya.


Diungkapkannya, di Lampung sejumlah ponpes yang menerima bantuan KKP sudah mampu mengembangkan usahanya. Mereka tidak saja memproduksi bibit mandiri tetapi juga sudah memproduksi pakan mandiri.


Pada bagian akhir pemaparannya, Arik mengharapkan penerima bantuan sarana bioflok untuk mengikuti SOP budidaya yang sudah diberikan, mengikuti tahapan kegiatan dengan baik, dosis pakan, probiotik dan lain-lain. Penerapan cara berbudidaya ikan yang baik, seperti penggunaan obat yang terdaftar, pakan yang terdaftar karena terjamin mutunya  serta tidak merusak lingkungan.


“Jaga keberlanjutan usaha, sisihkan keuntungan untuk modal kerja pengembangan kolam dan kelompok. Usaha budidaya minimal 8 siklus atau 2 tahun berturut-turut sebagaimana juknis pengawasan Kejagung. Kembangkan berbagai produk olahan (bakso, nugget, abon, ikan asap, dll) sehingga dapat meningkatkan nilai tambah karena kebiasaan masyarakat sekarang yang serba praktis. Dan ajak masyarakat sekitar untuk berbudidaya ikan dan berkonsultasi dengan dinas, penyuluh dan UPT,” harapnya.datuk-lampung
     

 

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain