Rabu, 15 Juni 2022

Produksi Itu Masih Berfluktuatif

Produksi Itu Masih Berfluktuatif

Foto: 


Geliat usaha budidaya udang terus tumbuh di berbagai daerah meski diterpa beragam tantang teknis dan non teknis

 


Beragam cara dilakukan oleh stakeholder (pemangku kepentingan) perudangan dalam pencapaian target peningkatan produktivitas udang vannamei sebesar 250 % pada tahun 2024.  Tak sampai di sana, beragam upaya petambak di sentra-sentra budidaya udang vannamei pun terus berupaya mendongkrak produktivitasnya, dan terus bergelut dengan permasalahannya di daerah masing-masing. Hingga sejauh ini, bagaimana kah perkembangannya?

 


Kondisi Aktual
Diungkapkan Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah Banyuwangi, Yanuar Toto Raharjo, pada tahun 2021 terjadi penurunan produksi udang sekitar 25 - 30 %. Meski ada penurunan produksi, para petambak khususnya di jawa Timur (Jatim) masih tergolong aman dan masih bisa terus berproduksi hingga mencapai size (ukuran) 20 ekor per kg juga banyak.

 


Lanjutnya, beragam penyakit menyerang perudangan di Jatim. Dan luar biasanya tahun ini bukan single (tunggal) yang menyerang. Melainkan kombinasi penyakit seperti White Spot (WS), dan juga Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) ikut hadir di tahun ini. “Penyebabnya bukan karena sekadar ada penyakit lalu terjadi outbreak (penyebaran yang luar biasa), akan tetapi fenomena iklim juga berpengaruh kepada manajemen kualitas air,” ungkap Yanuar kepada TROBOS Aqua.

 


Hingga saat ini, terangnya lebih lanjut, mengenai keadaan terkini di Jatim, banyak faktor yang menjadi pemicu penyakit. Mulai dari ketidakseimbangnya ekosistem di lokasi usaha, dan kualitas air yang berubah.

 


Untuk beberapa petambak udang ada yang bisa menanggulanggi permasalahan tersebut dan tetap bisa panen. Namun tidak jarang juga yang ketika mencapai Day Of Culture (DOC) 17 hari kemudian tambak dikuras juga ada.

 


“Menginjak budidaya periode pertama 2022, kami merasakan adanya penurunan yang signifikan. Dimana dinamika kualitas air yang berubah-ubah sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Serta faktor yang lain yang mempengaruhi produksi adalah stabilitas kualitas benur,” ungkap Yanuar.

 


Bergeser ke arah Barat, Rudi Kusharyanto selaku ketua Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) lampung juga mengutarakan kondisi teranyar. Secara umum kondisi perudangan di Lampung saat ini masih mengalami fluktuasi, terutama adanya kendala penyakit seperti Acute Hepatopancreatic Necrosis Disesase (AHPND), IMNV, WS dan lain-lain yang masih menekan kinerja (performance) budidaya udang di Lampung.

 


“Munculnya penyakit-penyakit tersebut berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan budidaya yang akhirnya terjadi penurunan produksi udang,” terangnya. Lanjutnya, pada beberapa zona atau sentra tambak, terutama Pantai Timur Lampung serta di Pesawaran merupakan daerah dengan tingkat serangan penyakit yang paling terdampak.

 


Sambung Rudi, meski wilayah lain pun sedikit banyak mengalami serangan penyakit juga. Bila kondisi ini tidak diantisipasi bersama seluruh stakeholder dalam budidaya tentu dikhawatirkan target produksi 250 % akan sulit tercapai pada tahun 2024 nanti.

 


Saat ini, menueurtnya, dengan berbagai problematika budidaya terutama serangan penyakit baik di awal budidaya maupun saat proses budidaya mempunyai dampak yang besar terhadap keberlangsungan usaha. Ke depannya petambak maupun pemilik tambak yang harus menanggung kerugian yang tidak sedikit akibat serangan penyakit saat ini.

 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 121/15 Juni - 14 Juli 2022

 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain