Rabu, 15 Juni 2022

Antara Optimis dan Pesimis Capai target

Antara Optimis dan Pesimis Capai target

Foto: 


Peningkatan produksi sebesar 2 juta ton udang vannamei tahun 2024 masih diragukan dapat tercapai, seperti apa progres pencapaiannya?


Udang suala lama menjadi primadona komoditas perikanan yang terus digenjot produksinya untuk utamanya guna memenuhi kebutuhan pangsa pasar ekspor. Diawal masa pemerintahan saat ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahkan sudah menargetkan ekspor udang nasional meningkat 250 % pada tahun 2024.


Sebuah target peningkatan yang cukup ambisius. Lantas sejauh mana pencapaian target produksi tersebut saat ini? Kemudian langkah-langkah apa saja yang sudah dilakukan pemerintah KKP khususnya dan berbagai asosiasi di bidang perudangan untuk mencapai target tersebut?


Strategi Peningkatan
Beberapa waktu lalu, tim TROBOS Aqua menyambangi Direktur Jenderal (Dirjen) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). T.B. Haeru Rahayu.  nahkoda DJPB itu mengungkapkan berbagai upaya dilakukan KKP dalam mendongkrak produktivitas udang agar mencapai target tersebut.


“Karena bukan tidak mungkin, Indonesia memiliki potensi untuk mencapai target tersebut,” ungkap Tebe demikian biasa disapa. Ia memaparkan data aktual kondisi perudangan skala nasional. Bahwa pemerintah menargetkan produksi udang di Indonesia akan mencapai 2 juta ton pada 2024. Target ini masih jauh dari yang ada sekarang yaitu berkisar 800 -  900 ribu ton pada 2019 - 2020.


Yang berarti perlunya sekitar 1,1 juta ton lagi yang disiapkan. KKP saat ini melakukan beberapa pendekatan dan upaya agar target tersebut dapat dicapai. Hingga saat ini, ada sekitar 45 ribu hektar (Ha) potensi lahan yang dapat dikembangkan.


Berdasarkan pendataan, Tebe mengatakan, bahwa hingga saat ini luasan tambak yang beroperasi totalnya sekitar 301.501 Ha. Dari total luasan tersebut dapat dibagi menjadi 3 golongan yakni intensif seluas 9.055 Ha, kemudian semi intensif 43.643 Ha, dan tradisional seluas 247.203 Ha. “Wilayah tersebut tersebar di Aceh, Sumatera, Sumatera Selatan, Palembang, Lampung, Jawa barat dari mulai Banten hingga ke Jawa Timur,” beber Tebe.


Ia lanjutkan, terdapat dua cara pendekatan yang bisa diterapkan. Yang pertama adalah revitalisasi tambak, dan kedua adalah modeling. Untuk yang pertama yakni revitalisasi tambak yang kondisinya kurang baik, atau tambak-tambak tradisional diperbaiki dengan mengacu kepada Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).


“Dimana pembangunan itu meliputi pembangunan saluran air masuk (inlet) dan saluran air keluar (outlet). Tak lupa pula pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) juga dibangun agar bersifat sustainable (berkelanjutan),”ungkap Tebe.


Terangnya lebih lanjut, wilayah yang saat ini dilakukan revitalisasi adalah Kalimantan yakni di Kota Baru, kemudian di Sulawesi Tenggara (Sulteng) yakni tepatnya di Konawe masing-masing seluas 500 Ha. Untuk wilayah-wilayah lainnya akan menyusul seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), dan juga Sumatera.
Selain itu, Ia katakan, modeling tambak juga dilakukan pada lokasi-lokasi yang sudah berjalan budidayanya seperti Sulawasi Tengah (Mamuju, Pinrang, Pahowato, Muna). Kemudian, Kalimantan (Bulungan), Sumatera Utara (Aceh Timur, Belitung, dan Oki).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
Tebe menjelaskan, dalam pendekatan modeling ini akan ditingkatkan produktivitasnya. Dimana saat ini rata-rata produktivitas tambak modeling sekitar 0,6 ton per Ha per tahun menjadi 80 ton per hektar per tahun. Kemudian untuk tambak konvensional dari 0,6 ton per Ha per tahun menjadi 30 ton per Ha per tahun.


“Namun pengembangannya mengikuti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sehingga perlahan-lahan nantinya semua daerah yang dibidik bisa terealisasi,” ujarnya. Sambung Tebe, melihat potensi yang ada jika 50 % luasan 247 ribu Ha tambak yang konvensional tersebut bisa ditingkatkan menjadi semi intensif, atau bahkan intensif, maka 2 juta ton tersebut sangat mudah dicapai. “Maka bukan tidak mungkin kita menjadi produsen udang nomor satu di dunia, kami sangat yakin hal itu bisa tercapai,” lugasnya.


Bicara mengenai target ekspor 250 %, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan (AP5I) Budhi Wibowo ikut bicara. Menurutnya agar lebih jelas target tersebut yang semula di tahun 2019 secara volume 207 ribu ton dan value (nilai) 1,7 miliar dollar, kemudian ditargetkan pada tahun 2024 depan angkanya mencapai 4,2 miliar dollar.


Untuk mencapai target tersebut, ia lanjutkan, perlu minimal kenaikan nilainya sebanyak 20 % atau 19,8 % per tahunnya, secara volume juga kenaikannya tidak kurang dari 15 % per tahun. Hingga saat ini berdasarkan data teranyar dari KKP, bahwa tahun 2021 ini produksi udang mencapai 250 ribu ton secara volume.

 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 121/15 Juni - 14 Juli 2022

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain