Minggu, 15 Mei 2022

Keseimbangan Baru Pakan dan Pasar

Keseimbangan Baru Pakan dan Pasar

Foto: 


Harga pakan dan harga jual komoditas akuakultur terus bergerak mencari titik keseimbangan baru, pembudidaya perlu cepat beradaptasi 
 
Usaha akuakultur atau budidaya tidak akan pernah lepas dari kebutuhan akan pakan. Sekitar 70 % dari biaya produksi budidaya berasal dari pakan. Perubahan harga pakan tentunya akan signifikan berengaruh terhadap modal usaha para pembudidaya. Soal kenikan harga pakan sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa dialami para pelaku budidaya. Namun jika kenaikan harga pakan terjadi secara bertubi-tubi menjadi hal yang baru dan tentunya tambah membebani usaha budidaya. 
 
Suara Pembudidaya
Seperti yang terjadi diawal tahun ini, diungkapkan Pembudidaya Ikan Lele di daerah Depok Jawa Barat, jika dihitung dari sejak masuk tahun 2022, kenaikan pakan yang dialami sudah 5 kali. Nilai kenaikannya pun berbeda-beda. Dan berdasarkan informasi teranyar per tanggal 16 Mei 2022 ini akan ada kenaikan pakan lagi sebesar Rp 300 per kg.
 
H Usman menceritakan, sebenarnya, kenaikan harga pakan pun sudah terjadi pada akhir tahun 2021 lalu. Baru tahun ini yang kenaikan harga bisa per bulan. “Jadi bulan ini naik, tiba-tiba bulan depan naik lagi harga pakannya. Banyak pembudidaya binaan kami pun mengeluhkan permasalahan ini,” ungkap H Usman kepada TROBOS Aqua. 
 
Namun, ia coba jelaskan kepada pembudidaya mitranya bahwa permasalahan kenaikan harga tidak hanya di pakan saja. Berbagai kebutuhan pokok lainnya, trasportasi, juga ikut naik. “Susahnya mencari bahan baku impor, tingginya biaya akomodasi serta distribusi pakan mungkin menjadi alasan yang pada terpaksa kita maklumi bersama,” kata H Usman.  
 
Kejadian serupa dialami Pembudidaya Ikan Patin di Tulungagung Jawa Timur, Tumari Mustofa. Menurutnya, dalam 4 bulan terakhir harga pakan sudah naik 4 kali. Total naiknya bisa sampai Rp 25 ribu - 27 ribu per sak (30 kg). Sementara harga ikan patin turun. Dari yang semula Rp 17.500 per kg, sekarang turun jadi Rp 16 ribu per kg dari bakulan. “Bakulan beralasan dari pasar dan pabrikan memang turun permintaan sehingga harga pun turun,” kata Tumari.
 
Lanjut Tumari, untuk Break Even Point (BEP) atau modal dasar usaha budidaya patin sekarang di kisaran Rp 16.500 per kg, jadi dengan harga jual ikan sekarang sekarang pembudidaya terhitung merugi. “Kami sebagai pembudidaya sebenarnnya nggak muluk-muluk, yang penting usaha bisa bersirkulasi, kita sudah senang. Harapannya, pemerintah bisa mewadahi keresahan pembudidaya. Ada usaha integrasi hulu-hilir, sehingga harga pakan bisa ditahan, sementara harga ikan tidak diturunkan,” harap Tumari.
 
Kenaikan harga pakan juga terjadi pada pakan udang. Seperti dijelaskan General Manager PT Poseidon Biru Aquakultura (PBA) yang memiliki tambak di Kalianda, Lampung Selatan dan Bengkunat, Pesisir Barat, Hanung Hernadi, selama tahun 2022, harga pakan udang sudah dua kali mengalami kenaikan, masing-masing Rp 500/kg. 
 
“Akibat kenaikan harga pakan, benur, dan Sarana Produksi (Saprodi) lainnya terjadi kenaikan biaya produksi sekitar 10 % dari sebelumnya berkisar antara Rp 40 ribu - Rp 45 ribu/kg udang. Dampaknya jelas margin keuntungan pembudidaya terkoreksi,” ujar Hanung.
 
Beruntung dari sisi produksi, Hanung mengakui, terjadi kenaikan karena penyakit mulai berkurang seiring berakhirnya cuaca ekstrim sehingga kualitas air membaik. Produktivitas tambak udang di Kalianda, Pesawaran, hingga Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat mengalami peningkatan. Meski cuaca baik dan produktivitas meningkat, kepadatan tebar tidak dinaikan agar tidak muncul masalah.
 
Ia menambahkan, saat ini terdapat 11 hingga 12 merek pakan udang yang beredar di daerah Lampung dengan potensi kebutuhan pakan sekitar 4 ribu hingga 5 ribuan ton sebulan. Namun realisasinya Hanung memperkirakan sekitar 3 ribu hingga 4 ribuan ton per bulan karena terdapat sebagian tambak yang tidak beroperasi.
 
Sementara Ketua Umum FKPA Eri Brahmantyo ikut berbicara, dari informasi yang diterima Eri dari pabrikan pakan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan harga pakan naik. Di antaranya, naiknya harga bahan baku pakan yang sebagian masih berasal dari impor. Naiknya biaya transportasi bahan baku, serta biaya distribusi pakan yang meningkat. Termasuk faktor-faktor lainnya, seperti tenaga kerja, dan sarana pendukung lain dalam proses produksi pakan di pabrik.
 
Harga Komoditas
Disaat harga pakan berkali-kali naik, lalu bagaimana dengan harga jual ikan atau udang yang diproduksi? Diungkapkan H Usman, hingga saat ini pakan yang sudah naik beberapa kali lele baru naik 1 kali menjelang lebaran kemarin. 
 
Lanjut H Usman, tak jarang pembudidaya yang gulung tikar akibat keadaan ini. Ditambah lagi kondisi pasar saat ini masih dalam pemulihan pandemi yang dimana daya beli masyarakat belum baik. Maka rata-rata pembudidaya mengerem atau menurunkan produksinya.
 
Ia menjelaskan, menjelang April 2022 ini, terlihat tren budidaya lele naik. Pasalnya keberadaan lele yang tidak sebanyak biasanya, permintaan mulai berdatangan akhirnya harga lele naik menjadi Rp 19.500 per kg. Pada saat pandemi harga lele di tingkat pembudidaya harganya sudah diangka Rp 19 ribu. “Biasanya menjelang lebaran harga lele itu merosot, atau produksi banyak sehingga harga turun. Namun lebaran kali ini berbeda harga stabil permintaan cenderung bertambah,” kata H Usman.
 
Sementara harga jual udang, Eri juga mengakui berfluktuasi, hanya sejak sebelum Lebaran lalu cenderung naik dan turun setelahnya. Menurut Eri, meski harga pakan dan Saprodi lainnya naik, namun selama budidaya masih bisa panen secara normal, petambak masih bisa untung. Namun bila panen dini karena ada masalah teknis, rata-rata petambak sudah merugi karena tingginya serangan penyakit dan tingginya biaya produksi.
 
Keseimbangan Baru
Lalu bagaimana perimbangan kenaikan harga pakan dan hrga jual komoditas hasil budidaya? H Usman mengungkapkan, Untuk harga lele saat ini biaya pokok produksinya sekitar Rp 16 ribu. Dengan harga lele yang naik Rp 500 per kg dan diangka Rp 19,5 ribu maka pembudidaya saat ini pun sudah bisa merasa cukup lega. “Catatannya FCR yang diperoleh tidak boleh kurang dari 90 %, justru harus lebih dari itu supaya untung,” ungkap H Usman. 
 
Sementara pembudidaya ikan nila khusunya di darah Lampu bernasib sedikit lebih baik. Pasalnya, ketika harga pakan dan Saprodi lainnya naik, harga ikan ikut terkerek naik. Seperti diakui Pembudidaya Nila Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Ranau, Lampung Barat, Roni Arsya, pada tahun 2021 terjadi kenaikan harga pakan hingga 5 kali, totalnya Rp 900/kg. Lalu pada tahun 2022 ini kenaikannya sudah 3 kali dengan total Rp 700/kg. Sementara harga jual ikan nila juga sudah naik tiga kali dari Rp 19.700/kg menjadi Rp 25 ribu/kg.
 
“Kami pembudidaya ikan memahami terjadinya kenaikan harga pakan sebagai dampak dari pandemi dan ekonomi global. Harga benih juga mengalami kenaikan dampak kenaikan harga pakan. Saat ini biaya produksi ikan sudah naik menjadi Rp 19.700/kg. Jadi tetap ada keseimbangan, karena beriringan dengan kenaikan harga jual ikan,” jelas Roni.
 
Kualitas Pakan
Para pembudidaya jelas tidak bisa berbuat banyak terkait kenaikan harga pakan ini. Namun menurut H Usman, dengan tingginya harga pakan yang terjadi saat ini, para pembudiday menuntut pula pihak produsen untuk memproduksi pakan dengan kualitas yang baik. “Jangan sampai harga yang sudah naik terus seperti ini malah kualitas pakan menurun,” tegasnya.
 
Ia berbicara berdasarkan pengalamannya pada tahun 2021 lalu, ketika harga pakan yang mungkin sudah harus naik namun ditahan oleh pabrikan korbannya adalah kualitas pakan turun. Dampaknya langsung terjadi pada pembudidaya. Dimana target panen molor, yang seharusnya 12 minggu menjadi 15 - 16 minggu pemeliharaan. 
 
Belum lagi daya tahan ikan yang menurun, hal ini belum terjadi sebelumnya, dimana pakan yang dirasa dengan kualitas baik hujan dan panas ekstrem pun lele tidak terjadi apa-apa. Namun, Ketika tahun lalu lele cenderung mati. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 120/15 Mei - 14 Juni 2022

 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain