Jumat, 15 April 2022

Beramai-Ramai Budidaya Lele di ‘Lahan Tandus’

Beramai-Ramai Budidaya Lele di ‘Lahan Tandus’

Foto: Dok. Ning - Denpasar


Pengenalan dan pengembangan budidaya lele oleh masyarakat di Nusa Penida berjalan semakin intens 
 
Pagi itu, untuk pertama kalinya, Kelompok Masyarakat (pokmas) SukaDanta Organic Farm yang berada di Br Tengaksa, Desa Klumpu, Nusa Penida-Bali akan panen perdana ikan lele di areal lahan pembelajaran. Wajah-wajah anggota pokmas pun terlihat sumringah.
 
Di luasan sekitar 8 are itu, terdapat kolam penampungan air diisikan lele yang akan panen, Disamping kolam penampungan berisi lele, sejauh mata memandang akan dimanjakan oleh segar dan hijaunya sayur mayur, pare, labu, terong yang bergelantungan, cabai yang buahnya lebat serta deretan bunga gumitir/ marigold oranye yang semarak. Di lokasi pembelajaran ini juga dibangun rumah pembibitan, kandang sapi kolektif, instalasi pengolahan kompos dan pupuk organik cair, serta bale-bale untuk bersantai. 
 
“Di sini kami panen sayur mayur, bunga mitir setiap hari. Juga lele yang baru mulai,” ujar I Made Suka, Sekretaris pokmas SukaDanta Organic Farm ketika menerima rombongan tetamu dari Global Environment Facility (GEF) beberapa waktu lalu. 
 
Bikin Kolam Penampungan, Bonusnya Lele
Cerita adanya kolam lele di ‘atas’ (penyebutan untuk wilayah Nusa Penida yang berada di dataran lebih tinggi), terus menyebar. Semua itu tak luput dari peran masing-masing anggota pokmas SukaDanta Organic Farm untuk terus berbudidaya. 
 
Tak hanya di lahan pembelajaran, kini model serupa terus diduplikasi di lahan masing-masing anggota pokmas. Mereka berkebun organik sambil memelihara lele. Kolam lele pun berfungsi tak hanya sebagai kolam penampungan air, tetapi juga penampungan gizi dan tabungan keluarga.
Kepala lingkungan Br Tengaksa, Desa Klumpu, Ketut Komang, mengatakan jika aktivitas yang dilakukan di lahan pembelajaran tersebut juga diikuti oleh anggota pokmas lainnya.  Yaitu, berkebun dan memelihara lele di kolam-kolam terpal. 
 
Ia sendiri membuka kebun seluas 7-8 are. Ia tanami beragam jenis sayur mayur dan bunga gumitir dan juga membuat kolam penampungan yang diisi ikan lele. “Sejak tiga bulan lalu, saya buat kolam penampungan air dengan menggali batu-batu gamping,” ujarnya. 
 
Komang bersikukuh membangun kolam agar tanamannya tetap segar dan menghasilkan saat musim kering. “Awalnya kolam ini untuk penampungan air untuk penyiraman tanaman saat musim kering. Lalu kami coba dengan diisi lele, eh hasilnya bagus. Jadinya keterusan. Air kolamnya kita pakai untuk nyiram tanaman dan bikin tanaman sehat, bonusnya lele untuk lauk pauk dan tabungan anak-anak. Hehe,” ujar Komang seraya tertawa. 
 
Lahan tempat Komang bercocok tanam terbilang susah air. Selama ini, warga sekitar hanya mengandalkan hujan yang turun pada saat musim hujan untuk bercocok tanam maupun mencukupi kebutuhan air harian. Air hujan ditampung airnya di cubang atau gumbleng_tempat penampungan air hujan khas Nusa Penida. 
 
“Sekarang, sudah ada air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Tapi kendalanya kalau kita pakai untuk pertanian, mengandung kaporit. Jadilah kami mengantisipasinya dengan menebar lele,” terang Komang. 
 
Komang membangun kolam berukuran 2x4x1 meter (m). Untuk uji coba pertama, ditebar benih lele jenis sangkuriang ukuran 6 cm sebanyak 700an ekor. Walhasil, 3,5 bulan kemudian, ikan-ikan tersebut sudah bisa dipanen dan diburu warga. 
 
“Setelah besar, ternyata banyak masyarakat yang melirik. Astungkara, waktu panen pertama laris manis. Bahkan kita kekurangan,” terang Komang. Dari sini, Komang semakin yakin dan semangat mengembangkan pertanian organik dengan menanam beragam jenis sayuran, bunga mitir juga membudidayakan lele. 
“Nah dari situlah, kebetulan kebun sekitar 7-8 are sudah mulai menunjukkan hasil. Saya berpikir untuk bikin kolam dan menghasilkan lele ini bisa balik modal dan untung. Jadi ya kenapa enggak kita kembangkan,” tegas Komang. 
 
Dari 700 bibit lele yang ditebar, setidaknya Komang bisa memanen lele siap konsumsi sekitar 70an kg. Harganya, Rp. 25 ribu/kg. “Untuk promosi, panen perdana kita bandrol di harga dua puluh ribu per kilo. Orang langsung nyari lima kilo, dua kilo. Habis. Selanjutnya, kita coba harga normal di angka 25 ribu, kewalahan,” kata Komang. 
 
Hal senada juga diungkapkan Suka. Animo masyarakat sekitar terhadap lele ini cukup tinggi. “Mungkin karena selama ini kami di sini kan biasa konsumsi ikan laut. Begitu ada lele, orang penasaran. Lalu, begitu tahu rasanya, ditambah sambal, wah tambah ketagihan,” tambah Suka yang memanen lelenya di usia 2 bulan. 
 
“Karena keburu kepingin. Dua bulan sudah dipanen. Ada yang satu kilo isi dua belas, sepuluh, enam. Belum stabil,” terang Suka. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 119/15 April - 14 Mei 2022
 

 
Aqua Update + Andalan Air Tawar + Cetak Update +

Artikel Lain