Jumat, 15 April 2022

Budidaya Udang Kolam Bundar Kian Dilirik

Budidaya Udang Kolam Bundar Kian Dilirik

Foto: 


Digadang dengan sistem high tech, tambak kolam bundar dipilih dengan alasan kepraktisan lahan, modal, serta berteknologi up-to-date
 
Layaknya kawan akrab, hubungan itulah yang tergambar antara budidaya udang vannamei dengan ragam inovasinya. Dalam data yang dirilis Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo-Jawa Timur, tambak digambarkan sudah karib dengan segala aplikasi teknologi visioner. 
 
Contoh terbaru, adalah melalui tambak udang kolam bundar. Tren ter-up-to-date satu ini dibangun mulai dari konstruksi dilengkapi central drain (pembuangan air terpusat), bahan kolam berbahan plastik, kincir untuk membantu aliran air kolam, pengukuran kualitas air dan pemberi pakan digital, hingga teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
 
Mulai Menjamur
Di kalangan petambak sendiri, sebenarnya aplikasi tambak udang kolam bundar belum sepenuhnya digital. Yang acapkali, baru mengedepankan prinsip ‘efektifkan’ lahan tak terpakai. Seperti diungkapkan Rizki Darmawan, petambak di Sidoarjo-Jatim dan Sumbawa-Nusa Tenggara Barat.  
Ia membangun kolam bundar berukuran diameter 20 m. "Kami memutuskan mencoba kolam bundar dikarenakan masih ada sedikit lahan yang tersisa. Daripada tidak diefektifkan, lebih baik kami memanfaatkannya,” ucapnya kepada TROBOS Aqua.
 
Ia juga mengatakan alasannya menerapkan sistem kolam bundar. Karena, terang Ketua Petambak Muda Indonesia (PMI) ini, di negara-negara lain juga sudah banyak yang mengadopsi tambak kolam bundar. 
 
Sementara di lokasi lain, juga sudah menjamur tambak dengan sistem kolam bundar. Seperti dilakukan Gatot Ardian bersama rekan-rekannya sesama pembudidaya di kawasan Tuban-Jawa Timur (Jatim). Mereka menggulirkan tambak udang kolam bundar dengan diameter 10 m dan padat tebar antara 300 - 400 ekor/m2. 
 
“Awalnya itu kita dari diskusi dan dapat inspirasi tambahan dari kolam lele bundar. Akhirnya kita coba dari 2020 lalu dan bekerjasama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Tuban untuk membuat 4 kolam bundar,” ungkap Gatot.
 
Dia menambahkan, motif membuat usaha udang dengan kolam bundar ini dari diskusi agar pembudidaya bermodalkan di bawah Rp 500 juta bisa masuk. Khususnya bagi para lulusan sekolah yang belum punya modal besar. 
 
“Rata-rata kan untuk lahan seluas 1 ha saja sudah keluarkan modal hingga Rp 1 miliar. Muncullah gagasan dari diskusi bersama teman-teman Brawijaya (Universitas Brawijaya/UB Malang) kolam untuk pengganti tambak,” tambah lulusan perikanan UB ini. 
 
Sementara di Lampung, juga sudah banyak petambak berbudidaya di kolam bundar. Menurut penggiat budidaya udang kolam bundar Muhammad Arief, budidaya ini sudah berkembang di Kabupaten Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Pesisir Barat. 
 
Di usaha ini, Arief bersama pamannya mulai membangun kolam bundar di samping rumah pamannya di Desa Pasir Sakti, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur sejak 2017 silam. Saat ini terdapat 5 kolam yang sudah beroperasi, 3 kolam di antaranya berdiameter 8 m dan ketinggian air 1,5 m dan sisanya 2 kolam berdiameter 5 m. Kolam berdiamater 8 m diisi 15 ribu ekor benur dan yang 5 m diisi 10 ribu ekor benur. Saat ini kelima kolam bundar tersebut sudah memasuki siklus keenam.
 
Dari pengalamannya budidaya udang di kolam bundar, Arief pun memiliki pendapat serupa dengan Rizki maupun Gatot. Baginya, kolam bundar cocok untuk petambak skala kecil dan menengah. “Yang lahannya terbatas yang mau diurus sendiri atau memiliki tenaga kerja beberapa orang saja,” jelasnya.
 
Prinsip efektif di lahan terbatas dengan kolam bundar pun diterapkan Brian Jonathan, petambak di Bangka Belitung. “Kita juga ada yang bikin kolam bulet (bundar). Sebenarnya, gara-gara tanah sisa, ya daripada gak tahu mau diapain. Terus, sekalian kita coba tes kolam bulet,” ungkap Brian yang sebelumnya sudah bertambak di lahan bersegi di daerah Bakit, Bangka Barat.
 
Sekarang, petambak berusia 27 tahun ini, sudah membuat sekitar 7 kolam dengan diameter bervariasi, yaitu antara 15 - 23 m. Untuk penebaran benur baru akan ia lakukan pertengahan Maret lalu dengan padat tebar 250 ekor/meter persegi (m2) di kedalaman air 1,2 - 1,3 m. 
 
Yang juga baru mau mengaplikasikan tambak udang kolam bundar adalah Soleman D Lullulangi, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Kabupaten Kaur- Seluma-Bengkulu masa bakti 2021 - 2026. Ia membangun kolam bundar di daerah Batik Linau, Kabupaten Bengkulu Utara pada lahan seluas 15 ha. Sebanyak 7 kolam sudah ditebar benur sejak pertengahan April lalu.
 
Di sisi pemerintah pun melabeli sistem budidaya ini dengan bertambak ‘gaya’ milenial. Supito Sumarto, Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara-Jawa Tengah menjelaskan, konsep tambak model bundar, atau dipopulerkan pemerintah dengan istilah MSF (Milennial Shrimp Farming) untuk memberikan gambaran kondisi tambak udang yang baik, bersih, dan produktif. Sehingga, bisa menarik minat anak muda dari sekolah/universitas perikanan atau jurusan lainnya.
 
Pertimbangan Lokasi
Untuk teknis budidaya kolam bundar, Rizki Darmawan memberi gambaran. Pertama, adalah penentuan lokasi. Ketika memulai bangun kolam bundar, ucap Rizki, hanya dibutuhkan tempat yang rata. "Saya rasa kolam bundar ini sangat cocok diterapkan pada lahan yang keras. Apabila dibuat kolam konvensional maka harus menggunakan breaker," kata Rizki. 
 
Soleman juga memberikan suara terkait kriteria lokasi lahan/tanah. “Jika digali, akan kesulitan untuk pembuangan air atau letak tanah sama tinggi dengan permukaan air. Dengan dibangun kolam bundar di atas permukaan tanah, maka akan memudahkan untuk pembuangan air,” ucapnya.
 
Supito pun menerangkan bahwa semua lahan bisa digunakan utuk pembuatan tambak MSF. “Kriteria lahan adalah elevasi lahan di atas rata-rata surut, sehingga pembuangan air dapat dilakukan secara gravitasi. Serta mendapat sumber air payau  salinitas lebih dari 15 ppt,” ungkap Supito.
 
Boyun Handoyo, Kepala BPBAP Situbondo pun menambahkan terkait lokasi budidaya. Dimana untuk luasan kawasan, sebaiknya di atas 3 ribu m2 bagi skala rumah tangga. “Selain ada sumber air payau/laut, lokasi tersebut juga terdapat saluran pembuangan, serta sesuai dengan peruntukan lahan untuk kegiatan perikanan budidaya,” imbuhnya. 
 
Untuk bahan pembuatan kolam berspesifikasi diameter 20 dan tinggi 1,5 m; sebut Boyun, pihaknya memakai plastik terpaulin atau HDPE (High Density Polyethylene/polietilena berdensitas tinggi). Kerangkanya, berbentuk kerangka melingkar dari besi wiremesh. 
 
Memakai terpal sampai 6 siklus sekarang juga diterapkan Muhammad Arief. “Namun, sekarang lagi persiapan mau ganti plastik dari sebelumnya terpal ke ‘orchid’. Kualitasnya lebih baik dibandingkan terpal, namun harganya di bawah plastik HDPE. ‘Orchid’ ini cocok untuk kolam diamater 20 m ke bawah,” ujar Arief.
Menurut jebolan FMIPA Biologi Unila tahun 2002, Program Studi Pengembangan Sumberdaya Perairan tersebut, kalau HPDE lebih cocok untuk kolam bundar diameter 30 m ke atas. Karena, HDPE lebih tebal dan awet sehingga pemakaiannya bisa lebih lama. “Hanya harga per meternya lebih mahal ketimbang ‘orchid’, apalagi terpal,” ungkap Arief.
 
Sementara Gatot Ardian bersama rekan-rekan pembudidayanya sepakat untuk memakai HDPE sebagai bahan kolam bundar. “Dari hasil diskusi kita, dari awal sampai siklus 8 sekarang kita pakai HDPE,” tuturnya.
 
Sistem Budidaya
Sistem yang digunakan di kolam bundar, khususnya di BBPBAP Jepara, terang Supito, berspesifikasi diameter 20 m (luas 3,14 m2) dengan ketinggian air 1 - 1,2 m. “Ukuran tersebut sangat ideal dengan penggunaan kincir 2 unit per petak. Ukuran petak yang terlalu kecil diameternya akan tidak efisien dengan penggunaan peralatan dan pemanfaatan lahan,” bebernya.
 
Padat tebar tambak MSF yang di Jepara, ucap Supito, adalah 350 - 370 ekor/m2.  Dalam pengelolaannya, dia menekankan, harus selalu memperhatikan kualitas air, kesehatan, dan laju pertumbuhan udang. Pada unit budidaya terdapat petak tandon air utuk perbaikan air sumber.
“Dari hasil kajian, setiap sudah mencapai biomassa 1.000 - 1.200 kg, dilakukan panen parsial sebanyak 25 - 30 % atau sekitar 250 - 300 kg/petak.  Selama 1 siklus dapat dilakukan panen parsial hingga 4 kali. Produksi yang dihasilkan adalah 1.800-2.000 kg per petak dengan ukuran petak bulat 314 m2 (diameter 10 m),” papar Supito.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 119/15 April - 14 Mei 2022

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain