Selasa, 15 Maret 2022

Pensiun Dini demi Edukasi Lele Bersih

Budidaya lele dengan konsep higienis bukan sekedar ingin menaikan harga, melainkan tanggung jawab moral terhadap konsumen akhir.
 
Tatkala tim TROBOS Aqua tiba siang itu, Arika Bachtiar bersimbah keringat di tengah kolam-kolam budidayanya. Ia merupakan pembudidaya lele segmentasi pendederan, pembesaran, sekaligus olahan ikan lele di daerah Bogor-Jawa Barat (Jabar). 
 
Yang menjadi keunikannya, budidaya lele yang ia jalankan berada di tengah-tengan kompleks perumahan warga. Hanya dengan lahan seluas 120 meter persegi (m2), ia bisa memproduksi lele secara rutin 2-3 kuintal lele per bulannya. Ditambah lagi dengan target olahan lele bumbu kuningnya 20 kilogram (kg) per hari. 
 
Menjawab Tantangan
Di tengah kesibukannya, Arika, panggilan akrabnya, sempatkan diri untuk berbagi cerita pengalamannya dalam menjalani usahanya hingga di posisi saat ini. Singkat cerita, ia beberkan, sekitar 10 tahun lalu ada progam pensiun dini di tempatnya bekerja, satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta. 
 
Ia pun memutuskan berhenti bekerja. Ditambah, seringkalinya ia melihat budidaya lele di belakang komplek perumahannya, mendatangkan inspirasi usaha budidaya lele dengan konsep yang berbeda.
 
“Pada saat itu, budidaya lele yang dilakukan di belakang kompleks perumahan kurang higienis. Pakan yang diberikan ke lele menggunakan limbah ayam dan lainnya,” cerita Arika. Ia lantas mulai berpikir, apakah memang benar adanya usaha lele seperti itu, ia bertanya dalam hati.
 
Dari situ muncullah ide untuk melakukan usaha budidaya lele yang higienis. Tujuannya, membuat orang yang tidak suka lele bisa menjadi suka. Kemudian, ia ingin mengubah pola pikir masyarakat bahwa budidaya lele itu bisa dijalankan dengan bersih dan tanpa menimbulkan bau tak sedap. 
 
Untuk menambah dasar ilmunya, ia pun mengikuti pelatihan lele. Mengingat, latar belakang yang ia miliki bukan bidang perikanan. Kemudian, Arika mencari peyelenggara pelatihan budidaya lele sebelum memulai usaha. “Setelah mengikuti pelatihan budidaya lele di Depok (Jabar), saya semakin optimis dan merasa yakin memulai usaha lele dengan konsep dasar higienis sekitar 10 tahun lalu,” ucapnya yang berlatar belakang pendidikan elektro ini.
 
Setelah mengembangkan usaha budidayanya, ia pun menceritakan pengalamannya terjun ke dunia olahan lele. “Awalnya, saya bingung menjual lele ketika baru memulai usaha. Mungkin merupakan petunjuk Sang Kuasa mengarahkan untuk terjun ke olahan lele,” beber Arika kepada tim TROBOS Aqua. 
 
Di awal memulai usaha ketika itu, ia menebar benih sebanyak 2.000 ekor. Kemudian, ia bingung mau jual kemana lele yang siap ia panen sebanyak 1,5 kuintal. Dengan terpaksa, ia coba menawar-nawarkan teman-teman untuk membeli lele hasil panennya. Di perjalanan penjualan ini, ia menemui beragam permintaan.
“Ada yang minta 1 kg isi 6 (ekor), isi 10, minta dibersihkan isi perutnya, hingga ada yang minta dibuang kepalanya,”ungkap Arika siang itu. Sambungnya, dan ada juga yang minta diolah lebih lanjut seperti pepes lele dan lele bumbu. Seiring perjalanannya, ternyata permintaan lele tanpa kepala, bersih isi perutnya, serta dibumbu kuning dan dibekukan semakin tinggi. 
 
Dengan variasi permintaan seperti itu, ia ungkapkan, menjadi motivasi dan seolah ditantang untuk menjual beragam bentuk olahan lele. Menjawab tantangan tersebut, hampir sekitar 60% hasil produksi yang pertama ia jual dalam bentuk olahan bumbu kuning. Dan ia kemudian memutuskan bahwa, tantangan ini bisa menjadi peluang menaikkan nilai jual tanpa harus menjual ke tengkulak.
 
Melihat hal tersebut, maka fokuslah ia ke olahan dan coba memproduksi secara rutin agar hasil panen awal bisa habis terjual tanpa melalui tengkulak. “Sejak awal budidaya lele, khususnya untuk segmen pembesaran selama ini, saya tidak pernah menjual ke tengkulak. Walaupun ada (jual) lele hidup eceran, saya juga jual olahan agar harga lebih tinggi,” pungkasnya.
 
Hingga saat ini, 80% lele hasil budidaya ia jadikan lele olahan. Sisanya dibeli oleh warga seharga eceran ikan segar. “Manfaatkan peluang yang ada untuk menambah nilai jual lele yang diproduksi. Di samping itu, dengan variasi penjualan, beban biaya pelet yang berat bisa diminimalisir,” ia berikan tips.
 
Edukasi ke Masyarakat
Hingga berjalannya waktu, perlahan-lahan warga dan masyarakat sekitar pun memperhatikan usaha budidaya yang dilakukannya. Sehingga, menimbulkan rasa ingin tahu mengenai lele yang ia pelihara. 
 
Ada pengalaman menarik dari sini, ujarnya. “Tetangga di sekitar lokasi usaha saya, mereka satu keluarga tidak menyukai lele karena rumor lele jorok yang beredar. Dan mereka pernah melihat cara budidaya lele yang jorok. Namun, setelah melihat proses budidaya lele yang saya lakukan, satu keluarga tersebut malah mau membeli. Per setiap kali pembelian, bisa mencapai 10 boks lele untuk stok,” urai laki-laki kelahiran Sukabumi-Jabar ini.
 
Ia jelaskan, proyeksi lele seperti inilah yang menjadi tujuan usaha sejak awal. “Untuk edukasi mengenai budidaya lele yang bersih, sehingga menarik minat masyarakat mengkonsumsinya,” terangnya yang kelahiran 21 September 1971 ini. 
 
Selanjutnya, tak hanya warga dan masyarakat sekitar saja yang ia edukasi. Ia pun memberikan edukasi kepada pembudidaya mengenai budidaya lele bersih. Caranya, dengan menjalin kemitraan. Yaitu, ia beli hasil produksi mitranya dengan harga yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pangsa pasar olahannya. 
“Karena lahan budidaya terbatas produksinya, maka saya jalin mitra dengan beberapa pembudidaya. Namun dengan catatan, budidaya dilakukan menggunakan pakan berupa pelet, serta manajemen airnya baik. Dan nantinya saya tampung hasil produksinya dengan harga yang lebih baik, yakni Rp 19 ribu per kg,” beber Arika yang sudah sekitar 10 tahun terakhir menjalani usaha ini. 
 
Menggunakan pelet, ia paparkan alasannya. Satu sisi dari bisnis, dengan pelet dan manajemen air yang baik, semua biaya serta target panen terukur. Di sisi lain, tanggung jawab moral kepada konsumen pun terjaga. Yaitu, untuk menghasilkan lele dari budidaya yang baik kehigienisannya.
 
“Sebab, jika dilakukan sebaliknya, lele dengan pakan limbah sedikit banyaknya akan berakibat pada konsumen akhir nantinya. Maka dari itu, marilah berbudidaya lele dengan pakan yang seharusnya,” ajaknya. 
 
Sabar dan Jangan Buru-Buru
Dengan pengalaman usahanya ini, ada prinsip menarik yang ia pelajari. Dimana, ia dapatkan ilmu sabar dari siklus kedua budidayanya. Ketika itu, setelah berhasil mengembangkan inovasi penjualan, ia lantas merasa telah ceruk usaha yang bagus. 
 
Lantas, di produksi kedua, ia menaikkan jumlah benih yang ia tebar. “Karena nafsu dan terburu-buru ingin segera menaikkan volume, maka di siklus kedua saya beli bibitnya 12 ribu ekor,” ceritanya.
 
Lain dari keinginan, ternyata di perjalanannya hampir semua benih mengambang, dan kemudian mati perlahan. Karena menurut Arika, waktu itu ia belum begitu tahu mengenai kontrol kualitas air dan pakannya. “Jadi, untuk para pemula yang ingin memulai budidaya lele sebaiknya mempelajari dulu berbagai hal dasar, dan jangan langsung bermain di skala besar,” himbaunya.
 
Segudang pengalaman ini ia rangkumkan dalam pesan bermakna. Dimana, usaha budidaya dengan edukasi ini ia sandarkan pada prinsip kejujuran sehingga konsumen akhir bisa percaya. Serta, dalam memelihara lele itu benar membutuhkan kesabaran dan tidak boleh tergesa-gesa. “Dalam menjalankan usaha budidaya lele, perlu kejujuran dan kesabaran,” pesannya.Trobos/rizki 
 

 
Aqua Update + Siapa Dia + Cetak Update +

Artikel Lain