Selasa, 15 Maret 2022

Ade Sunarma: Lambatnya Inovasi Pembesaran Lele

Perkembangan inovasi atau penelitian bidang budidaya lele melambat di 3 tahun terakhir ini
 
Budidaya ikan lele tidak ada matinya selagi pecel tele masih bebas berjualan di pinggir jalan. Itu adalah salah satu kalimat yang menggambarkan permintaan akan ikan lele saat ini. Seperti yang kita ketahui, permintaan akan lele selalu meningkat di pasaran setiap harinya. Lalu bagaimana caranya untuk memenuhi permintaan tersebut?
 
Banyak cara yang dilakukan oleh pembudidaya, praktisi perikanan, maupun pemerintah guna meningkatkan produktivitas budidaya lele demi memenuhi permintaan pasar. Namun sebagaimana yang kita ketahui, dua atau tiga tahun terakhir dikegiatan pembesaran lele sendiri belum ada pembaruan inovasi dalam sistem budidayanya. 
 
Sampai saat ini, terdapat beberapa sistem budidaya yang dikenal oleh pembudidaya, diantaranya yaitu sistem ekstensif, semi intensif, dan intensif. Tetapi jika kita melihat realita di lapang, pembudidaya lele masih jarang yang menggunakan sistem intensif.
 
Mengapa demikian? Kalau kita tela’ah, perbedaan antara sistem intensif dan semi internsif dibudidaya lele tidak terlihat jelas. Beda halnya dibudidaya udang, antara intensif dan semi intensif sangat jelas pembatasnya. Dimulai dari padat tebar, teknologi yang digunakan, namun untuk pakan relatif sama. 
 
Maka dari itu, biasanya di lapangan, pembudidaya lele hanya menyebutkan sistem padat tebar biasa dan padat tebar tinggi. Dikatakan padat tebar biasa, karena dalam kegiatan budidayanya hanya menggunakan kepadatan dikisaran kurang dari 300 ekor per m2. Sebaliknya untuk padat tebar tinggi.
 
Lalu bagaimana dengan bioflok? Ya bioflok merupakan inovasi yang cukup banyak digunakan oleh pembudidaya-pembudidaya modern masa kini. Sistem budidaya sekarang relatif belum ada perkembangan baru setelah eranya bioflok. 
 
Menurut buku saku yang dikeluarkan oleh Direktorat Produksi dan Usaha Budidaya 2017, bioflok berasal dari kata “bios” yang memiliki arti kehidupan dan “flok” yang bermakan gumpalan. Jadi pengertian dari bioflok adalah kumpulan dari berbagai organisme (alga, jamur, protozoa, dan lain-lain) yang bergabung dalam gumpalan (flok).
 
Dalam penerapan teknologi bioflok ini, pembudidaya lele umumnya menggunakan kontruksi kolam yang terbuat dari tanah, terpal, beton, dan fiber. Nah saat ini yang sedang berusaha untuk dikembangkan yaitu bisnis budidaya menggunakan teknologi bioflok di bak bundar. Hasilnya dari uji coba tersebut masih memerlukan waktu untuk pembuktiannya, apakah efisien dan mengguntungkan atau malah sebaliknya.
 
Analisis Bisnis
Seiring waktu, semakin tingginya permintaan ikan lele membuat peluang bisnis budidayanya semakin terbuka luas. Banyak orang yang memiliki modal besar, berlomba-lomba menerapkan sistem budidaya intensif di pembesaran lele. Dimana, semakin intensif suatu sistem budidaya maka akan semakin banyak modal yang dibutuhkan. Mengapa para investor tetap tergiur untuk menerapkan sistem intensif? 
 
Tidak lain dan tidak bukan, mereka beranggapan akan mendapatkan laba yang besar jika menerapkan sistem tersebut. Nyatanya tidak begitu. Disini, mari kita samakan anggapan terlebih dahulu, budidaya sistem intensif adalah budidaya dengan padat tebar tinggi. Pada budidaya menggunakan padat tebar yang tinggi akan lebih banyak membutuhkan biaya operasional, karena membutuhkan benih dalam jumlah yang lebih banyak dan pakan yang lebih banyak pula.
 
Tapi kalau ditinjau dari segi produktivitas, artinya biaya operasional persatuan hasil, pada dasarnya padat tebar tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan yang tinggi pula. Karena akan dipengaruhi dengan performa budidayanya.
 
Apabila mengenai biaya produksi dibandingkan hasil panen, bisa saja antara kolam yang menggunakan padat tebar tinggi dan padat tebar biasa, sama-sama mendapatkan hasil yang seimbang. Misalnya sama-sama mendapatkan hasil 50 % dari modal.
 
Sebagai gambaran, pembudidaya A menggunakan padat tebar tinggi di kolam miliknya, ia menebar benih sebanyak 10 ribu ekor benih, menghabiskan modal Rp 5 juta, ketika panen, pembudidaya tersebut mendapatkan uang sebesar RP 10 juta dari hasil menjual ikannya. Sementara itu, pembudidaya B menggunakan padat tebar biasa, ia menebar benih hanya sebanyak 1.000 ekor, modal yang dihabiskan sebanyak Rp 500 ribu dan ketika panen, uang yang didapatkan sebanyak Rp 1 juta. Jika dihitung, keuntungan yang didapatkan keduanya akan sama, sama-sama 50 % dari modal yang digunakan.
 
Sebagai gambaran lain, pembudidaya A menebar benih sebanyak 200 ekor per m2. Jika dibanding dengan pembudidaya B yang menerbar benih sebanyak 500 ekor per m2. Tentu keuntungan yang menebar 500 per m2 akan lebih besar. Maka dari itu, perlu dilihat keuntungannya dilihat dari sisi apa. Kalau dilihat dari sisi mutlak memang padat tebar tinggi lebih menguntungkan tapi kalau dihitung relatif belum tentu. 
 
Selain sistem budidaya, hal lain yang mempengaruhi biaya produksi dalam budidaya yaitu lokasi budidaya. Pembudidaya A dan B, sama-sama melakukan budidayanya di Bogor-Jawa Barat akan mengalami perbedaan biaya produksi. Diakibat pembudidaya A lokasinya di Ciseeng-Bogor dan pembudidaya B di Ciampea-Bogor. Bisa saja karena perbedaan lokasi tersebut maka berbeda pula harga benih dan pakan.
 
Karena lokasi pembudidaya A dekat dengan sentra pakan dan benih, maka harga item tersebut didapatkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan pembudidaya B. Jadi, biaya produksi akan berbeda antar satu lokasi dan lokasi lainnya. Dan juga, apabila lokasi budidaya jauh dari tempat pemasaran hasil panen pun akan berimbas ke biaya produksi. Karena dibutuhkan biaya transportasi untuk mendistribusikan hasil panen tersebut.
 
Masalah Budidaya Lele
Tidak ada kegiatan yang tidak terdapat masalah dalam menjalaninya, begitunya dengan pembesaran lele. Masalah pertama yang kerap terjadi di pembudidaya yaitu ketersediaan benih yang memiliki ukuran dan umur yang sama. Jika lokasi budidaya berdekatan dengan sentra produksi benih, mungkin tidak ada masalah, karena ketersediaan benih akan selalu ada. Yang jadi masalah adalah jika lokasi budidaya jauh dari sentra produksi.
 
Masih sama dari waktu ke waktu, masalah yang kedua yaitu di pakan. Ini sebenarnya masalah klasik, karena dari dulu harga pakan secara terus menerus mengalami kenaikan. Semantara harga ikan kenaikannya tidak seagresif dengan kenaikan harga pakan.
 
Masalah selanjutnya yang terjadi di pembesaran lele adalah pasar. Lagi-lagi, jika lokasi budidaya yang kita miliki berdekatan dengan sentra produksi, maka harga penjualan bisa bersaing sehat. Tapi kalau jauh dari sentra produksi apalagi jauh dari perkotaan, maka harga pembelian ke pembudidaya akan jadi lebih rendah. Hal tersebut dikarenakan adanya biaya transportasi yang dibutuhkan. 
 
Maka dari itu, jika ingin melakukan kegiatan budidaya dengan segmen pembesaran, akan lebih baik berlokasi yang tidak jauh dari pasar. Dan juga berdekatan dengan sentra produksi, sehingga mampu saling bantu dan penyeragaman harga. 
 
Terdapat satu masalah lagi di kegiatan pembesaran yaitu penyakit ikan. Dipembesaran lele, masalah penyakit umumnya akan terjadi pada dua minggu pertama masa pemeliharaan. Penyakit tersebut biasanya disebabkan oleh penanganan benih yang salah. Penanganan benih yang dimaksud yaitu mulai dari sortir benih di lokasi pembenihan hingga transportasi bahkan sampai ke penebaran benih. Benih mengalami luka-luka merupakan salah satu dampak yang bisa disebabkan oleh penanganan yang salah Kalau sudah masuk ke proses budidaya, penyakit yang kerap menyerang yaitu borok atau luka yang disebabkan oleh Aeromonas sp.
 
Jika diringkas maka masalahnya yaitu ketersediaan benih, harga pakan yang terus naik, penyakit, dan ketersediaan pasar. Memang pasar memerlukan ketersediaan lele berukuran konsumsi dalam jumlah yang banyak. Tapi harga yang ditawar belum tentu sesuai dengan harga yang diinginkan oleh pembudidaya.
 
Perekayasa di BBPAT Sukabumi 
 
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain