Selasa, 15 Maret 2022

Padat Tebar Optimal, Hasil Maksimal

Padat Tebar Optimal, Hasil Maksimal

Foto: Dok. TROBOS Rizki


Bukan semakin tingginya padat tebar budidaya lele yang dilakukan, melainkan seberapa optimalkah padat tebar yang diterapkan, sehingga berdampak maksimal pula hasil yang diperoleh.
 
Semakin berkurangnya lahan peruntukan budidaya ikan mendorong pembudidaya kian mengoptimalkan lahan yang digunakannya. Dengan demikian, hasil budidaya yang diproduksi lebih maksimal, baik dari sisi pemanfaatan lahan hingga ke laba yang diperoleh pembudidaya.
Salah satu komoditas yang memiliki produktivitas tinggi adalah ikan lele, namun dengan berkembangnya sistem budidaya lele segmen pembesaran yang ada. Membuat beragam pula padat tebar lele yang digunakan masing-masing pembudidaya. Dengan demikian beragam pula hasil yang diperoleh atas masing-masing sistem yang digunakan.
 
Tantangan Budidaya
Diwawancarai TROBOS Aqua belakangan ini, Dedy Hermansyah selaku Farm Manajer di PT Indosco Dwi Jaya Sakti yang bergerak di bidang lele segmen pembesaran di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) mengatakan, dengan keberagaman sistem budidaya lele khususnya segmen pembesaran tidak serta merta mudah diaplikasikan di masing-masing lokasi. 
 
Perlunya banyak pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan oleh calon pembudidaya ataupun pembudidaya yang ingin mengaplikasikan sistem budidaya yang akan ditiru. “Kita harus melihat kemampuan sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung budidaya, serta keadaan geografis di daerah yang mana konsep atau sistem yang akan dikembangkan ini diterapkan. Sehingga teknologi  yang nantinya diterapkan lebih tepat sasaran sehingga tidak mubazir (sia-sia) dan pelaku usahanya tidak mengalami kegagalan,” ungkap Pria yang akrab disapa Dedy. 
 
Dedy katakan, banyaknya kegagalan yang terjadi di lapangan ketika mengadopsi suatu sistem budidaya disebabkan pembelajarannya hanya melalu sosial media saja. Kemudian, pada umumnya kegagalan tersebut terjadi pembudidaya pemula. Karena mereka tidak mengkaji lebih jauh bagaimana konsep-konsep dasar lainnya. 
 
Hal serupa dikatakan oleh Susilo Hartoko selaku pembudidaya lele kawakan di daerah Sumedang Jawa Barat. Bahwa pembelajaran yang tidak tuntas dilakukan pemula mengakibatkan kegagalan. Padahal seharusnya ketika menimba ilmu budidaya kepada satu orang atau Lembaga, baiknya calon pembudidaya atau pembudidaya yang mau mengapliklasikan teknologi baru belajar hingga tuntas dengan gurunya. 
 
“Jadi ibarat kita belajar, jika belajar dengan guru A maka tuntaskanlah ilmunya dari awal hingga akhir. Karena yang terjadi saat ini pemula mengambil info dari A, B, dan C. Lalu penerapannya dicampur-campur dari beberapa sumber, hal ini yang menjadikan kegagalan bagi pembudidaya pemula ataupun yang ingin mereplika sistem budidaya baru,” beber Susilo kepada TROBOS Aqua. 
 
Dedy menambahkan, sistem dan teknis budidaya masing-masing daerah pasti berbeda dengan mempertimbangkan banyak hal yang mendukung di lokasi usaha masing-masing. Budi Mulia ikut Technical Support Manager Fish Feed - De Heus Indonesia angkat bicara mengenai perkembangan teknologi budidaya pembesaran lele.
 
Ia sampaikan, seiring dengan informasi di era digitalisasi yang berkembang pesat memicu juga perkembangan ragam budidaya lele yang variatif. Salah satunya perkembangan urban farming (kegiatan berkebun di tengah perkotaan) merupakan respon positif masyarakat terhadap kemandirian ketahanan pangan yang sedang didorong oleh pemerintah.
 
Menurutnya, sistem budidaya yang tepat untuk mencapai produktivitas yang optimal sangat bergantung dengan karakter lokasi dan sumber air dari masing-masing lokasi. Sistem budidaya dengan menggunakan probiotik dan lahan relatif sempit merupakan salah satu pilihan yang dapat diterapkan. 
 
Sistem Intensif
“Untuk padat tebar yang ada di pembudidaya beragam, namun yang kami aplikasikan beserta mitra budidaya adalah 700 – 800 ekor per meter kubik (m3),” ujar Susilo. Pria yang juga ketua bidang lele di Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) gambarkan lebih detil, kolam yang digunakan adalah kolam terpal bundar berdiameter 3 (D3). Kemudian ketinggian air yang diaplikasikan sekitar 90 cm, sehingga total volume air yang diperoleh sekitar 6,3 kubik air.
 
Untuk satu kolam tersebut, benih yang dimasukan sekitar 5.000 ekor lele ukuran 5 - 7 cm. “Jadi jika dibilang padat tebarnya cukup tinggi, namun angka tersebut merupakan angka optimal yang diperoleh dari berbagai riset yang pernah dilakukan,” terang Susilo yang kerap jadi pembicara di beberapa seminar budidaya.
 
Sistem budidaya yang diterapkan, Susilo katakan, adalah sistem bioflok murni. Tentu dengan kepadatan tersebut perlu menggunakan beberapa perlakukan khusus seperti; penambahan suplai oksigen berupa airator (mesin suplai udara ke air), pemberian probiotik untuk menjaga kualitas air, serta pemberian probiotik dicampurkan dengan pakan. 
 
Berbagai pertimbangan teknis, kenapa benih 5 - 7, padat tebar 5 ribu per kolam, aerasi, serta pemberian probiotik sudah melalui riset panjang di lapangan. Selebihnya pembudidaya tinggal menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditentukan, dengan demikian proses budidaya bisa berjalan dengan baik.
 
Mengenai angka, sambungnya, Food Convertion Ratio (FCR) yang diperoleh adalah 1 : 1. Dimana total penggunaan pakan selama masa pemeliharaan sekitar 475 – 500 kg. Tentunya aplikasinya dicampur dengan probiotik dengan tujuan meningkatkan daya kecernaan pakan agar tercapai efisiensi.
 
“Jadi setelah benih masuk hingga 2 minggu pertama tolerasi kematiannya sekitar 3 - 5 % dari total benih yang masuk. Kemudian saat penebaran benih jumlah benih yang ditebar pun dilebihkan sekitar 3 - 5 %. Hal tersebut dilakukan agar target panen 500 – 550 kg bisa tercapai,” gambarnya. 
 
Susilo sampaikan mengenai SOP pemeliharaan, mungkin banyak yang bertanya apakah tidak terlalu padat memasukan benih sebanyak itu dalam satu kolam hingga panen? Jawabnya tidak, karena SOP-nya setelah benih tebar memasuki masa pemeliharaan di 1 bulan dilakukan grading (sortir). 
 
Tujuannya untuk mengambil lele yang ukurannya besar seperti 1 kg isi 8 - 9 ekor yang jumlahnya tidak banyak namun bahaya bisa kanibal. Kemudian memasuki 1 bulan berikutnya panen perdana bisa dilakukan dan biasanya akan terambil sekitar 6 - 9 ekor per kg. Dan terakhir memasuki 1 - 1,5 bulan selanjutnya adalah panen penghabisan. 
 
“Total masa pemeliharaan sekitar 3,5 bulan dari tebar awal, hal-hal tersebut dilakukan guna menekan angka kehilangan akibat kanibal dan lainnya,” ujar Susilo. Serupa tapi tak sama dengan metode pemeliharaan yang dilakukan oleh Dedy. Dimana padat tebar pembesaran yang diterapkan sekitar 5 ribu per kolam.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 118/15 Maret - 14 Februari 2022

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain