Selasa, 15 Pebruari 2022

MAI Kerjasama Akuakultur dengan Norway Connect

MAI Kerjasama Akuakultur dengan Norway Connect

Foto: 


Bersama Norway Connect, MAI berkomitmen dalam program Community Development Enviromental Entrepreneurship Sutainability Aquaculture
 
Indonesia dan Norwegia punya hubungan baik terutama terkait sektor kelautan dan perikanan. Guna mempererat hubungan kejasama tersebut, Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) yang merupakan organisasi profesi akuakultur menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan Norway Connect sebagai organisasi  yang memfasilitasi perusahaan dan pengusaha Norwegia yang akan melakukan bisinis meliputi daerah di Asia Tenggara.
 
Menteri Perikanan dan Kelautan Sakti Wahyu Trenggono hadir menyaksikan penandatangan MoU tersebut. Selain MoU antara MAI dan Norway Connect, dalam acara yang dilaksanakan di Gedung Mina Bahari IV, Kantor KKP, Jakarta Pusat (12/1).
 
Pada acara tersebut turut hadir Prof Rokhmin Dahuri, Ketua Umum (MAI), Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Jari Sinkari, Co-Founder SSI Terje H. Nilsen, dan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia H.E. Rut Krüger Giverin.  Hadir pula para petinggi empat lembaga yang menjalin kerja sama.
 
Dalam acara itu, Trenggono berharap dengan adanya kerjasama ini dapat mendorong inovasi teknologi dan industrialisasi, menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan inovasi bisnis, serta melibatkan kaum muda dalam pembangunan startup. Penandatangan MoU ini merupakan bentuk kerja sama yang dilakukan untuk pengembangan akuakultur di Indonesia.
 
“Dengan ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk memperkuat hubungan antara Indonesia dan Norwegia di bidang kelautan dan perikanan,” ujar Trenggono. Diakuinya Norwegia merupakan suatu negara yang memiliki teknologi di bidang akuakultur yang mumpuni.
 
Dan diharapkan dapat diadopsi serta diterapkan oleh para pembudidaya di Indonesia. Dengan begitu, produk-produk yang dihasilkan dapat meningkat jumlah dan kualitasnya semakin baik. Sementara Rut Krüger Giverin turut mengapresiasi atas kerja sama yang terjalin. “Saya percaya, kesepakatan bersama ini akan membantu peningkatan pengembangan budidaya di Indonesia,” ungkap Rut dalam sambutannya.
 
Ia memastikan bahwa negaranya siap berbagi pengalaman dengan Indonesia, di bidang teknologi, praktik budidaya, maupun pasar. Selain itu, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia itu juga mengungkapkan, peningkatan kerjasama dalam  memenuhi stok kebutuhan ikan ini sangat baik sehingga diharapkan dapat terus memotivasi semuanya untuk lebih mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai industri akuakultur. Diharapkan dengan pengembangan ini dapat menjawab tantangan dalam dunia akuakultur, seperti tentang perubahan iklim dan keseimbangan alam. 
 
“Semoga kerjasama ini tetap terus berlanjut dan berkembang sesuai dengan perencanaan dan tujuan kita dalam mengembangkan penelitian serta bisnis industri akuakultur,” tutup Rut. Dalam acara penandatangan MoU itu, Prof Rokhmin Dahuri berharap Indonesia bisa menjadi produsen akuakultur terbesar dan bisa mengalahkan China.
 
Dengan adanya kerjasama ini, MAI pun berkomitmen mengerjakan program Community Development Enviromental Entrepreneurship Sutainability Aquaculture dengan anggaran sebesar 35 USD. Pada tahun pertama akan berfokus pada komoditas unggulan yaitu ikan kerapu, barramundi, dan udang vannamei secara terintegrasi.
 
Rokhmin mengungkapkan, akan ada dukungan untuk program ekonomi biru, di antaranya yaitu penanam mangrove, rehabilitasi terumbu karang, dan pengembangan kegiatan budidaya skala rakyat. Tak lupa Rokhmin mengucapkan terima  kasihnya kepada pemerintah melalui KKP yang selalu mendukung pengembangan akuakultur di Indonesia.
 
Sama halnya dengan Rokhmin, Terje H. Nilsen mengatakan, Indonesia akan menjadi negara yang luar biasa dalam waktu cepat di dunia perikanan khususnya akuakultur. “Lamanya kerjasama yang sudah terjalin antara Indonesia dan Norwegia membuat saya optimis dalam mengembangkan penelitian industri akuakultur. Dengan pengembangan ini semoga dapat meningkatkan jumlah investor dan eksportir hasil-hasil perikanan,” ungkap Nilsen.
 
MoU PT Multidaya Akuakultur Indonesia dan Seven Stones Indonesia
Bersamaan MoU antara MAI dengan Norway Connect, juga dilakukan penandatangan MoU antara PT Multidaya Akuakultur  Indonesia (PT MAI) dan Seven Stones Indonesia (SSI). Lebih lanjut dalam Mou PT MAI dengan SSI, Denny D. Indradjaja,  Sekretaris Jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia memberi penjelasan tentang MoU PT MAI dengan SSI ini.
 
Denny pun menjelaskan, titik fokus MoU keduanya berbeda. MoU antara MAI dan Norway Connect berfokus pada community development yang berbasis entrepreneurship atau kewirasausahaan untuk akuakultur yang berkelanjutan. Sementara , MoU antara PT MAI dan SSI berfokus pada kerjasama business to business. “Kerjasama antara PT MAI dan SSI ini diharapkan akan menjadi mediator bagi perusahaan-perusahaan akuakultur Indonesia. Yang mana untuk mendapatkan akses pasar ke negara-negara Skandinavia, dalam hal akses finansial, permodalan, dan teknologi dari perusahaan akuakultur Norwegia dan negara-negara Skandinavia yang ternama,” ungkap Denny.
 
SSI sendiri, merupakan perwakilan perusahaan-perusahaan Norwegia dan beberapa negara Skandinavia lainnya yang melakukan bisnis di Indonesia. Sementara itu, PT MAI merupakan perusahaan yang didirikan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia dan para anggota MAI lainnya. Sehingga, di sana kepemilikan sahamnya, MAI sebagai ex official di dalam PT Multidaya Akuakultur Indonesia.
 
Terkait gebrakan PT MAI dalam kerjasama untuk pengembangan akuakultur nasional ini, Wakil Ketua III MAI, Muhibbuddin Koto yang juga CEO dari PT MAI buka suara. Ia menuturkan, PT MAI punya visi dan misi mengembangkan industri akuakultur nasional yang selama ini sempat jalan di tempat. Caranya dengan
menggandeng pelaku usaha di bidang tersebut di atas. Diajak bermitra, berkolaborasi dalam sebuah sistem bersama (PT MAI, SSI dan pelaku usaha terkait).
 
“Prinsipnya mengembangkan manajemen, teknologi, pembiayaan, pemasaran dan menyempurnakan sehingga terbentuk industri akuakultur yang terintegrasi
yang profitable. Jadi, PT MAI hadir bukan jadi kompetitor usaha yang ada, namun jadi stimulator untuk lebih maju,” ujar Muhibbuddin Koto. Lebih lanjut Bang
Koto, begitu beliau biasa dipanggil meyampaikan, bahwa sudah beberapa kali dilakukan diskusi antara PT MAI dengan SSI. Tahap awal akan dijajaki kerjasama
dalam industri barramundi, udang vanname dan kerapu terintegrasi. Untuk program ini, PT MAI telah menggandeng beberapa perusahaan akuakultur nasional
yang bergerak dalam 3 komoditi tersebut.
 
Bukan hanya dibidang bisnis dan industri, SSI bersama PT MAI juga akan melakukan beberapa FGD dan Workshop terkait starategi pengembangan akuakultur
nasional. Kegiatan ini akan menggandeng semua stakeholder akuakultur nasional. Tunggu undangan Kami, begitu ujar Bang Koto menutup diskusi. TROBOS/Adv

 
Aqua Update + Advertorial Aqua + Cetak Update +

Artikel Lain