Selasa, 15 Pebruari 2022

Dr. Wiyoto : Tahap Awal Sukses Budidaya Udang

Dr. Wiyoto : Tahap Awal Sukses Budidaya Udang

Foto: Dok. Pribadi


Produksi akuakultur dunia terus mengalami peningkatan sepanjang tahunnya, tercatat pada tahun 2018 produk akuakultur dunia mencapai 114,5 juta ton dengan nilai USD 263,6 miliar. Produksi akuakultur tersebut terdiri dari hewan air (82,1 juta ton) dan rumput laut (32,4 juta ton). Produk akuakultur berupa hewan air terdiri dari ikan bersirip (54,3 juta ton), kekerangan (17,7 juta ton), krustasea (9,4 juta ton) dan komoditas lainnya sebanyak 0,7 juta ton. 
 
 
Peningkatan produksi akuakultur dunia untuk komoditas hewan air mencapai 5,3 %/tahun. Kontribusi produksi akuakultur terhadap total produksi perikanan adalah 46 % dengan Negara di Asia sebagai penyumbang terbesarnya. 
 
 
Negara dengan produksi akuakultur (tidak termasuk rumput laut) tertinggi adalah China yaitu mencapai 47,6 juta ton, selanjutnya India (7,1 juta ton) dan Indonesia (5,4 juta ton). Lalu untuk komoditas udang urutan negara produsennya adalah China (1,7 juta ton), Indonesia (0,9 juta ton), dan Vietnam (0,8 juta ton). 
Berdasarkan data dari FAO tersebut, kelompok krustasea yang didominasi udang hanya berkontribusi sebanyak 8,2 % dari total produk akuakultur, namun nilai produksinya mencapai USD 69,3 miliar atau 26,3 % dari total nilai produk akuakultur. Nilai yang tinggi dari golongan krustasea dengan komoditas utamanya udang menjadi daya tarik tersendiri bagi pembudidaya udang baik di Dunia maupun di Indonesia. 
 
 
Tantangan Penyakit
Di Indonesia, produksi udang menunjukan peningkatan yang signifikan  dari tahun 2011 sampai dengan 2018 yaitu sebesar 13,5 %/tahun. Peningkatan produksi tersebut didukung oleh kegiatan intensifikasi maupun adanya perluasan lahan baru. 
 
 
Berdasarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, lokasi budidaya udang tersebar di 32 Provinsi dengan 5 provinsi sebagai produsen terbesar yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Lampung. Meskipun produksi udang Nasional cenderung meningkat namun permasalahan penyakit masih menjadi salah satu faktor utama dalam kegagalan budidaya udang. 
 
 
Beberapa penyakit sebagai penyebab kegagalan budidaya  udang vannamei di Indonesia  adalah White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), White Feces Disease (WFD), Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), dan Infectious Myonecrosis Virus (IMNV). Serangan penyakit tersebut dapat terjadi baik pada awal masa budidaya maupun selama periode budidaya hingga umur panen. 
 
 
Berbagai upaya yang dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit selama masa budidaya udang adalah diawali dari persiapan tambak yang baik, penerapan biosekuriti dan penggunaan benih yang berkualitas baik. Pemilihan benih udang (benur) yang baik merupakan salah satu faktor kunci dalam dan langkah awal keberhasilan budidaya udang di tambak. 
 
 
Memilih Benur
Dalam memilih benih udang dapat mengacu pada SNI 01-7252-2006. Berdasarkan SNI tersebut, kriteria benur yang baik adalah umur minimal PL10, panjang minimal 8,5 mm, prevalensi parasit maksimal 20 %, infeksi virus (TSV, IHHNV, dan WSSV) 0 %, keseragaman ukuran 80 %, daya tahan terhadap penurunan salinitas dari 30 g/L ke 0 g/L selama 5 menit adalah minimal 80 %, perendaman formalin 200 mL/m3 selama 30 menit adalah minimal 80 %, serta prevalensi nekrosis (terhdap populasi) maksimal 5 %. 
 
 
Benih berkualitas dan sesuai dengan kriteria tersebut dapat dihasilkan dari hatchery pembenihan yang memiliki rekam jejak yang baik dan bersertifikat Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB). Pembudidaya tentunya dapat membeli benur di hatchery bersertifikat tersebut dan diutamakan yang memiliki nilai sangat baik (Excellent). 
 
 
Berdasarkan SNI 8035:2014, penerapan pembenihan yang baik akan menghasilkan benih yang bermutu dengan ciri pertumbuhan yang cepat, seragam, sintasan tinggi, adaptif terhadap lingkungan pembesaran, bebas parasit, efisien dalam menggunakan pakan, serta tidak mengandung residu bahan kimia dan obat obatan yang dapat merugikan bagi manusia dan lingkungan. Selain kriteria benih berdasarkan SNI, ciri benur udang yang baik dan dapat dilihat dari ciri fisiknya lainnya seperti usus dan saluran pencernaan sudah sempurna dan terisi pakan, bentuk tubuh yang lurus jika berenang, anggota badan lengkap atau tidak cacat, ekor memiliki kemampuan untuk membuka dan menutup dengan baik serta tidak geripis, benur berenang aktif, serta tidak bergerombol.
 
 
Penanganan Benur
Ketersediaan benih berkualitas seperti tersebut diatas, perlu didukung juga dengan proses penanganan yang baik yang dimulai dari proses pemanenan di hatchery, pengemasan, pengangkutan hingga penebaran udang di tambak. Hal paling penting dalam tahap awal budidaya udang adalah penanganan benur ketika tiba di tambak sehingga proses aklimatisasi merupakan SOP (Standart Operating Procedure) yang harus dilakukan di tambak. 
 
 
Kualitas air untuk budiaya di tambak disesuaikan dengan Standart Biological Requirement (SBR) atau persyaratan biologis standar untuk budidaya udang baik kualitas fisika maupun kimia air. Kebutuhan kualitas air standar untuk budidaya udang di tambak berdasarkan SNI 01-7246-2006 adalah kecerahan 30 - 45 cm, suhu 28,5 - 31,5 ºC, salinitas 15 - 25 g/L, pH 7,5 - 8,5, alkalinitas 100 - 150 mg/L, serta oksigen terlarut >3,5 mg/L. 
 
 
Untuk menghindari adanya perbedaan kondisi kualitas air di tambak dan hatchery maka pembudidaya udang dapat mengatur kondisi kualitas airnya agar mendekati atau sama dengan kualitas air di hatchery. Selain itu pembudidaya juga dapat meminta ke hatchery agar salinitasnya dinaikan atau diturunkan terlebih dahulu agar sesuai dengan salinitas air di tambak. 
 
 
Minimalisir Stres 
Proses transportasi, ketidakseuaian dan perbedaan kondisi kualitas air serta aklimatisasi yang tidak sesuai dapat menyebabkan stres pada udang. Stres yang mungkin terjadi pada benur dapat bersumber dari stresor fisik seperti penanganan, pemanenan dan transportasi; stresor kimia seperti perbedaan kualitas kimia air maupun adanya polutan; dan stresor dari organisme lainnya yang ada di tambak. 
 
 
Pada kondisi stres tersebut maka benur akan merespon dalam bentuk: 1) respon primer seperti perubahan hormon; 2) respon sekunder seperti perubahan metabolisme, perubahan seluler, gangguan osmoregulasi, perubahan karakteristik hematologi, perubahan karakteristik fungsi kekebalan tubuh; 3) respon tersier seperti gangguan pertumbuhan, kapasitas berenang, ketahanan terhadap penyakit. 
 
 
Mengingat bahwa pada umumnya udang yang ditebar di tambak pada PL10 - PL12, sedangkan gen terkait dengan imun pada udang berkembang dengan baik pada PL20 maka meminimalisir stres di awal budidaya merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar sistem daya tahan tubuh udang tidak terganggu. Dampak yang umum terlihat oleh pembudidaya dari kondisi stres adalah terganggunya pertumbuhan dan udang rentan terhadap penyakit dan sintasan yang rendah. 
 
 
Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi kualitas air (oksigen terlarut rendah, amoniak tinggi, salinitas tinggi 28 - 44 g/L, sulfide >0,1 mg/L, serta suhu >32ºC) dan tanah (redok potensial yang reduktif) dapat menggungu sistem daya tahan tubuh udang sehinga udang lebih mudah terserang penyakit. Berdasarkan kondisi di atas maka salah satu faktor kesuksesan awal dalam budidaya udang adalah dalam hal pemilihan benur yang baik, kesesuaian kondisi kualitas lingkungan, dan tindakan untuk meminimalisir stres pada benur. 
 
 
Pemilihan benur, selain yang sudah bebas dari patogen tertentu (SPF), pengembangan benur yang cepat tumbuh, toleran (SPT) atau tahan terhadap penyakit tertentu (SPR) juga merupakan salah satu harapan agar lokasi yang rawan penyakit tertentu memiliki pilihan selain benur SPF. Selain kriteria benur yang berkualitas, kegiatan pendederan juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam metode budidaya. Pendederan dilakukan hingga PL ≥ 20 agar benur sudah lebih siap dari sisi sistem daya tahan tubuhnya.
 
 
 
*Dosen Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya
Sekolah Vokasi IPB University
 
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain