Selasa, 15 Pebruari 2022

Benur Berkualitas Kian Diburu

Benur Berkualitas Kian Diburu

Foto: Dok. TROBOS Meilaka


Pemilihan benur berkualitas merupakan langkah pertama dalam upaya mencapai keberhasilan budidaya. Oleh karena benur yang berkualitas baik meski harganya lebih mahal, sudah jadi kebutuhan utama
 
Kebutuhan akan benur vannamei terus tumbuh seiring peningkatan produksi budidaya udang nasional untuk memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri. Masa pandemi terbukti bukan menjadi penghalang untuk bisnis perudangan terus berkembang. Justru perimtaan produk olahan udang siap saji global meningkat yang otomatis mendorong permintaan budidaya dan benur.
 
Seperti diungkapkan Pakar Perbenihan Udang, Bong Tiro, pertumbuhan benur udang setiap tahun diangka 10 % sampai 20 %. Sejauh ini produksi dan permintaan benur nasional masih berimbang, tapi kecenderungan lebih cepat pertumbuhan permintaan benur. “Permintaan benur ini terus tumbuh meskipun di masa pandemi seperti ini,” kata Bong kepada TROBOS Aqua.
 
Sementara, menurut ahli budidaya udang yang sudah lama di Indonesia ini, tren pertumbuhan hatchery (produsen perbenihan) udang umumnya terbilang stagnan. Pemain-pemain hatchery besar di Indonesia selama pandemi umumnya tidak ada pengembangan di wilayah lain lebih pada optimalisasi produksi benurnya. 
 
Produksi Benur
Soal angka produksi benur nasional lebih lanjut dijelaskan Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (DJPB KKP), Nono Hartanto. Berdasarkan laporan dari FKPUI (Forum Komunikasi Pembenih Udang Indonesia), pada tahun 2021 produksi benur anggota FKPUI diperkirakan sebesar 40 – 45 miliar PL (Post Larvae) per tahun (sumber: laporan Rakor FKPUI 10 juni 2021, Indonesia Shrimp Hatcheries – bahan paparan Agus Soma 14 Juni 2021). Jumlah tersebut dihasilkan dari 60 % – 70 % kapasitas produksi terpasang. 
 
Sedangkan data produksi benur yang dihasilkan oleh UPT DJPB tahun 2020, produksi benih vannamei mencapai 88,863 juta ekor. Menurut Nono, tren data produksi dan kebutuhan benur udang vannamei secara nasional masih bersifat fluktuatif. Produksi benur tahun 2018 sekitar 69,47 miliar ekor dengan kebutuhan benur sekitar 52 miliar ekor. Lalu pada tahun 2019, produksi benur sekitar 42,32 miliar ekor dengan kebutuhan benur sekitar 48,4 miliar ekor.
 
Dijelaskan Nono, saat ini belum tidak ada lonjakan data produksi dan kebutuhan benur vannamei yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. “Namun dengan adanya program KKP terkait taget produksi udang 2 juta ton (vannamei dan windu) sampai tahun 2024 nanti, kebutuhan benur akan meningkat untuk beberapa tahun kedepan,” kata Nono. Kebutuhan udang jika sampai target produksi tersebut tercapai diperkirakan sampai  148 juta miliar ekor. 
 
Data yang dipaparkan tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pembenih Udang (APU), Waiso. Menurutnya, saat ini hanya sekitar 70 % dari kapasitas hatchery yang terisi. Sebab belakangan, sejumlah sentra tambak udang mengalami wabah penyakit sehingga banyak farm yang untuk sementara berhenti menebar benur. “Hanya biasanya jika musim hujan berakhir dan penyakit mulai menurun, permintaan benur bakal bergerak naik kembali,” ujar Waiso. 
 
Kejar Kualitas
Petambak udang kini dituntut lebih cerdik dan teliti dalam memilih atau menggunakan benur yang berkualitas. Benur yang murah dan tersedia dalam jumlah banyak sudah tidak bisa lagi jadi patokan dalam membeli benur.
 
Menurut  Waiso benur berkualitas merupakan komponen utama dan pertama yang menentukan keberhasilan budidaya udang. Sebab sebaik apa pun persiapan tambak dan setinggi apapun mutu pakan, terapi jika benurnya tidak berkualitas akan mudah diserang penyakit.
 
Bahkan menurut Bong, kalau dari komposisi biaya produksi budidaya, biaya pembelian benur hanya sekitar 8 % sampai 10 %. “Tapi benur berkualitas mempengaruhi sampai 70 % dari tingkat keberhasilan budidaya. Makanya petambak jangan main-main atau asal pilih benur saja kalau mau profit usahanya,” ungkap Bong.
 
Bong menambahkan, harga benur berkualitas rata-rata saat ini antar Rp 45 sampai Rp 50 per ekor ukuran PL (Post Larvae) 10 atau panjang 9 mm. Menurut Bong, kebutuhan benur berkualitas juga didorong oleh tren permintaan dan kesadaran dari petambak. 
 
Ia mencontohkan, sampai saat ini masih banyak petambak udang di Sulawesi Selatan yang ambil benur dari Jawa untuk mendapatkan  benur yang berkualitas meskipun harus rela membayar lebih karena ada tambahan biaya transportasi. “Target para petambak menginginkan benur yang sehat, pertumbuhannya bagus, dan pada akhirnya bisa menghasilkan profit bagi usaha budidayanya,” kata Bong.
 
Terkait hal ini, Waiso ikut menjelaskan, agar para hatchery agar memiliki dua line produksi benur, yakni yang berasal dari indukan strain fast growth (pertumbuhan cepat) dan resistance (tahan penyakit). “Pembudidaya yang wilayahnya masih zona hijau alias tidak ada penyakit silakan order benur fast growth. Tetapi jika wilayah tersebut sudah zona merah (banyak penyakit) sebaiknya tebar benur resistance,” Waiso menyarankan.
 
Hanya saja Waiso mengingatkan kepada para petambak bahwa SOP budidaya pembesaran benur fast growth tidak bisa dipakai pada benur resistance. Sebab indukan udang strain resistance cenderung noturnal (aktif saat gelap/malam hari), sehingga 60 % pakan diberikan pada malam hari. Selain itu benur yang ditebar ke kolam pada PL 11 - PL 12, bukan PL 09 -  PL 10 seperti pada benur fast growth. 
 
Hal senada diungkapkan Wendy Tri Prabowo, Kepala Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem Bali. Menurut Wendy, dari pelanggan benur ada dua tipe pelanggan. Yang pertama tipe pelanggan yang lebih mengutamakan kepastian panen. Yang kedua adalah pengguna yang ingin cepat panen. 
 
Tipe pertama, lanjutnya dengan tipe iklim yang fluktuatif, cocok untuk strain yang lebih resisten. Lalu tipe ke dua ingin cepat panen, butuh benur yang fast growth. Masing-masing tipe benur tentu memiliki pola SOP (Standart Operating Procedure) budidaya yang berbeda. Jika menggunakan tipikal fast growth, analoginya seperti mngendarai kendaraan mewah seperti ferari, perlu fasilitas jalan yang mulus. 
 
Menurut Wendy, untuk cepat tumbuh, perlu diperhatikan kualitas air, biosekuritinya, harus lebih bagus. Tipe makannya juga akan berbeda. Misalnya pakan lebih banyak, kecenderungannya di siang hari. Sedangkan benur yang lebih resisten ini akan kembali ke pure line-nya. Produktif mulai dipanen, jika suhu di malam hari terjaga, pakan 50 % - 60 % di malam hari serta menggunakan pakan fermentasi, size 100 bisa di 60 hari. 
 
Nono Hartono ikut menambahkan, benur yang bermutu/berkualitas merupakah salah satu faktor yang sangat penting dalam pembudidayaan udang. Benur yang baik memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga memperpendek waktu pembudidayaan dan meminimalkan konversi pakan atau FCR (Feed Conversion Ratio). Benur yang berkualitas juga tahan terhadap penyakit sehingga terdapat istilah SPF (Spesific Pathogen Free) dan SPR (Specific Pathogen Resistent) untuk meminimalisir terserang penyakit.
 
Standarisasi Benur
Menurut Rohmatul Azis, Teknisi Tambak Udang PT Teluk Bringin Jaya (TBJ) di Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung menyatakan, standar secara kualitas maupun kuantitas benur sangat berpengaruh bagi kelancaran budidaya udang. “Pemilihan benur berkualitas merupakan langkah pertama dalam upaya mencapai keberhasilan budidaya. Oleh karena itu kualitas benur yang baik meski harganya lebih mahal, tidak bisa ditawar-tawar karena sangatlah penting,” ungkap Azis. 
 
 
Selengkapnya Baca di Edisi 117/ 15 Februari - 14 Maret 2022 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain