Sabtu, 15 Januari 2022

Prof. Agus Suprayudi: Tantangan dan Solusi Keterbatasan Bahan Baku Pakan

Prof. Agus Suprayudi: Tantangan dan Solusi Keterbatasan Bahan Baku Pakan

Foto: Dok. TROBOS Fauzi


Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan bahwa terdapat berbagai bahan baku yang dapat digunakan sebagai substitusi bahan baku impor. Namun yang belum adalah penelitian mengenai bagaimana cara produksi bahan baku tersebut secara massal. Dan nantinya mampu atau tidak untuk memenuhi permintaan pasar untuk bahan baku substitusi tersebut. 
 
 
Sektor perikanan masih menjadi salah satu objek yang menggiurkan untuk diamati. Setiap tahunnya sektor ini konsisten mengalami pertumbuhan pada hasil produksinya. Pada tahun 2022, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprediksi hasil produksi perikanan budidaya mencapai 20,54 juta ton, nilai tersebut meliputi 8,69 juta ton ikan dan 11,85 juta ton rumput laut. 
 
 
Target ini naik sebanyak 1,07 juta ton dari target produksi sebelumnya yaitu tahun 2021 yang bernilai 19,47 juta ton. Demi mencapai target produksi ikan konsumsi yang terbilang tinggi tersebut, patutnya didukung dengan pakan ikan yang bernutrisi (berkualitas) dan terjangkau oleh para pembudidaya.
 
 
Berbicara mengenai nutrisi pakan, kini sudah banyak bermunculan berbagai jenis pakan dengan kadar nutrisi yang beragam. Sejatinya rata-rata kadar nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan khusunya untuk ikan air tawar berkisar di 26 - 32 %. Nutrisi tidak hanya terdiri dari protein, tetapi juga mencakup karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. 
 
 
Terdapat berbagai jenis nutrisi, diantaranya yaitu nutrisi penghasil energi yang terdiri dari protein, karbohidrat, dan lemak. Ketiganya harus dalam kompisisi dan jumlah yang seimbang di dalam pakan ikan. Apabila jumlah ketiga komponen tersebut tidak seimbang, maka kandungan protein akan digunakan sebagai sumber energi, sehingga protein tidak dapat dimanfaatkan secara keseluruhan  untuk menunjang pertumbuhan ikan. Hubungan antara ketersediaan energi dan protein disebut dengan protein sparing effect. 
 
 
Pakan Ideal
Lalu bagaimana cara menfaatkan protein agar optimal? Pertanyaan seperti itu kerap kali muncul dari para pelaku budidaya. Jawaban yang sesungguhnya yaitu tergantung pada jenis sistem budidaya yang diterapkan dan kondisi kualitas lingkungan budidayanya. Sebagai gambaran, pembudidaya A dalam kegiatan budidayanya menggunakan pakan X yang mengandung protein sebesar 30 % di lingkungan yang ideal (seluruh parameter air dalam kondisi optimal) mendapatkan FCR (Feed Convertion Ratio) atau konversi pakan sebesar 1,2. 
 
 
Sementara itu, pembudidaya B dalam kegiatan budidayanya sama-sama menggunakan pakan X namun yang membedakan yaitu lingkungan budidayanya kurang mendukung sehingga didapatkan FCR sebesar 1,5. Sehingga dengan kata lain harus ada standard biological yang harus terpenuhi, seperti suhu, oksigen dan parameter lingkungan lainnya.
 
 
Semua pelaku budidaya tentunya menginginkan jawaban dari pertanyaan diatas dan jawabannya adalah benar. Semakin tinggi kandungan protein di dalam suatu pakan maka pertumbuhan ikan akan terjadi dalam waktu yang semakin cepat, asalkan syarat dan ketentuan terpenuhi seluruhnya. Salah satunya yaitu asam amino dalam pakan harus benar, terutama asam amino essensial. Kemudian jika membahas lemak maka asam lemaknya juga harus terpenuhi. Biasanya jika asam lemak terpenuhi lantas lemak, karbohidrat, dan protein juga terpenuhi.
 
 
Jadi selain kandungan protein, terdapat unsur-unsur lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Pada kasus tertentu, bisa saja pakan yang mengandung protein 26 % mengalahkan pakan yang mengandung protein 28 % dan 29 %. Mengapa demikian? hal ini dapat terjadi karena pakan yang mengandung protein 28 % dan 29 % tersebut asam aminonya tidak bagus. Dikatakan tidak bagus karena terdapat asam amino yang kurang di dalam pakan tersebut sehingga akan membatasi asam amino lainnya. 
 
 
Oleh karena itu, untuk mencukupi protein dan asam amino di dalam pakan, bahan baku tidak boleh hanya terdiri dari satu jenis atau single bahan baku. Pakan harus tersusun dari berbagai jenis bahan baku, sehingga seluruhya akan saling melengkapi. 
 
 
Faktor Lingkungan
Pakan yang mengandung protein tinggi tidak bisa bekerja secara optimal dalam menunjang pertumbuhan ikan jika lingkungan budidayanya dalam kondisi yang tidak optimum. Hal ini kerap terjadi pada budidaya yang dilakukan di Karamba Jaring Apung (KJA). Dimana, alam adalah faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi lingkungan di perairan tersebut. 
 
 
Terutama dimusim panca roba seperti sekarang, pembudidaya mau memberikan pakan dengan kualitas sebagus apapun, pertumbuhan ikan akan tetap kurang signifikan. Karena lingkungannya kurang mendukung dan sulit untuk dikontrol.
 
 
Beberapa faktor lingkungan yang perlu diperhatikan untuk kegiatan budidaya, terutama jika budidaya dilakukan di perairan umum seperti danau. Faktor tersebut terdiri dari suhu dan oksigen. Keduanya harus memenuhi standar baku mutu untuk ikan yang akan dibudidayakan. Suhu dan oksigen masuk ke dalam limiting factor dan regulating factor. 
 
 
Yang termasuk ke dalam liminiting factor yaitu oksigen. Manusia bebas menarik oksigen di udara sedangkan pada ikan bergantung pada kandungan oksigen yang terdapat di dalam perairan. Dan yang termasuk kedalam regulating factor yaitu suhu. Regulating factor berperan dalam mempengaruhi nafsu makan ikan. Begitu suhu turun maka nafsu makan akan rendah, saat-saat seperti ini ikan jangan diberi pakan. Apabila tetap diberi, pakan tersebut tidak akan dimakan dan pada akhirnya akan terbuang sia-sia.
 
 
Jika lingkungan telah sesuai baku mutu untuk ikan yang dibudidayakan dan menggunakan pakan yang dibuat dengan baik, maka pakan dengan kandungan protein 26 %, 28 % ataupun 30 % akan menunjukkan performanya dan ceteris paribus (hal yang lain sama). Kondisi optimal ini lah yang seharusnya jadi patokan para pembudidaya untuk mengoptimalkan pemberian pakan.
 
 
Tren Pakan
 Tren perkembangan pakan untuk berbagai jenis ikan hingga saat ini sudah banyak dilakukan. Kini terdapat berbagai improvisasi pakan seiring dengan majunya teknologi dari sisi bahan baku serta additive yang menyebabkan feed intake (asupan pakan) meningkat dan nafsu makan meningkat. Namun semua akan kembali lagi ke cost dan harga.
 
 
Kembali kemasa saat ini (Desember 2021), beberapa bahan baku pakan di pasaran dijumpai dengan harga yang luar biasa mahal. Hal ini adalah kelemahan di ikan air tawar, kenaikan harga bahan baku tidak bisa diikuti dengan kenaikan harga pakan yang nantinya juga akan berdampak pada harga jual ikan itu sendiri. Karena ada batas kemampuan konsumen untuk membeli diharga tertentu.
 
 
Sebagai contoh, misalnya bicara mengenai ikan ikan mas. Range harga jual ikan mas berkisar di R 22 ribu – 26 ribu per kg di level pembudidaya, dalam kondisi terendah bisa diharga 18 ribu per kg. Jarang bahkan tidak mungkin harga ikan mas di pembudidaya mencapai 30 ribu – 40 ribu per kg. Sehingga dengan adanya kenaikan harga bahan baku seperti saat ini, tren formulasi pakan pun menjadi ada pembatasnya, karena semua tetap harus ada marginnya. 
 
 
Produsen pakan, pembudidaya, bakulan, dan pedagang di pasar mesti happy, tetapi tetap harus ada margin yang terbagi. Dengan kondisi harga bahan baku saat ini dirasa cukup berat oleh semuanya.
 
 
Dengan harga baku yang tinggi, produsen pakan tetap berusaha agar kualitas pakan tetap terjaga dan tidak menurun tanpa menaikkan harga pakan. Karena jika produsen pakan menurunkan kualitas pakan maka pembudidaya akan merasa tidak senang. Atau bisa saja nantinya jumlah kandungan nutrisinya menurun namun pada posisi yang tidak mempengaruhi psikologis semuanya, misalnya dari standarnya 65 % turun ke 63 %.
 
 
Alternatif Solusi 
Indonesia sebagai negara produsen akuakultur terbesar di Asia yang menggunakan pakan buatan dalam kegiatan budidaya nyatanya bahan baku pakannya masih diimpor dari negara lain. Terutama tepung ikan dan tepung bungkil kedelai. Dengan lahan sebesar dan seluas ini ternyata belum mampu mengatasi kebutuhan bahan baku pakan hingga saat ini.
 
 
Dimasa ini, isu yang tengah ramai dibicarakan yaitu mengenai bungkil kedelai yang seluruhnya adalah hasil impor. Apabila bahan baku tersebut digunakan dalam komposisi pakan ikan dan saat harga tepung tersebut paling tinggi maka otomatis harga pakan pun akan melonjak naik. 
 
 
Penggunaan bahan baku impor dapat ditekan dengan substitusi menggunakan bahan baku lain, salah satunya yaitu biji kecipir yang mengandung protein sebesar 45,36 %. Hingga sekarang ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan bahwa terdapat berbagai bahan baku yang dapat digunakan sebagai substitusi bahan baku impor. Namun yang belum adalah penelitian mengenai bagaimana cara produksi bahan baku tersebut secara massal. Dan nantinya mampu atau tidak untuk memenuhi permintaan pasar untuk bahan baku substitusi tersebut. 
 
 
Bahan baku substitusi lainnya yaitu biji karet dengan kandungan protein 41,27 %. Biji karet sudah terbukti mampu menggantikan tepung kedelai hingga 50 - 70 %. Sama halnya seperti tepung biji kecipir, masalahnya saat ini adalah bagaimana agar bisa diproduksi secara massal. Dimulai dari mesinnya seperti apa, install alatnya, bagaimana cara mengumpulkan dan mengolahnya hingga menjadi tepung biji karet. Kemudian dilihat biaya produksinya, harga pokok produksinyanya bisa menggantikan tepung kedelai atau tidak.
 
 
*Ahli Nutrisi Pakan Akuakultur
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain