Sabtu, 15 Januari 2022

Strategi Pemenuhan Nutrisi Ikan Air Tawar

Strategi Pemenuhan Nutrisi Ikan Air Tawar

Foto: Dok. TROBOS Meilaka


Pakan ikan baik pabrikan maupun mandiri dihasilkan harus sesuai formulasi nutrisi di SNI dan pembudidaya perlu mengaplikasikan pakan sesuai kebutuhan supaya efisien 
 
 
Dalam usaha budidaya ikan air tawar khususnya lele, patin, mas, dan nila, pakan menjadi faktor penting untuk menunjang produktivitas. Diungkapkan  Agus Poernomo, pembudidaya pembenihan lele asal Kabupaten Kediri-Jawa Timur, performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang tinggi, disokong nutrisi dari pakan yang diberikan.
 
 
Menunjang performa terbaik, nutrisi yang paling diutamakan pembudidaya adalah protein. “Contoh saja di pembibitan (pembenihan). Faktor utama pakan di pembibitan lele biasanya proteinnya yang tinggi, sehingga pertumbuhannya cepat,” ungkap Agus Poernomo. 
 
 
Nutrisi Lele
Namun, di kalangan pembudidaya, lanjut Agus, tidak mengukur secara komprehensif kandungan nutrisi seperti protein, vitamin, lemak, dan sebagainy ini. “Misalkan kita di pembibitan pake-nya pakan alami seperti telur dan cacing sutra. Kita gak ukur proteinnya, di pembudidaya hanya tahu ya proteinnya tinggi,” terang pembudidaya yang berlokasi di Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini.
 
 
Sebagai gambaran, Agus menerapkan pemberian pakan kuning telur sejak larva berumur 1 - 2 hari. Banyaknya kuning telur yang dipakai, tidak diaplikasikan secara terukur pasti. 
 
 
“Kita hitung proporsinya berdasar jumlah benih dari satu ekor indukan. Misalnya, untuk satu indukan yang bisa hasilkan 40 - 50 ribu ekor benih, kita gunakan 3 butir telur untuk satu kali makan benihnya. Telur kita rebus, ambil kuningnya, hancurkan, campur dengan air dan kasihkan ke benih,” imbuhnya yang biasa menjual benih lele ukuran 5 - 7 cm ke pembudidaya kelompoknya yang menjalankan segmen pembesaran. 
 
 
Setelah itu, Agus menyambung pakan dengan cacing sutra dan full (seluruhnya) ia gunakan cacing sutra di kisaran umur 5 hari. Setelah sekitar 15 hari, disambung dengan pakan pabrikan sampai panen. Pemberian pakannya, Agus sebutkan, akan tergantung pasar. Jika pasarnya agak kendor atau santai, aplikasinya sebanyak dua kali sehari. 
 
 
“Kalau pasar serapannya tinggi, kita percepat sehingga panen seminggu lebih awal. Biasanya kita panen 2,5 bulan, ini kita percepat,” tambahnya yang bisa menghasilkan 200-300 ribu benih ekor per satu siklus pembenihan.
 
 
Berbeda dengan fase pembenihan, ucap Agus, sebagian besar pembudidaya pembesaran di kelompoknya mengaplikasikan pakan full pelet. “Umumnya embudidaya itu sudah paham mana merek pakan yang kandungan proteinnya tinggi,” ucapnya sembari menuturkan contoh pakan pabrikan lele yang dipakai berkomposisi protein 31 - 33 %. 
 
 
Sementara nutrisi lainnya, seperti vitamin, mineral, dan suplemen lainnya lebih diandalkan dari probiotik. Ia menerangkan, probiotik dibuat sendiri dengan berbagai bahan tambahan, seperti daun pepaya atau kelor segar. “Intinya, komposisi lain itu kita kompliti di probiotik ini,” terangnya. 
 
 
Diantara kelompok pembudidaya ini, sekitar 30 persenan anggota itu pakannya dicampur pakan alternatif, yaitu telur fertil. Yang mana, telur fertil ini asal muasalnya adalah telur sortiran dari pembibitan ayam potong. Sortiran ini yang kemudian dijual ke pengepul telur untuk direbus dan digiling, baru kemudian dijual ke pembudidaya. 
 
 
“Umumnya, pembudidaya kasih pakan alternatif itu di akhir siklus. Misal dua bulan awal full pelet dengan pendampingan probiotik. Dua bulan selanjutnya, aplikasi selang-seling dengan pakan alternatif. Sehari kadang dikasih telur, besoknya pelet,” ucap Agus yang sampai saat ini menggunakan lele strain masamo dan mutiara. 
 
 
Namun, bahan baku pakan alternatif ini diarahkan tidak asal. “Pernah ada yang nawarin bahan sosis atau BS (berkualitas rendah), tapi kita tolak. Takut ada pengawetnya dan residu,” ucap pembenih yang memulai usahanya sejak sekitar 8 tahun lalu ini.
 
 
Penentuan nutrisi pakan lele bagi pembudidaya, ucapnya, tidak banyak ditemui masalah. Sebab, dengan pemberian pelet pabrikan disertai probiotik, ikan sudah rakus melahap. 
 
 
“Yang jadi perhatian adalah aplikasinya. Kadang kalau masih awam, suka coba ganti pakan di tengah siklus. Kalau diganti, ikan harus adaptasi lagi sehingga kelihatan pilih makan. Kalau mau ganti, mendingan pas siklus selanjutnya,” tegas Agus. 
 
 
Menyebut perbandingan pakan pelet dan alternatif, ungkap Agus, pakan alternatif bisa menghasilkan profit lebih besar dibanding full pelet. “Karena pakan pelet itu harganya naik terus,” bebernya.
 
 
Dan bila ingin membandingkan pakan pabrikan, pembudidaya sudah harus antisipasi kekurangan dan kelebihan tiap merek pakan. Katakanlah, jelas Agus, pakan merek A protein bagus tapi ke air kurang bagus. Atau pakan merek B, protein kurang bagus, tapi di air bagus. 
 
 
Komoditas Mas
Kebutuhan nutrisi protein juga menjadi penyokong utama budidaya ikan mas. Hal ini diamini Haji Hamdan, pembudidaya mas Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata-Jawa Barat (Jabar). “Untuk pakan, saya gunakan proteinnya 30 - 33 % yang sudah cukup memenuhi kebutuhan nutrisi ikan mas,” ujarnya.
Protein menjadi nutrisi utama karena sebelumnya ia ada pengalaman menggunakan pakan ikan mas berkadar protein di bawah 30 % . “Secara biaya lebih murah untuk per kilogram-nya, namun nilai FCR (Feed Conversion Ratio atau rasio konversi pakan)-nya malah membengkak,” tuturnya. 
 
 
Ia memisalkan dengan gambaran satu siklus hingga panen sekitar 3,5 bulanan. Dengan pakan protein tinggi atau tercukupi, target panen biasanya tercapai nilai presentasinya 60 - 70 % dari pakan yang dihabiskan. “Atau dengan bahasa perikanannya mah FCR-nya 1,4 - 1,5,” beber Hamdan yang panennya bisa mencapai 2 - 3 ton sekali produksi. 
 
 
Bandingkan dengan pakan protein di bawah 30 %. Haji Hamdan menyebut, masa pemeliharaanya molor, pernah mencapai 4 bulanan. Yang berarti penggunaan pakan ini tidak sesuai kebutuhan nutrisi ikan. Dampaknya pertumbuhan ikan jadi molor dan pakan yang dihabiskan lebih banyak, dimana nilai FCR-nya bisa sampai 1,8 - 2. 
 
 
“Pakan murah, ujung-ujungnya sama saja karena bengkak di biaya pakannya. Jadi lebih baik menggunakan pakan sesuai standar kebutuhan. Sehingga, ikan tumbuh cepat atau minimal sesuai target budidaya,” tegasnya yang sudah 20 tahunan malang melintang di usaha budidaya ikan ini.
 
 
Pakan yang digunakan, terang Haji Hamdan, ada 2 jenis yaitu pakan apung dan tenggelam. Aplikasinya, adalah kombinasi keduanya. Dimana, untuk fase benih sampai sangkalan (bibit/benih besar yang ukurannya sekitar 8 - 12 cm), menggunakan pakan apung dengan protein tinggi sekitar 33 %. 
 
 
Selengkapnya Baca di Edisi 116/ 14 Januari - 15 Februari 2022
 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain