Rabu, 15 Desember 2021

Cermati Musim Hujan, Kiat Hadapi Penyakit Udang

Cermati Musim Hujan, Kiat Hadapi Penyakit Udang

Foto: Istimewa


Kualitas air tambak dan dinamikanya selama musim hujan wajib dicermati dan diwaspadi demi mengantispasi penurunan imunitas udang dan serangan penyakit
 
 
Terdapat tiga prinsip dasar dalam budidaya udang; yaitu penyakit, lingkungan dan udang itu sendiri. Hal ini disampaikan Supono, Dosen Universitas Lampung dan ahli budidaya udang. Ketiga prinsip tersebut berperan penting dalam menghasilkan hasil panen yang optimal. 
 
 
“Kita dituntut untuk membuat lingkungan senyaman mungkin untuk udang. Ketika lingkungan tidak optimal, maka udang akan mengalami stres dan nafsu makan menurun. Hal ini akan mengakibatkan pertumbuhan lebih lambat dan imunitas menurun. Saat imunitas menurun dan di lingkungan banyak terdapat patogen, udang tersebut mudah terserang penyakit,” ungkap Supono dalam webinar tentang musim hujan dan fluktuasi air tambak beberapa waktu lalu.
 
 
Perubahan lingkungan yang berpengaruh pada kondisi udang juga diamini Rudy Kusharyanto, Ketua Harian Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lampung. “Kondisi lingkungan yang menurun dapat menyebabkan munculnya White Spot Syndrom Virus (WSSV) dan penyakit-penyakit vibriosis lainnya,” papar Rudy di acara yang sama.
 
 
Lantas, perubahan kondisi lingkungan juga pasti terjadi ketika musim hujan. Petambak, ujarnya, patut mewaspadai efek perubahan lingkungan ini pada udang, berupa munculnya penyakit. “Penyakit yang dominan terjadi ketika musim hujan yaitu udang softshell, White Faces Disease (WFD), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), kram dan ‘ngapas’ yang disebabkan kurangnya nutrisi mineral,” ungkap Rudy.
 
 
Dampak Curah Hujan Tinggi
Potensi berkembangnya penyakit pada musim hujan dikaitkan dengan kualitas air di tambak. Lebih jelas, Priyandaru Agung ET, Aquaculture scientist menjelaskan kandungan air hujan serta pengaruh musim hujan di tambak. 
 
 
Dimana, uap air yang terkondensasi dan jatuh dari atmosfer ke permukaan bumi dalam rangkaian siklus hidrologi disebut dengan hujan. Priyandaru menjelaskan bahwasanya hujan terdiri dari dua jenis; yaitu hujan alkalin (basa) dan hujan asam. 
 
 
Hujan basa terjadi ketika kalsium oksida atau natrium hidroksida dilepaskan ke atmosfer, lalu diserap oleh tetesan air di awan, kemudian jatuh sebagai hujan. Sedangkan hujan asam mencakup segala bentuk presipitasi dengan komponen asam seperti asam sulfat atau nitrat yang jatuh dari atmosfer dalam bentuk basah seperti hujan atau kering seperti debu.
 
 
Sehingga, dengan berbagai kandungan di dalamnya, air hujan pun akan memberikan berbagai efek di tambak. "Diantaranya; peningkatan padatan tersuspensi akibat bercampurnya material tanah dan air. Hal ini berdampak pada terhambatnya penetrasi matahari, penurunan populasi mikroalga, dan populasi bakteri heterotroph meningkat. Selain itu juga terjadi peningkatan bakteri patogen serta tingginya biological oxyfen demand (BOD) oleh bakteri heterotrofik,” jelas Priyandaru di webinar setengah hari itu. 
 
 
Maka, dari air hujan ini tentunya akan mempengaruhi tambak karena terjadi dinamika di dalamnya. Ditambahkan Supono, terdapat beberapa dinamika kualitas air yang harus diwaspadai terutama ketika curah hujan tinggi. Karena, dinamika ini akan mempengaruhi produktivitas atau pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang. 
 
 
Dinamika yang pertama yaitu suhu rendah. Ini harus diwaspadai terutama di kondisi seperti sekarang yang memiliki curah hujan tinggi. “Apabila suhu perairan dibawah 26 oC, maka akan menyebabkan nafsu makan udang menurun. Kemudian, imunitas juga menurun sehingga tidak jarang ketika curah hujan tinggi berbagai gejala klinis pada udang muncul, seperti gejala white spot,” beber Supono.
 
 
Curah hujan yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan fitoplankton diluar kendali atau biasa disebut dengan blooming fitoplankton. “Ketika perairan tambak kita ukur kecerahannya menggunakan secchi disk, dan didapatkan hasil kurang dari 30 cm maka perairan tersebut dapat dikatakan blooming fitoplankton,” lanjut Supono.
 
 
Saat terjadi blooming fitoplankton, DO di perairan ketika siang hari akan mencapai oversaturation yang artinya oksigen di perairan melebihi oksigen di udara. Sehingga nantinya oksigen yang telah dihasilkan oleh fitoplankton akan terdifusi keluar. 
 
 
Dikarenakan telah terdifusi pada siang hari, maka pada saat malam akan terjadi oxygen depletion atau penurunan kandungan oksigen yang sangat drastis di perairan. “Makanya, pada malam hari menjelang subuh, udang akan naik ke permukaan untuk mencari oksigen yang lebih tinggi yaitu di permukaan,” jelas ahli udang itu.
 
 
Selengkapnya Baca di Edisi 115/ 14 Desember - 15 Januari 2022

 
Aqua Update + Teknis + Cetak Update +

Artikel Lain