Rabu, 15 Desember 2021

Hasanuddin Atjo: Manuver Positif Gerakkan Produktivitas Udang

Hasanuddin Atjo: Manuver Positif Gerakkan Produktivitas Udang

Foto: 


Ekstensifikasi perluasan area yang dimaksud adalah dengan teknologi intensif. Atau perluasan dengan teknologi yang lebih maju. Jadi, perluasan area ini dengan teknologi intensifikasi untuk menjadi salah satu komponen utama mendorong peningkatan produksi 2 juta ton.
 
 
Berbicara ekspansi, pasti akan berbicara juga tentang program pemerintah. Yaitu; untuk 2024 akhir nanti produksi udang agar meningkat cukup signifikan, sebesar 250% dari 800 ribu ton pada 2019 menjadi 2 juta ton pada 2024.
 
 
Skenario yang harus dilakukan, yang pertama adalah ekstensifikasi. Bukan hanya tambak diperluas, tapi tambak intensif dengan teknologi. Jadi peran pemerintah mendorong tambak-tambak tradisional seluas 33 ribu ha tambak untuk dinaikkan statusnya menjadi tambak semi intensif. 
 
 
Dimana, tambak rakyat ini dinaikkan produksinya. Yakni, dari 600 ribu kilogram (kg) per hektar (ha) per musim tanam, menjadi 3 ton per ha per musim tanam.
Tapi kalau itu diharapkan berkontribusi terhadap 2 juta ton, masih kecil sekali. Oleh karena itu, swasta didorong untuk mengembangkan tambak-tambak estate di seluruh wilayah, barat sampai ke timur Indonesia. 
 
 
Itu yang menjadi perhatian dan ekstensifikasi bisa dilakukan itu kalau sejumlah kemudahan-kemudahan bisa diterapkan. Antara lain; dari sisi perizinan, dimana sekarang sudah banyak kemudahan dan inovasi yang membuka peluang untuk budidaya udang.
 
 
Ekstensifikasi perluasan area yang dimaksud adalah dengan teknologi intensif. Atau perluasan dengan teknologi yang lebih maju. Jadi, perluasan area ini dengan teknologi intensifikasi untuk menjadi salah satu komponen utama mendorong peningkatan produksi 2 juta ton. 
 
 
Yang kedua, adalah perbankan. Dimana, perbankan harus memberikan kemudahan terhadap sektor perudangan ini, dan tidak lagi menganggap sebagai usaha yang high risk (risiko tinggi). Tapi yang high calculate, bisa diperhitungkan. 
 
 
Yang ketiga, beberapa komponen input produksi seperti indukan harus dipikirkan. Karena selama ini produksi nasional bergantung induk impor dari Hawaii atau Florida-Amerika Serikat (AS). Kalau itu tidak dibenahi, daya saing pasti lemah karena terbatas dalam rangka memproduksi benur berkualitas.
 
 
Menjadi poin penting pula dengan adanya investasi-investasi dalam hal input indukan terkait dengan tahapan NBC (Nucleus Breeding Center) dan BMC (Broodstock Multification Center). Tahapan indukan NBC ini merupakan tempat melahirkan nenek moyang induk-induk yang unggul. Yang kemudian tahapan setelahnya itu BMC. 
 
 
BMC itu, seperti halnya di beberapa negara produsen vannamei (Thailand, India, termasuk Indonesia), bersifat mendatangkan anakan F1 dari NBC di Hawaii. Lantas, F1 masuk dan dipelihara di Indonesia kurang lebih 8-10 bulan. Dari situ baru diperjualbelikan ke pengusaha hatchery (pembenihan).
 
 
Yang keempat, bahwa pakan induk ini menjadi penting. Dimana saat ini pakan induk masih menggunakan cacing dari tangkapan alam karena masih terbatas untuk budidaya itu. 
 
 
Cacing untuk pakan ini disinyalir; membawa atau sebagai carrier penyakit; dan cacing ini juga ditangkap dengan sedikit merusak mangrove. Karena, dalam penangkapannya, ada aktivitas penggalian di sekitar mangrove sehingga jadi perhatian pemerintah. 
 
 
Oleh karena itu, penyediaan biomassa Artemia menjadi salah satu alternatif untuk pakan induk udang. Dengan tujuan; menghasilkan benur-benur yang berkualitas. Di beberapa negara seperti Ekuador, Thailand, dan Vietnam itu sudah mengembangkan biomassa Artemia untuk pakan induk. Sehingga akan relatif lebih terjamin dari sisi kesehatan. 
 
 
Yang kelima, terkait dengan IPAL (instalasi pengolahan limbah). Khususnya di tambak-tambak intensif, IPAL harus dirancang sedemikian rupa sehingga bisa dijangkau oleh petambak. 
 
 
Karena petambak itu juga berhitung selalu berpikir kolam produksi. Apalagi IPAL menyerap anggaran cukup besar dalam pembuatannya. Oleh karena itu, desain IPAL itu harus dibuat lebih murah, seingga orang-orang juga bisa menjangkau dari sisi biaya. Paling tidak 10 % dari investasi total, adalah untuk kolam IPAL cukup relevan. 
 
 
Dan persepsi tentang IPAL ini harus dinterpretasikan secara tepat. Kadangkala, yang menjadi problem adalah tambak-tambak dalam satu hamparan milik rakyat. Menjadi soal adalah IPAL komunalnya, selain tandon komunal, adalah bagaimana mempersatukan persepsi masyarakat kapan masuk airnya, kapan tebarnya. Jadi harus bersamaan, dan itu susah diatur. 
 
 
Ada opini mengalir bahwa kadang di IPAL, penyakit mudah berkembang. Bukan karena IPAL, penyakit mudah berkembang, tidak. Berbeda kalau tambak yang satu komando sehingga bisa diatur. Jangan sampai salah menerjemahkan. Disitu memang kesulitan, tapi kalau dari gagasan konsep opini penulis sudah betul. Tinggal bagaimana dalam implementasinya, harus ada perubahan mindset bersama dan prosesnya panjang.
 
 
Efek Ekspansi 
Di daerah, contohnya di Sulawesi, sudah ada ekspansi berupa ekstensifikasi berteknologi intensif. Sebagai contoh, ekspansi berupa ekstensifikasi di Sulawesi sudah sekitar 6 perusahaan yang masuk. 
 
 
Khususnya di Sulawesi Tengah, terutama di Kabupaten Parigi Moutong, Banggai, Donggala, Toli-toli, dan Buol. Ada 5 kabupaten yang menjadi daerah pengembangan baru untuk tambak-tambak udang dengan teknologi maju, dan semua sudah gunakan IPAL. 
 
 
Dan sejauh ini bisa dikatakan, ekspansi ini bisa berefek positif. Apalagi dengan berinvestasi yang mengarah ke ekonomi yang juga ramah lingkungan. Bahwa, sebagai contoh pakan indukan yang cacing laut itu bisa merusak alam. Maka, dengan pengembangan, salah satunya biomassa artemia, bisa menjadi solusi. Lantas, budidaya udang juga ada IPAL serta tidak menerapkan antibiotik, melainkan probiotik. Jadi, efek negatif pasti ada tapi tiap aktivitas bisa diminimalisir.
 
 
Arah Produksi Udang 2022
Dengan adanya program peningkatan produksi ini, bisa dikatakan sudah sesuai arah kebijakan teknis. Sekarang, tergantung kepada implementasi di masing-masing daerah. Oleh karena itu, para kepala daerah, seperti gubernur, bupati, dan walikota itu harus diberikan pemahanan tentang program ini. 
 
 
Harus ada satu komando kebawah untuk meningkatkan produksi udang, dan itu semua bergantung ke kepala daerah. Jadi, kalau kepala daerah tidak punya persepsi sama, maka hal itu akan susah. 
 
 
Sementara itu, untuk 2022 nanti, dengan pergerakan investasi yang ada bisa menyebabkan peningkatan produksi. Cuma, belum bisa dihitung berapa banyak peningkatan itu karena semua baru melakukan pencetakan tambak, baik denga nteknol intensif maupun super intensif. Karena sudah ada beberapa pengusaha yang masuk ke teknologi super intensif dan terintegrasi hulu-hilir.
 
 
Apalagi di tahun depan, diharapkan pergerakan pandemi sudah menurun. Dan harga udang tidak terpengaruh oleh pandemi, kebetulan harga udang itu stagnan cenderung meningkat. Dalam situasi pandemi pun permintaan tidak jauh menurun dan harga juga tetap stabil. 
 
 
Kemudian, dengan adanya investasi di sejumlah daerah, ditambah lagi berkembangnya teknologi pendukungnya, membuat peluang peningkatan produksi semakin terbuka. Ditambah, investasi dalam pembangunan hatchery atau broodstock center menunjukkan ada prospek yang sangat bagus. 
 
 
Dan dalam hal ini, peran berbagai stakeholders harus ikut berperan aktif, seperti pihak asosiasi. Karena, masukan dari berbagai pihak ini bisa menjadi masukan kepada pemerintah untuk bersama-sama mendorong pengembangan produksi udang nasional.
 
 
Untuk pergerakan suplai-permintaan (supply-demand) tentu ada perubahan dari 2019 hingga saat ini. Dimana, dalam data 2019, kebutuhan udang dunia itu sekitar 6 juta ton, sementara global supply hanya 4,5 juta ton. Tentunya, dengan meningkatnya jumlah penduduk, membaiknya ekonomi karena pandemi sudah mulai berlalu, diharap akan tingkatkan permintaan dunia. Sehingga, diprediksikan adanya peningkatan permintaan dan permintaan produksi.
 
 
Sementara, dari sisi harga udang, bisa terlihat tren secara rata-rata dalam 10 tahun terakhir. Harga bisa dikatakan tidak banyak berubah, kecuali pada akhir tahun. Seperti saat ini, pada Desember, pengiriman keluar itu off. Sehingga, umumnya panen di Desember ini akan ditampung dan baru kemudian dikirim di akhir Januari tahun depan. Harga otomatis turun karena pabrik tutup dan tidak ada aktivitas ekspor-impor. Mirip seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya pada Maret sampai Oktober harga akan kembali naik. 
 
 
Harapan
Secara general, pengembangan produksi udang naisonal merupakan sebuah obsesi terkait pula dengan potensi Indonesia dengan garis pantai lebih dari 100 ribu km. Sedangkan negara produsen udang lainnya, seperti Thailand dan Vietnam garis pantainya lebih kecil, namun devisa hasil ekspornya bisa lebih dari dua kali lipat Indonesia. Sehingga, alasan untuk meningkatkan produksi nasional hingga 2 juta ton itu, bukan hal yang tidak mungkin. 
Namun begitu, semua variable, terutama untuk input produksi harus dibenahi. Dan, juga harus kurangi konten impor dimana banyak sekali peralatan yang digunakan itu adalah impor. Mengapa tidak dikembangkan di dalam negeri? Paling tidak, investor luar negeri bisa masuk ke dalam negeri dan mengembangkan pabrik untuk memproduksi barang-barang berkualitas. Di sisi lain, juga bisa difasilitasi kemudahan agar calon investor mau berinvestasi. 
 
 
 
Tenaga Ahli Kementerian Koordinator Maritim
dan Investasi di Bidang Budidaya 
 
 
 
 
 
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain