Rabu, 15 Desember 2021

Manajemen Lokasi Budidaya Udang Vanamei

Manajemen Lokasi Budidaya Udang Vanamei

Foto: Istimewa


Membuka usaha budidaya tambak udang vanamei dimulai dengan menentukan lokasi budidaya dengan serangkaian proses survei aspek teknis dan hukum, dilanjutkan dengan pembuatan desain dan membereskan perizinan.  
 
 
Tambak udang sudah menjadi industri yang bernilai besar dan sudah diatur dalam berbagai regulasi perizinan berusaha. Maka menurut Prof Sukenda – Guru Besar IPB University, legalitas udaha dan izin lokasi tambak sedapat mungkin harus clean and clear  sebelum menjalankan usaha tambak. 
 
 
Hal itu sudah menjadi tuntutan, meski masih sering menemui kendala, namun tetap harus diurus hingga tuntas untuk menjamin kepastian keberlangsungan dan keberlanjutan usaha. “Konsultasi dengan unit pelayanan terpadu di setiap daerah, atau dinas yang membidangi sektor perikanan setempat,” dia menyarankan.
 
 
Dia menyebutkan, perizinan usaha dan operasional tambak meliputi Izin Peruntukan dan Penggunaan Tanah (IPPT), Nomor Induk Berusaha (NIB), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Wajib Lapor Tenaga Kerja, Izin Penampungan Limbah B3, Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC), Izin Operasi Pembangkit Tenaga Listrik / Laporan Kepemilikan Generator Listrik (Genset), dan Izin Penampungan Bahan Bahan Bakar Minyak (BBM). “Kita mendengar kabar, kementerian (KKP -red) sedang berusaha menyederhanakan perizinan budidaya tambak udang ini. Kita tunggu saja semoga bisa berhasil,” sebutnya dalam webinar mengenai Standard Operation Procedure budidaya baru-baru ini. 
 
 
Senada, Hardi Pitoyo, – Ketua Harian Shrimp Club Indonesia (SCI) menyatakan desain dan lay out tambak akan ditanyakan / diminta sebagai dokumen pendukung pengajuan IMB. Dokumen itu harus memuat tata letak semua bangunan fungsional di kawasan tambak itu, diantaranya sistem pengairan, petak kolam tambak, perkantoran, gudang, ruang mesin, mess/tempat tinggal dan lain-lain.
 
 
Memilih Lokasi
Sukenda mengungkapkan faktor generik yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi tambak vanamei diantaranya adalah aspek ekologi, biologi, sosial-ekonomi, dan status tata ruang kawasan beserta legalitas lahannya. Semua harus diperhatikan selama pra survei dan survei. 
 
 
Pra survei adalah mengumpulkan data sekunder yang berhubungan dengan potensi lahan, status lahan, karakteristik hidro-oseanografi, iklim, sosial ekonomi dan peraturan yang berlaku. Data-data itu dapat diperoleh di KKP, dinas kelautan dan perikanan, Bapeda, dan dinas yang mengampu hidrologi – oseanografi.
 
 
Setelah lokasi ditetapkan, maka perlu dicek kesesuaiannya dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW). “Ini critical saat ini, harus benar-benar dipastikan, karena banyak perubahan RTRW. Kawasan yang semula untuk produksi pertanian, berubah menjadi pariwisata bahkan industri,” tandas Sukenda dalam acara yang disiarkan pula di Youtube ini. 
 
 
Selanjutnya dilakukan perencanaan layout yang disesuaikan dengan kontur lahan, ketinggian lahan, akses jalan, ketersediaan listrik, jenis tanah, kualitas air dan arah water inlet – tandon air – petak tambak – dan outlet. Variabel-variabel itu kemudian dinilai bobotnya melalui scoring and weighting. Skor di bawah 40, tidak layak, antara 40 – 59 bagus, skor 60 – 79 sangat bagus, dan 80 – 100 paling bagus untuk dijadikan tambak. 
 
 
Secara deskriptif, Sukenda menguraikan setidaknya lokasi calon tambak harus sesuai dengan rencana zonasi dan RTRW, memiliki kelengkapan legalitas hukum pertanahan yang jelas dan aman. “Jangan pernah bereksperimen membangun tambak pada lokasi yang belum jelas status zonasi dan legalitasnya,” dia menegaskan. 
 
 
 
Selengkapnya Baca di Edisi 115/ 14 Desember - 15 Januari 2022

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain