Rabu, 15 Desember 2021

Antara Intensifikasi & Ekstensifikasi Tambak

Antara Intensifikasi & Ekstensifikasi Tambak

Foto: TROBOS Dini


Masa pandemi terbukti bukan halangan untuk usaha tambak udang nasional terus tumbuh, justru tantangan klasik yaitu perizinan dan penyakit yang masih jadi hambatan utama
 
 
Masa pandemi pun belum kunjung usai. Memasuki tahun 2021, para pengusaha tambak  nasional mulai menyesuaikan diri dengan segala keterbatasan yang terjadi selama pandemi. Tanpa diduga puncak pandemi terjadi di pertengahan tahun 2021. Hampir semua kegiatan usaha terdampak dengan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
 
 
Khusus di usaha budidaya tambak udang, kegiatan produksi budidaya umumnya tidak terhenti. Ketua Petambak Muda Indonesia, Rizky Darmawan menyampaikan bahwa untuk tahun 2021 ini perkembangan tambak sudah mulai mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan tidak ada kendala, sebab jalur logistik berjalan dengan lancar.
 
 
“Meskipun kita masih menghadapi pandemi, namun efek negatifnya terhadap perkembangan tambak udang tidak terlalu terlihat. Sebab sejauh ini jalur logistiknya tetap berjalan dengan lancar, meskipun ada juga hambatan yang pernah kami hadapi tetapi bisa segera diatasi,” terang direktur PT Delta Marine Indonesia tersebut.
 
 
Kondisi ini mendorong pengusaha petambak untuk terus berproduksi bahkan ada sebagian yang terus berekspansi. Meski tak seagresif ekspansi pada saat sebelum pandemi, tapi pengembangan tambak baik pemanfaat tambak mangkrak maupun pembukaan lahan tambak baru terus dilakukan. Upaya pangingkatan produksi tambak juga dilakukan melalui peningkatan skala usaha tambak (intensifikasi). 
 
 
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2018 menunjukkan, potensi lahan tambak pesisir Indonesia ada sekitar 2,2 juta hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 757 ribu hektar (sekitar 25 %). Artinya ruang untuk perluasan tambak udang masuk sangat terbuka. Berikut hasil penelurusan tim TROBOS Aqua bertemu dengan sejumlah pengusaha tambak udang di berbagai daerah.
 
 
Terus Tumbuh
Menurut Direktur PT Prima Dwimitra (Konsultan Konstruksi Tambak Udang), Suseno, ekspansi tambak justru sangat meningkat saat pandemi, mulai 2020 sampai 2021 ini justru bertambaksangat pesat. Wilayah yg peningkatannya masif adalah di Bangka Belitung dan Sulawesi. Untuk pengusaha pemula tambak yang dikembangkan umumnya luasan 5 sampai 10 hektar. Semantara untuk petambak lama ekspansi tambak kisaran antara 20 hektar sampai 100 hektar, bahkan ada yang lebih.
 
 
Dijelaskan Suseno, saat untuk wilayah Bangka Belitung sudah mulai kesulitan utk mencari lahan utk tambak. Ekspansi tambak di wilayah lain juga terus berkembang, misalnya di Lombok, Sumbawa, Cianjur Selatan, dan Bali. “Ekspansi tambak di daerah-daerah tersebut tapi tidak luas karena terbatasnya lahan untuk tambak,” kata Suseno. 
 
 
Hal serupa diungkapkan Ketua Ikatan Petambak Pesisir Barat Sumatera (IPPBS) Agusri Syarief. Kawasan yang banyak ekspansi tambak pada tahun 2021 adalah ke Bangka. Dari sisi perizinan dan kepastian hukum soal lahan tidak banyak masalah, hanya soal penyakit juga bakal menjadi kendala. “Apalagi jika pemerintah kembali mengizinkan penyedotan pasir timah di lepas pantai Pulau Bangka. Ini tentu malapetaka bagi tambak udang di pulau tersebut,” kata Agusri.
Agusri menyebut, produksi udang dari Bangka sudah mencapai 2 ribuan ton/bulan, sudah menyalip Lampung yang berkisar hanya Rp 1.500 ton/bulan. Namun belum tentu tambak di Bangka lebih luas dari Lampung sekitar 35 ribu hektare, karena hampir 50 % tambak di Lampung tidak beroperasi.
 
 
Sementara untuk Belitung, tersedia lahan yang cukup luas. Hanya belum banyak petambak yang berminat karena biaya produksi mahal berhubung transportasi benur dan pakan yang harus didatangkan dari Lampung atau Jakarta. Kemungkinan lahan tersedia luas adalah di Kalimantan dan Sulawesi.
 
 
Lebih lanjut Agusri mengambarkan terkait tambak udang di wilayah Lampung. Menurutnya, secara umum tidak ada ekspansi tambak di Provinsi Lampung tahun 2021, karena 3 kabupaten sentra tambak udang sudah melakukan perubahan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW), yakni Lampung Selatan, Pesawaran, dan Pesisir Barat (Pesibar). Kawasan yang sebelumnya merupakan zona budidaya ikan diubah menjadi kawasan pengembangan pariwisata.
 
 
Di Lampung Selatan dan Pesawaran, tambak yang eksisting masih diperbolehkan beroperasi, namun tidak diizinkan untuk menambah kolam. Lalu di kedua kabupaten tersebut tidak ada izin pembukaan tambak baru.
 
 
“Bahkan di Pesibar, tambak yan sudah berizin sebelum diterbitkannya Perda RTRW yang baru di empat kecamatan yang memiliki garis disegel Pemkab setempat tanpa ganti rugi. Akibatnya tujuh petambak anggota IPPBS rugi miliaran. Ini tentu menjadi trauma dan menakutkan bagi investor yang berencana membuka tambak di Lampung karena Pemkab sewenang-wenang,” ujar Agusri di kantornya PT Anesta Agung di bilangan Campangraya, Bandarlampung.
 
 
Di luar ketiga kabupaten tersebut, Agusri melanjutkan, memang masih terdapat kabupaten yang memiliki kawasan pantai, seperti Lampung Timur, Lampung Tengah, Tulangbawang, dan Tanggamus. Namun di Lampung Timur, Lampung Tengah dan Tulangbawang berada di pantai timur Lampung sudah endemi penyakit. Perusahaan tambak udang, PT Bratasena dan eks Dipasena juga kesulitan akibat maraknya penyakit. 
 
 
Lalu untuk Tanggamus, masih ada areal, namun kesulitan menyedot air karena terdapat pasir hidup di depan pantainya. Demikian pula di dua kecamatan di Pesibar (Ngaras dan Bengkunat) yang masih menjadi zona budidaya perikanan, petambak kesulitan menyedot air karena tidak adanya karang di bagian dasar lepas pantainya.  
 
 
Hanya di Bengkulu, kata Agusri, yang masih ada lahan untuk tambak. Persoalannya selain, sebagian besar kesulitan menyedot air, juga sudah muncul penyakit, terutama Myo sehingga mengurangi minat petambak ekspansi ke provinsi tersebut.
 
 
Kalau pun ada ekspansi di Bengkulu hanya skala kecil dan beberapa petambak mencoba membuka tambak-tambak bundar. Lalu untuk Sumatera Barat, tidak tersedia lahan yang luas, belum lagi status lahan yang umumnya tanah ulayat yang penggarapannya harus sesuai dengan hukum adat setempat.
 
 
Sementara itu salahsatu wilayah yang juga menjadi lokasi yang tengah ramai pengembangan tambak adalah Nusa Tenggara Barat. Menurut Nandang Romli, Petambak Udang dari Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah Lombok, masa pandemi tidak mempengaruhi pertumbuhan dan bisnis  udang di Lombok NTB. Hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya jumlah tambak di seluruh kawasan di Lombok. Diduga jumlah pertambahan jumlah dan luasan tambak mencapai 50 % dari total sebelumnya.
 
 
 
Selengkapnya Baca di Edisi 115/ 14 Desember - 15 Januari 2022
 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain