Senin, 15 Nopember 2021

Thomas Darmawan: Gerakkan Patin? Contohlah Vietnam!

Thomas Darmawan: Gerakkan Patin? Contohlah Vietnam!

Foto: 


Justru, yang harus dilihat adalah keseriusan mereka mengembangkan sektor-sektor itu. Lihat bagaimana seriusnya pemerintah Vietnam mendukung perikanan dengan turun langsung. Pemerintah membantu dari sisi perbankan, dari sisi keamanan. Mereka serius membantu pembudidayanya. (blow up)
 
 
Sebelum berbicara ke arah perpatinan nasional, mari melihat gambaran pasar sektor perikanan secara umum pada 2021 ini. Sebagai gambaran, menurut berita yang diturunkan oleh situs CNN Business, Organisasi Pangan Dunia (Food Assosiation Organization atau FAO) mendeklarasikan akan adanya kenaikan Index Food Price sebesar 30 % pada tahun ini. Kondisinya seperti ini, belum bisa dipastikan. 
 
 
Selain itu, ada pergerakan di negara-negara tujuan ekspor dengan kebijakan masing-masing. Yang otomatis akan turut berpengaruh pada negara pengekspor perikanan seperti Indonesia. China misalnya, diberlakukan larangan untuk ‘membuang-buang makanan’ dan ‘berfoya-foya’ yang implikasinya pada produk yang dihargai secara premium. Sebut saja, komoditas perikanan premium seperti kerapu dan lobster menurun penjualannya karena negara tujuan ekspor dari Indonesia adalah Tiongkok.  
 
 
Di samping itu, berlapisnya aturan yang diberlakukan selama pandemi ini mempengaruhi arus penjualan produk ke negara Tirai Bambu ini. Misalkan, untuk produk makanan yang diekspor ke Tiongkok harus melalui screening berlapis agar tidak terdeteksi mengandung virus Covid-19. 
 
 
Begitu pula pihak-pihak yang terlibat di dalamnya harus melalui rangkaian tes PCR secara rutin untuk menghindari terdeteksinya penyakit ini di sana. Dengan ketatnya arus pengelolaan aturan ini, memberikan implikasi biaya produksi yang harus ditanggung eksportir yang terlibat.
 
 
Sejauh ini, yang bisa dilihat ada perbedaan yang selalu membayangi antara perikanan laut, payau, dan air tawar. Untuk budidaya, khususnya udang ekspornya kian meningkat pada tahun ini. Untuk air laut, komoditas rumput laut ada tantangan dalam proses produksi karena harga bahan baku untuk produksi mengalami kenaikan. 
 
 
Namun, untuk komoditas air tawar ada pergerakan yang harus diwaspadai. Nila atau tilapia, tahun ini cenderung menurun karena sumber produksinya, seperti Danau Toba-Sumatera Utara mengalami pembatasan. Yaitu adanya aturan untuk pembatasan jumlah keramba jaring apung (KJA) yang produksi utamanya adalah nila. Adanya aturan pembatasan tersebut, produksi nila pun menurun. 
 
 
Rangkul Investor Asing?
Sementara komoditas patin, sebut saja, ekspornya sangat sedikit dan belum bisa menyaingi Vietnam. Dan jika bisa dilihat dari kacamata yang lebih besar, bisakah kita bekerjasama dengan Vietnam? Yakni merangkul investor sana untuk berinvestasi di Indonesia.
 
 
Sebut saja, kolam-kolam patin Vietnam didominasi di lokasi tepi Sungai Mekong. Di sungai ini, keadaan pasang surutnya sangat mempengaruhi kebutuhan air kolam-kolam dalam di sepanjang sungainya. Apalagi ketika pasang, airnya langsung memenuhi kolam-kolam untuk kebutuhan hidup patin.
 
 
Di lain sisi, banyak pihak dan aturan terlibat di jalur ini. Dengan hulu yang berada di Tiongkok, alur sungai ini melalui negara-negara seperti Laos, Kamboja, Vietnam dan Thailand. Sungai besar yang bermuara di Vietnam ini menjadi sumber utama untuk kegiatan pertanian dan perikanan di Vietnam. 
 
 
Namun, sungai ini juga menjadi sumber kegiatan pertanian dan perikanan di keempat negara lainnya. Yang alhasil, dari negara-negara yang dilalui, membawa berbagai masukan ke muaranya di Vietnam. 
 
 
Otomatis, keberadaan kandungan-kandungan di sungai ini turut mempengaruhi hasil produksi perikanan yang dihasilkan. Untuk kemudian, produk yang diperdagangkan sering memunculkan isu dengan negara-negara tujuan ekspor negara yang beribukota di Vientiene ini.
 
 
Peluang ini bisa dimanfaatkan Indonesia dengan menyediakan lokasi yang sesuai untuk budidaya patin dengan teknologi yang bisa di-sharing Vietnam. Mengapa hal ini tidak dilakukan, sementara orang Vietnam dulunya juga belajar budidaya patin dari Indonesia? Kita pun bisa belajar, copy paste sistem budidaya mereka di lahan-lahan kita. 
 
 
Juga dari sisi processing-nya. Sumber daya manusia (SDM) Vietnam sudah canggih dalam pemrosesan fillet patin dengan bisa menghasilkan fillet dari 3 ekor patin dalam waktu satu menit. Keterampilan ini bisa ditingkatkan dengan pelatihan.
 
 
Yang masih terjadi, adalah kita masih curiga dengan investor asing ini. Dimana kita takut dari hal yang sudah-sudah dimana teknologi yang kita punya dikembangkan oleh mereka. 
 
 
Justru, yang harus dilihat adalah keseriusan mereka mengembangkan sektor-sektor itu. Lihat bagaimana seriusnya pemerintah Vietnam mendukung perikanan dengan turun langsung. Pemerintah membantu dari sisi perbankan, dari sisi keamanan. Mereka serius membantu pembudidayanya.
 
 
Belum lagi soal pemasaran. Vietnam cukup dibantu oleh para diasporanya yang banyak bekerja di sektor perdagangan, seperti di Eropa dan Amerika. Diaspora ini tinggal di luar Vietnam, sekaligus memperdagangkan produk perikanan dari Vietnam. Ini sistem promosi yang efektif.
 
 
Permudah Aturan
Melihat situasi pemasaran yang berkembang, harus dilihat dari berbagai sisi yang potensial. Dari sisi ekspor, ada plus minus mengemuka, khususnya bagi pelaku usaha yang baru mau mengincar pasar ekspor. 
 
 
Ada kecenderungan, pelaku eksportir hanya itu-itu saja, karena persyaratan yang diterapkan. Sebagai contoh, untuk ekspor ikan, pelaku usaha harus punya processing yang dikeluarkan SKP-nya. Kemudian, dari sini harus mendapat sertifikasi HACCP dari badan karantina. Dengan adanya dua sertifikat ini, keluarlah approval number yang nantinya akan disampaikan ke negara-negara pengimpor. 
 
 
Artinya, ada calon eksportir baru yang ingin masuk harus mensyaratkan SKP dan HACCP, bila tidak masuk syarat, akan susah. Namun, untuk approval number nya diproses 3-6 bulan sekali setelah diketahui perusahaan yang akan ekspor harus bonafit dan produksinya bagus. 
 
 
Bagaimana mau pengalaman? Makanya yang ekspor dari dulu ya itu-itu aja, yang kadung nyaman dengan negara yang sudah ada, dan sedikit susah untuk memilih jalur berbeda. 
 
 
Kalau mau genjot ekspor, harusnya dipermudah. Apalagi bagi UKM yang agak kesulitan dan belum tentu bisa ekspor. Makanya ekspor tidak bisa berkembang secara cepat. Negara lain kalau mau ekspor pake persyaratan daftar ini itu. Contoh Singapura, ekspor komoditas ikan tertentu malah lebih tinggi dari kita. Karena di kita agak terbatas dalam segi ini. 
 
 
Sementara untuk mengarah pasar dalam negeri pun belum sepenuhnya dilirik oleh perusahaan besar, apalagi yang sudah kadung eskpor. Karena jika sudah dibandingkan, sayang jika sudah punya pasar Eropa dan Amerika. Pasar dalam negeri alias pasar domestik saat ini banyak diisi oleh produsen skala medium dan UKM. 
 
 
*Ketua Komite Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain