Senin, 15 Nopember 2021

Cegah Penyakit, Lakukan Pendederan Benur

Cegah Penyakit, Lakukan Pendederan Benur

Foto: 


Pendederan benur atau nursery pond (NP) bisa menjadi solusi mencegah munculnya penyakit pada awal budidaya udang. 
 
 
Pendederan benur dalam kolam pendederan biasanya dilakukan selama 25-30 hari. Agus Subagyo, Sales Engineer Asia PT Inve Indonesia menuturkan, benur yang didederkan bisa mencegah penyakit yang umumnya muncul pada usia di bawah 30 hari dan juga mampu menghemat biaya produksi. Pendederan benur bisa menjadi solusi mencegah munculnya penyakit pada awal budidaya udang, seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disesase (AHPND) atau infeksi yang disebabkan bakteri vibrio parahaemolyticus. 
 
 
“Kita lihat berdasarkan pengalaman beberapa negara produsen udang yang sebelumnya mengalami pandemi penyakit EMS dan AHPND. Penyakit-penyakit ini berhasil dicegah dengan program pendederan. Termasuk di Indonesia sendiri, sudah banyak pembudidaya udang yang berhasil mengatasi penyakit pada awal budidaya dengan menjalankan NP,” ujar Agus di Lampung, baru-baru ini.
 
 
Pendederan Benur di Lampung
Agus kemudian menuturkan lebih lanjut mengenai teknis pendederan benur ini. Dimana, ia mencontohkan pihaknya yang melakukan NP di pantai timur Lampung. Pemilihan lokasi, terang Agus, mengingat di kawasan ini sudah endemik dengan penyakit yang muncul pada awal budidaya udang; yakni WSSV dan sejak dua tahun belakangan ini disusul AHPND. Bahkan dari hasil pengecekan air laut di pantai timur Lampung yang menjadi sumber air ditemukan kandungan vibrio dalam kadar tinggi.
 
 
Pendederan dijalankan di areal tambak Sunarko di tambak Blok 3, PT Indokom di Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan-Lampung. NP dijalankan pada dua kolam bundar masing-masing berdiameter 25 meter atau 490 m2 dengan ketinggian air 1 meter. 
 
 
Pada kedua kolam ini ditebar 1 juta benur dengan ukuran PL (post larvae) 8-9 yang berarti kepadatan tebar 2 ribu/m3 atau 2 ekor/liter air. Pada saat diterima benur sudah mengantongi sertifikat bebas vibrio dan penyakit yang pengecekannya menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) di hatchery (pembenihan). Benur ini akan ditebar pada dua kolam budidaya masing-masing berukuran 4 ribu meter persegi. Pada siklus sebelumnya pada kedua kolam ini terserang AHPND pada DOC 20 hari.
 
 
Menurut Sunarko, di Blok 3 ini terdapat 13 kolam budidaya. Saat ini sudah mencapai siklus ketiga yang sedang berjalan. Pada siklus kedua, sebanyak 2 kolam dilakukan panen pada DOC (day of culture atau hari budidaya) 111 hari dengan size (ukuran banyak ekor/kilogram) 57, SR (survival rate atau laju sintasan) 88 %, FCR (Feed Convertion Ratio atau rasio konversi pakan) 1,15 dengan rata-rata produksi sebanyak 11 ton/ha.
 
 
“Kita coba menjalankan pendederan dengan tujuan untuk mencegah penyakit di awal budidaya karena di kawasan ini sudah endemik penyakit WSSV dan dua tahun belakangan muncul pula AHPND. Selain itu untuk menghemat biaya pakan, obat-obatan dan listrik dan mempercepat siklus panen. Dari perhitungan sementara biaya NP selama 25 hari adalah Rp110/ekor,” ujar Sunarko, baru-baru ini.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 114/15 November – 14 Desember 2021
 

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain