Senin, 15 Nopember 2021

Aplikasi Eco-Balance dan Bakteriophage

Aplikasi Eco-Balance dan Bakteriophage

Foto: Istimewa


Sebagai cara budidaya dengan menggunakan atau mengaplikasikan bakteri konstruktif untuk mengendalikan mikroorganisme destruktif atau merugikan bagi udang pada ekosistem tambak. 
 
 
“Adapun cara pandang konsep yang juga biasa disebut sebagai sistem competitive biology ini adalah hampir semua mikroorganisme pada perairan tambak berguna sebagai rantai makanan (food chain) dan rantai kehidupan (life chain),” ungkap Margawan Kelana, Manajer Teknisi dan Lab PT Evergreen Feed. Di tambak, mikroorganisme seperti bakteri dan virus secara alamiah sudah ada dari benur dan dari lingkungan dan lain-lain. 
 
 
Begitu pula plankton, sudah ada dari air dan lingkungan kolam. Suatu saat bisa terjadi booming jika begitu saja dibiarkan berkembang, maka harus ada kontrol agar tidak terjadi booming.   “Kontrol dilakukan dengan cara constructive microorganism dipelihara dan dioptimalkan fungsinya. Destructive microorganism dihambat pertumbuhannya. Selanjutnya, ekosistem dikendalikan dengan memberikan tambahan mikroorganisme agar udang hidup nyaman dan tumbuh dengan baik atau normal,” dia menjelaskan. 
 
 
Margawan memberikan contoh. Pada tambak di daerah Jawa Tengah (Tegal, Brebes dan Pekalongan) - yang terkenal memiliki level total organic matter (TOM) sangat tinggi, mampu menghasilkan angka lolos hidup udang hingga 70% sampai panen pada umur (day of culture, DOC) 105 hari. 
 
 
“Masih dalam batas layak ekonomi budidaya, mengingat ini masih dalam masa pandemi AHPND,” tandas dia. Proses eco-balancing yang dilakukannya tanpa memasukkan bahan kimia lethal bahkan pada proses sterilisasi tambak. Tambak hanya diberikan bahan organik mineral dan organisme kompetitif. Tanda utama kesuksesan balancing diindikasikan dari sedimen tambak yang relatif tidak berbau. 
 
 
Dia pun mengajak petambak untuk memperhatikan warna air, bahkan sejak sebelum tebar, karena mempengaruhi fluktuasi harian konsentrasi oksigen (dissolved oxygen, DO). “Kita akan lihat pada 2 hari sebelum tebar benur, apakah plankton yang mengarah ke coklat sudah bagus kelimpahannya, seperti air coklat lebih stabil pH-nya, air tambak berwarna hijau memiliki fluktuasi pH yang sangat drastis sehingga mudah membuat udang stres. Selain itu, pergeseran pH yang fluktuatif akan membuat bakteri tidak dapat bekerja,” terangnya pada webinar series beberapa waktu lalu. 
 
 
Dipaparkannya, zooplankton harus ditumbuhkan sejak dari sumber air. Sehingga jika petambak melakukan sterilisasi air dengan bahan kimia letal maka dipastikan sulit untuk menumbuhkannya. 
 
 
“Kalau terpaksanya melakukan sterilisasi air, maka sebaiknya diikuti dengan penambahan artemia sampai 7 hari. Hasilnya bagus, air bisa menuju warna coklat. Bisa juga dengan fermentasi karbon untuk memperbaiki C-N ratio bukan N-P ratio,” ujar Margawan. Fermentasi selain menumbuhkan bakteri, juga zooplankton sebagai makanan alami yg menumbuhkan imunitas alami bagi udang. 
 
 
Dia pun membuka data recording  tambak yang menunjukkan konsentrasi bakteri vibrio sudah tinggi, namun udang masih dalam keadaan baik. “Karena ada balancing dan upaya kompetisi. Artinya kalau antibodi sudah terbangun udang akan menyesuaikan dengan tantangan lingkungan. Hindari bahan kimia yang bisa memngganggu keseimbangan bakteri dan bahkan menimbulkan resistensi bakteri patogen,” dia menegaskan. 
 
 
Bioflok
Mirip dengan metode eco-balancing yang diusung Margawan, USSEC aquaculture consultant, John Hargreaves menyatakan semua bakteri dalam usus ditentukan oleh mikroba pada sedimen tambak, baik pada udang besar maupun kecil. “Bakteri vibrio lebih banyak tumbuh dalam usus saat salinitas tinggi. Ada bakteri penjaga gawang dalam usus yang jangan sampai hilang, yaitu rhodobacter. 
 
 
“Bioflok itu menarik, berguna bagi lingkungan, udang, dan juga mikrobia yang lain. Bioflok berukuran besar maka komposisi di dalamnya identik dengan bakteri dalam usus. Maka kalau ingin bakteri usus dikuasai bakteri tertentu maka bikinlah bioflok yang besar-besar,” ungkap dia.
 
 
Menurut dia, hetero-bioflok sangat efektif mengatasi penyakit EMS. Sebab harus ada bakteri yang bersifat antagonistik terhadap vibrio. Selain itu juga juga harus ada bakteri yang menguraikan bahan organik dalam air dan membantu pencernaan dalam perut udang. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 114/15 November – 14 Desember 2021
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 113/15 Oktober – 14 November 2021

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain