Senin, 15 Nopember 2021

Serapan Olahan Patin Mulai Pulih

Serapan Olahan Patin Mulai Pulih

Foto: 


Permintaan pasar olahan fillet patin yang sempat lesu karena pandemi, kini berangsur kembali normal. Sayangnya, suplai bahan baku patin belum bisa memenuhi permintaan pabrik pengolahan
 
 
Produk fillet (daging tanpa duri) ikan patin, kian digemari masyarakat dalam negeri. Pasalnya kian merambahnya restoran yang menjamur menyajikan menu fillet ikan yang berbahan baku dari patin. Jika dianalogikan demikian, seharusnya pemintaan akan row material (bahan baku) patin sangat tinggi. Namun pada kenyataannya, dari sisi budidayanya sendiri masih banyak problematika yang meliputinya.
 
 
Beberapa waktu lalu, tim TROBOS Aqua mencoba menelusuri keberlangsungan industri ini. Di sela-sela waktunya Samiono Abdullah selaku Direktur CV Wahana Sejahtera Food mengatakan bahwa hingga saat ini industri olahan patin masih menjanjikan, namun beberapa waktu lalu dari awal pandemi hingga saat ini kondisinya menurun. 
 
 
Pasokan Bahan Baku
“Semenjak 2 tahun silam penurunan produksi insdustri olahan patin anjlok menjadi 30 % - 40 % disebabkan oleh suplai bahan baku yang tidak bisa kontinu,” ungkap pria yang akrab disapa Samiono. Imbuhnya, dimana titik-tik sentra budidaya seperti Lampung, Medan, Tulungagung, sampai Puwakarta produksinya menurun. 
 
 
Salah satu penyebabnya, kata Samiono, pada tahun ini lalu untuk pembelian bahan baku di level pembudidaya segmen pembesaran nilainya sempat turun hingga Rp 14 – 15 ribu per kg. Mungkin dengan nilai tersebut yang membuat teman-teman pembudidaya lesu dan kurang semangat menjalankan usahanya. Terlebih lagi, tak jarang pula disaat kondisi tersebut banyak yang beralih komoditas sementara memelihara ikan hias.
 
 
Mengingat, Ia Katakan, pada awal-awal pandemi harga patin turun dan ikan hias menjadi buruan. Hal-hal tersebut yang juga merupakan salah satu penyebab turunnya suplai bahan baku turun. Disamping itu, pada awal kebijakan pemerintah untuk menutup akses ke berbagai wilayah juga menjadi salah satu penyebab kelangkaan bahan baku di akhir 2020 hingga beberapa bulan di tahun 2021 ini.
 
 
“Pemasalahan lainnnya, rata-rata benih yang dibesarkan di sentra-sentra budidaya terhambat dan tidak dapat didistribusikan dari pembenih ke pembesar. Dan juga musibah banjir bandang yang melanda di kawasan budidaya menyebabkan kelangkaan bahan baku. Sehingga dalam kurun waktu tertentu akan ada masa langkanya keberadaan bahan baku patin,” terang pria yang juga tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) ini kepada TROBOS Aqua.
 
 
Namun di pertengahan tahun 2021 hingga akhir tahun ini harga beli di pembudidaya sudah membaik. Saat ini nilainya berkisar Rp 18.500 yang berarti ada kenaikan sekitar 20 - 27 % dari tahun lalu. Harga tersebut berlaku di wilayah Jawa Timur (Jatim), sedangkan di Lampung biasanya masih bisa dapat sekitar Rp 17.000 – Rp 17.500 per kg. Dengan demikian usaha pembesaran patin masih sangat layak dijalankan kedepannya mengingat ada kenaikan tersebut. 
 
 
“Untuk saat ini harga pokok produksi di pembudidaya berkisar antara Rp 13.000 – Rp 13.500 per kg jika dengan harga pakan saat ini, dengan harga beli terbaru maka masih ada margin yang lumayan bisa peroleh oleh pembudidaya,” Ungkap Samiono yang setiap bulannya menargetkan produksi fillet-nya sebesar 150 ton. Lanjutnya, melihat saat ini banyak hotel, restoran, dan katering yang sudah mulai berjalan, maka permintaan patin kembali meningkat khususnya sejak pertengahan Oktober 2021 lalu. 
 
 
Sedikit berbeda dengan Samiono, Stephanie Endang MS selaku Asisten Vice President Fish Feed East Operation di PT Central Proteina Prima Tbk (CPP) mengatakan, geliat industri patin dalam negeri masih berjalan dengan baik. Pasalnya, walaupun dikala pandemi yang melanda,  kebutuhan pangan terutama lauk berupa ikan masih banyak diminati. Terlebih lagi untuk olahan patin, dimana produk yang beredar merupakan fillet yang ready to cook (siap dimasak). Dengan demikian tak heran produk olahan ini masih menjadi pilihan masyarakat di tengah pandemi ini. 
 
 
Walaupun demikian, Stephanie katakan mengenai row material (bahan baku) sepaham dengan Samiono. Kestabilan suplai bahan baku patin ini yang memang terkadang menjadi masalah, ketika bahan baku melimpah ternyata demand (permintaan) menurun, ataupun kadang terjadi sebaliknya. 
 
 
Maka dari itu, mengenai jumlah produksi yang dihasilkan di Unit Pengolahan Ikan (UPI) CPP, angkanya tidak muluk-muluk dan baiknya mengikuti rata-rata demand sehingga dapat meminimalisir risiko dan biaya. “Coba banyangkan, jika produksi overload (berlebihan) sudah pasti akan disimpan dalam waktu yang lebih lama di UPI, dengan demikian pembengkakan biaya untuk penyimpanan terutama listriknya sudah pasti besar,” tuturnya siang itu. 
 
 
Stephanie menambahkan, rata-rata produksi UPI sekitar 100 ton per bulan.  Angka tersebut merupakan angka yang aman, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, sehingga bisa menjaga kestabilan pasar. 
 
 
Sebagai pembudidaya patin segmen pembesaran, Sirkam Efendi, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung ikut angka bicara mengenai keberadaan bahan baku patin saat ini. Terangnya, Belakangan ini permintaan patin mulai berangsur pulih. Hanya produksi patin per bulannya belum merata seperti sebelum pandemi Covid-19 tempo hari. 
 
 
Termasuk produksi dari pembudidaya mitra-mitra di sini. Sehingga produksi secara keseluruhan juga berfluktuasi, bisa 20 ton  per  bulan, bahkan bulan berikutnya bisa naik hingga 50 ton per  bulan . “Namun secara umum, saat ini kondisi budidaya patin di Pringsewu belum menggembirakan, karena harga pakan terus naik, sementara harga jual patin stagnan, baik yang untuk konsumsi lokal maupun untuk fillet,” ungkap Sirkam.  
 
 
Kualitas Patin
Hingga saat ini, Samiono sampaikan, perlu perhatian khusus bagi pemerintah dan para stakeholder (pemangku kepentingan) industri patin mengenai kualitas bahan baku dan standar budidaya. Pasalnya, melihat ketersediaan bahan baku yang ada hanya beberapa sentra produksi saja yang bisa memenuhi kriteria standar kualitas yang dibutuhkan UPI. 
 
 
Kriteria yang diinginkan UPI, lanjutnya, adalah ukuran minimal 800 gram per ekor dan maksimal sekitar 1,5 kg per per ekor. Kemudian warna daging putih, dan yang terpenting adalah tidak ada bau, rasa dan aroma lumpur (muddy smell) di daging patin. “Hal-hal ini yang sebaiknya diperhatikan dan diupayakan para pembudidaya agar bisa menghasilkan kualitas fillet yang baik,” saran Samiono. 
 
 
Menurutnya, di Indonesia sendiri tidak semua daerah bisa menghasilkan patin dengan kualitas tersebut. Untuk daerah yang bisa menghasilkan patin sesuai permintaan UPI antara lain Tulungagung, Lampung, Medan, serta sedikit dari Jawa Barat (Jabar). Sedangkan sentra budidayanya sendiri di Kalimantan Selatan (Kalsel) warna daging yang dihasilkan kurang baik masih agak ke kuningan, namun demikian serapan untuk pasar lokalnya masih tinggi dan tidak perlu ke UPI. 
Membenarkan Samiono, Imza Hermawan selaku Ketua bidang Patin di APCI mengatakan, 90 % patin di Kalsel diserap oleh lokal atau pasar tradisional. Jadi hanya sedikit sekali UPI yang beroperasional di sana, sekalipun ada hanya membuat produk untuk lokalan saja. 
 
 
Bicara mengenai kualitas, ia lanjutkan, sebenarnya beberapa pembudidaya pun sudah mengetahui cara agar menghasilkan patin dengan kualitas baik. Dimana yang menjadi kunci adalah menjaga kualitas air dengan baik dan pakan tanpa zat warna kuning. Dengan demikian hasil daging yang diperoleh akan berwarna putih.
 
 
“Jika menjaga kualitas air berarti kan harus dilakukan dengan pergantian air yang rutin, kemudian pakan tinggal mencari produk mana yang tidak ada zat warna yang menyebabkan kuning. Namun kembali lagi masing-masing lokasi budidaya memiliki kondisi yang berbeda-beda, dan sulit untuk disamaratakan teknisnya,” ungkap Imza.
 
 
 
Selengkapnya Baca di Edisi 114 14 November - 15 Desember 2021
 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain