Jumat, 15 Oktober 2021

Kualitas Air, Benteng Kesehatan Udang

Kualitas Air, Benteng Kesehatan Udang

Foto: 


Tantangan penyakit udang yang semakin berat dapat diredam dengan cara menjaga kualitas air tambak.  Selain dari sumber air, penyakit juga bisa masuk melalui tanah, udang sakit, kontaminasi alat, lalu lintas manusia, dan dari benur.
 
 
Pakar Kesehatan Lingkungan Akuakultur Departemen Budidaya Perairan IPB University - Kukuh Nirmala menyatakan penyakit utama udang terkini pada umumnya sumbernya adalah perairan. Seperti; Early Mortality Syndrome (EMS) atau Acute Hepatopancreatic Necrosis Disesase (AHPND), White Feces Disease (WFD), Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP), Infectious Myonecrosis (Myo). 
 
 
Dijelaskannya, risiko penyakit dapat dihitung dengan rumus Snieszko D = H + P + S2 . Potensi serangan akan meningkat saat ada H = host (udang). P = patogen penyebab penyakit yang terbawa oleh air, orang, peralatan, udang sakit, dan vektor lainnya. Faktor risiko ini dapat dikurangi dengan desinfektan/desinfksi dan pemberantasan vektor (termasuk saponifikasi). Kuadrat faktor S = stres. Stres pada umumnya disebabkan oleh faktor lingkungan yang kurang baik. 
 
 
“Manusia pun sama, kalau lingkungannya kumuh, akan mudah terkena diare, penyakit kulit, dll (dan lain-lain),” ungkap  Kukuh Nirmala pada seminar online Aquabinar seri ke-14 yang digelar oleh TCOMM Trobos dan TROBOS Aqua pada Selasa (21/9) melalui aplikasi Zoom dan kanal Youtube AgristreamTV. Pembicara lainnya, Ricky Li Duan Kho – petambak udang dari Medan dan Givaldi Zhafran Amsi – Business Divelopment Manager e-Fishery.
 
 
Diterangkan Kukuh, faktor lingkungan bagi udang meliputi air, tanah dan cuaca. Kualitas air dan cuaca yang buruk sebagai faktor pemicu stres akan menurunkan kondisi tubuh udang, dan sekaligus meningkatkan potensi serangan patogen dari lingkungan. Inilah yang menyebabkan pada rumus Snieszko faktor stres lingkungan dikuadratkan. 
 
 
Stres akan menekan sistem imun dan menguras energi dari pakan – dimobilisasi untuk mengatasi stres. “Pada perubahan musim, siang hari sangat panas sedangkan malam sangat dingin. Sebenarnya bukan panas atau dinginnya yang memicu masalah, tapi perubahan suhu secara cepat sehingga udang belum sempat beradaptasi,” dia menjelaskan.
 
 
Menurut dia, faktor benih dan pakan relatif lebih mudah dikontrol, dengan menggunakan benur specific pathoten free (SPF) dan pakan yang berkualitas dan manajemen yang baik. Sedangkan air / tanah dan iklim sangat dinamis dan tidak dapat sepenuhnya dikontrol. Suhu, pH dan kadar oksigen (DO) pada pagi, siang dan malam sangat dinamis naik turunnya, sehingga memicu stres. 
 
 
Selain itu, air yang dimasukkan dari laut ke tambak pun tidak terjamin bebas patogen. Bahkan juga sangat rawan tercemar air buangan dari tambak, akibat layout (tampilan) dan pengaturan water inlet – outlet (saluran air masuk-keluar) kawasan tambak yang tidak benar. Selama masa budidaya, bahan organik dari sisa pakan, kotoran udang dan sisa molting (ganti cangkang) akan menghasilkan senyawa-senyawa gas H2S, amonia, dan nitrat yang menurunkan kualitas air tambak. 
 
 
Plankton, Bakteri, dan Penyakit
Kukuh memaparkan, sebenarnya, kualitas air tambak dapat terkendali kalau populasi plankton 'baik' dan bakteri 'baik' tinggi sehingga dapat mengimbangi laju akumulasi bahan organik pengganggu yang memicu perkembangan patogen dan. “Agar mikroorganisme baik ini eksis, syaratnya, makro dan mikro mineral dalam air harus terjaga. (lihar gambar),” tandas Kukuh. Contoh bakteri 'jahat' di tambak adalah Cyanobacteria, menghasilkan bau lumpur dan bioaktif metabolit seperti hepatotoksin (merusak hepatopankreas), neurotoksin, sitotoksin, irritant toxin, dermatotoksin dan shrimp toxin yang mematikan udang (lihat tabel/gambar).
 
 
Mengutip jurnal penelitian Prof Sukenda, Kukuh menerangkan hubungan antara profil plankton tambak dengan serangan WFD yang menyerang pada umur (day of culture, DOC) 15 hari, 45 hari dan 80 hari. Konsentrasi bakteri vibrio pada air tambak terserang WFD mencapai n x 103 cfu/ml dan pada tambak 'sehat' m x 102 cfu/ml. Padahal total bakteri pada tambak WFD maupun tambak sehat sama-sama 103 pada  DOC 80. Selanjutnya, konsentrasi vibrio pada saluran pencernaan udang terserang WFD mencapai q x 106 cfu/ml dan pada udang 'sehat' p x 105 cfu/ml bahkan pada DOC 80 hanya di bawah 102. 
 
 
Kukuh menemukan data yang menarik, tambak yang terkena WFD konsentrasi fitoplanktonya jauh lebih tinggi daripada tambak yang sehat. Puncaknya pada DOC 70, konsentrasi fitoplankton yang ditengarai berjenis blue green algae (atau disebut BGA, Cyanophyta, Cyanobacteria) / Cyanophyceae itu tembus di atas 16 x 105 sel/m3. Setelah dianalisis, ditemukan konsentrasi BGA tertinggi pada kondisi itu adalah Trichodesmium sp. Pada beberapa kejadian / temuan di lapangan, jika terjadi blooming (ledakan) plankton BGA pada DOC 5 dan konsentrasi vibrio tembus 102 – 103 maka muncul WFD. “Maka mau tak mau, harus dikelola dua-duanya, bakterinya (vibrio) dan planktonnya,” tandas dia. 
 
 
Sehingga patut diduga, kasus WFD yang penyebab utamanya adalah serangan vibrio, juga dipengaruhi oleh kondisi air tambak yang mengalami ledakan populasi Cyanobacteria. Mengutip sebuah laporan ilmiah, dia menjelaskan  toksin yang disekresikan Microcystis sp dan Anabaena sp sebagai 'anggota' BGA mampu menyebabkan lesi hepatopankreas dan degenerasi hepatosit pada udang vanamei maupun monodon sehingga menyebabkan kematian udang. Tambak mengalami ledakan populasi BGA karena konsentrasi amonia (NH4+) tinggi  dan rasio N : P rendah, pH tinggi dan kadar CO2 rendah. 
 
 
Menurut Kukuh, tak hanya penyakit bakterial yang dipicu oleh gangguan kualitas air. Penyakit viral seperti IMNV juga dipicu oleh stres lingkungan akibat meningkatnya konsentrasi nitrit. Pada kasus dimaksud, 2 pekan setelah lonjakan nitrit (konsentrasi hingga 8 mg/L) muncul gejala IMNV. 3 pekan kemudian, dilakukan panen paksa karena serangan sudah semakin parah. “Mekanismenya adalah, seharusnya akumulasi nitrit di tambak diubah menjadi nitrat oleh nitrobacter. Tetapi karena bakteri nitrifikasi tidak / gagal berkembang, terjadilah penumpukan nitrit. Nitrit menyebabkan stres, dan mudah kondisi air yang pekat dengan nitrit membuat IMNV semakin mudah menginfeksi udang.  
 
 
Maka , dia berpesan untuk menjaga kualitas air tambak, harus dilakukan upaya untuk menjaga agar plankton yang baik (non BGA) berkembang, bakteri baik berkembang dan nutrien untuk keduanya harus tersedia cukup dan seimbang di air tambak untuk menghidupi plankton dan bakteri baik itu. Plankton yang baik adalah jenis non-BGA, harus tersedia dalam jumlah yang cukup, kualitas yang cukup (ukuran plankton, ketebalan), komposisi spesies plankton, dan kontinuitas hidup plankton. “Plankton crash itu artinya terjadi kematian massal plankton, eksistensi plankton tidak kontinu,” kata dia. 
 
 
Kontinuitas regenerasi plankton penting karena plankton hanya bertahan hidup selama beberapa hari saja secara individu, dan secara komunitas umurnya hanya 1- 2 pekan. Penyebab kematian plankton selain karena 'umur' adalah karena terpapar terik matahari langsung (plankton di permukaan air), pencemaran, gangguan keseimbangan kimia tambak, dan kekurangan nutrisi. Menjaga eksistensi bakteri baik juga penting, dengan memperhatikan konsentrasi oksigen, pH, menjaga keseimbangan  mineral, suhu dan stabilitas salinitas.
 
 
Menjaga Kualitas Air
Ricky Li Duan Kho  menyatakan pengecekan air wajib dilakukan secara berkala dan petambak mengetahui upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas air. Alkalinitas, nitrit, pH, dan DO harus dicek di lapangan tidak di lab. Karena rentan terjadi perubahan selama perjalanan. Selain variabel itu, bisa dicek di lab. “Setelah air dicek secara rutin, dijaga dengan 4 hal ini. Probiotik, penambahan mineral, disinfektansi air dan penggantian air / sifon,” ungkap pemilik tambak berbendera CV Horas yang aktif di Shrimp Club Indonesia (SCI) Medan-Sumatera Utara ini.
 
 
 
 

 
Aqua Update + Teknis + Cetak Update +

Artikel Lain