Jumat, 15 Oktober 2021

Sistem Budidaya Nila RAS & Bioflok

Sistem Budidaya Nila RAS & Bioflok

Foto: Dok. KKP


Dongkrak produktivitas budidaya ikan nila dengan menerapkan sistem bioflok dan resirkulasi air
 
 
Sistem budidaya ikan nila perlu terus dikembangkan guna mengoptimalkan produktivitas. Menurut Senior Manager Fish Hatchery PT Central Proteinaprima (CPP), Laode Abdurahman. salahsatu tantangan budiday nila di kolam darat yaitu ketersediaan suplai air. “Tantangan ini bisa dijawab dengan menggunakan budidaya sistem bioflok,” kata Laode kepada TROBOS Aqua.
 
 
Sistem Bioflok
Lebih lanjut Laode menjelaskan, budidaya nila sistem bioflok kelebihannya ada di produktivitas. Bioflok minim penggunaan air, FCR (konversi pakan) bisa 1 sampai di 0.9, bisa menggunakan jenis nila merah maupun nila hitam. Idealnya ukuran kolam bundar yang digunakan diameter 12 m atau sekitar 100 m3. Tebar benih sekitar 11 ribu panen sekitar 2 ton, ukuran 200 g/ekor atau 1 kg isi 5. 
 
 
Target permintaan pasar ukuran nila biasanya 3 sampai 4 ekor per kg. Menurut Laode, kepadatan tebar menggunakan sistem bioflok bisa sampai 100 ekor per m3. “Sistem budidaya yang bisa bersaing dengan kepadatan sistem bioflok yaitu menggunakan budidaya kolam air deras,” katanya.
 
 
Dalam menerapkan sistem bioflok, kata Laode, maka ada bakteri-bakteri yang digunakan. Kombinasi materi yang digunakan yaitu bakteri probiotik, molase, dolomit, dan garam. Perlu diingat harus dipastikan oksigen 24 jam stabil diatas 4 ppm, tidak boleh di bawah itu. “Kalau di bawah itu pertumbuhan akan terhambat karena oksigen berpengaruh terhadap metabolisme,” kata Laode.
 
 
Terkait investasi untuk budidaya sistem bioflok, menurut Laode tidak terlalu besar. Harus dibedakan antara investasi dan biaya produksi, investasi dihitung per tahun. Laode menghitung untuk ukuran diameter 5 m kurang lebih sekitar investasinya Rp 5 juta untuk komplit, tapi tidak bisa sendiri harus misalnya per 10 kolam karena ada sistem aerasi.” Jadi untuk 10 kolam dengan diameter 5 maka perlu dana sekitar Rp 62 juta,” ujar Laode. 
 
 
Lebih jauh, Laode menghitung analsia usaha sistem budidaya bioflok. Untuk diameter 5 dan 10 kolam, target SR 95 %, padat tebar 100 ekor/m3, hasilnya 4,75 ton produksinya per 4 bulan. Target  bioflok FCR 1, harga pakan Rp 10 rb, lalu untuk tenaga kerja dan lainnya Rp 3 rb, jadi total biaya produksi sekitar Rp 13 ribu per kg. Jika dihitung, panen 4,75 ton x Rp 20 rb – Rp 13 rb = Rp 33,2 juta , itu keuntungan. “Dalam 4 siklus bisa balik modal, dengan keuntungan yang diperoleh tadi bisa dipakai untuk ganti biaya investasi kalau mau,” kata Laode.
 
 
Lalu untuk spesifikasi pakan, nutrisi yang ideal, rata-rata menggunakan protein 28 – 30 % untuk pembesaran, maksimum 30 %. Pada sistem bioflok bisa pakai protein  26 %, rata-rata di pembudidaya kecendurungan 28 – 30 %. Masa pemeliharaan, tebar benih 10 g/ekor pemeliharaan 100 – 120 hari, 4 bulan untuk sampai ukuran sekita 200 g/ekor. 
 
 
Sistem RAS
Selain sistem bioflok, penerapan budidaya nila sistem resirkulasi air juga mampu mendongkrak produktivitas. Seperti hal yang dilakukan oleh Agus Cahyadi Praktisi Budidaya Nila Recirculating Aquaculture System (RAS), OS Tilapia Farm Bogor.
 
 
 Dijelaskan Agus, sistem budidaya nila yang digunakan ada 4 poin. Pertama, menggunakan media air yang diresirkulasi. Kedua, probiotik yang sudah dilakukan di dalam pakan. Ketiga, penggunaan benih berkualitas. Keempat, aplikasi sistem perlakuan air agar homogenitas suhu malam dan siang terjaga.
 
 
Agus memaparkan, kepadatan ikan pada kolam bundar diameter 3 m sekitar 200 ekor per m3, diameter 6 m 250 ekor per m3. Estimasi pada dimeter 3 m ditarget terdapat 1.000 ikan yang dipanen setiap 3,5 bulan sekitar 275 – 300 kg. Sementara pada kolam diameter 6 m bisa mencapai 530 kg ikan yang dipanen. 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 113/15 Oktober – 14 November 2021
 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain