Jumat, 15 Oktober 2021

Mengejar Produktivitas Budidaya Nila

Mengejar Produktivitas Budidaya Nila

Foto: TROBOS Meilaka


Masih ada ruang untuk mengoptimalkan produktivitas budidaya ikan nila, perlu perbaikan kualitas benih dan penerapan teknologi sistem budidaya terbaru
 
 
Perkembangan produksi ikan nila secara nasional terus mengalami peningkatan.Ikan air tawar ini berpotensi jadi chicken fish-nya komoditas budidaya perikanan. Kenapa tidak? Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan, produksi budidaya nila tahun 2016 sebesar 1.114.156 ton, lalu tahun 2017 meningkat menjadi 1.265.201 ton (sekitar 30 % dari total produksi budidaya ikan air tawar nasional). Produksi hingga triwulan III tahun 2018 tercatat 579.688 ton. Sentra budidaya ikan nila di Indonesia diantaranya Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara. 
Angka produksi nila tersebut untuk memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri (ekspor). Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2020 menunjukkan, nilai ekspor nila (Tilapia) USD 78.473 yaitu sebesar 12.288 ton. Sebanyak 91,66 % nilai ekspor nila nasional berasal dari Sumatera Utara. Ekspor nila Indonesia 3 tahun terakhir terus meningkat (Data BPS). Indonesia merupakan negara produsen nila terbesar kedua setelah China (GAA Survey 2019).
 
 
Prospek Nila
Prospek perkembangan pasar ikan nila cukup seimbangan antara pasar dalam negeri dan ekspor. Berkembangnya pasar ikan nila dalam negeri juga dilihat dari harga ikan nila yang terus membaik. Harga nila di level pembudidaya Rp 20 ribu sampai Rp 28 ribu per kg (Berbagai Sumber-Agustus 2021).
Sementara untuk pasar ekspor, menurut Ketua Asosiasi Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Budhi Wibowo, sebagian besar ekspor nila Indonesia berupa fillet (daging tanpa tulang) yang berasal dari ukuran utuh di atas 1 kg per ekor. Untuk fillet nila pasar utamanya adalah Dan Amerika Serikat dan ada sebagian ke Eropa. Ekspor lainnya adalah tilproduk tilapia ukuran sekitar 300 - 500 gram per ekor (ritel pack) dengan pasar Korea selatan dan Timur tengah. 
 
 
Menurut Agus Cahyadi, Praktisi Budidaya Nila Recirculating Aquaculture System (RAS), OS Tilapia Farm Bogor, prospek nila ke depannya sangat menjanjikan apalagi di kota-kota besar dengan gaya makan yang tinggi dan beberapa kuliner setelah pandemi. Permintaan konsumen kedepan yaitu ikan nila ini ada jaminan dan kualitas dagingnya manis tidak mengandung bau tanah. “Ikan nila yang dagingnya tidak bau tanah kian menjadi tolak ukur konsumen menikmati makanan yang ramah lingkungan,” kata Agus kepada TROBOS Aqua.
 
 
Sehingga, lanjutnya, budidaya nila yang bersih, hiegenis, dan terukur kedepan menjadi penting. Jadi pembudidaya nila dituntut bukan hanya mengejar produktivis budidaya untuk memenuhi permintaan pasar, tetapi juga memproduksi ikan nila yang berkualitas.
 
 
Model Budidaya
Budidaya nila yang berkembang saat ini dilakukan di kolam darat dan Keramba Jaring Apung (KJA). Budidaya nila tergolong butuh waktu 4 - 6 bulan, tergantung dari target ukuran ikan saat panen. Setiap model budidaya tersebut ada plus minusnya. 
 
 
Seperti diungkapkan Ahli Budidaya Perikanan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Dr Alimuddin, nilai plus budidaya nila KJA biaya investasi bisa lebih murah, biaya operasional pemeliharaan kualitas air lebih murah, pertumbuhan lebih baik jika kualitas air di sekitar KJA masih bagus, serta produktivitas (per m2 area) dapat lebih tinggi karena kedalaman air bisa lebih tinggi daripada kolam darat. Sementara  minusnya tidak ramah lingkungan, penurunan kualitas air, risiko up-welling (pengadukan dasar perairan), serta risiko penyebaran penyakit lebih cepat dan lebih tinggi.
 
 
Kemudian, lanjut Prof Alimuddin, nilai plus budidaya nila di kolam darat antara lain lebih ramah lingkungan terutama jika ada penggunaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) atau menggunakan sistem RAS/bioflok dan penyebaran penyakit dapat lebih terkontrol (biosekuriti lebih tinggi). Minusnya antara lain biaya investasi dapat lebih mahal apalagi jika menggunakan kolam beton, biaya pengelolaan kualitas air (ganti air, pompa, aerasi dan lainnya). Kepadatan/produktivitas budidaya tergantung pada intensitas/kemampuan mengelola kualitas air. 
 
 
Terkait model budidaya nila, Hendri Dayu Head of Tilapia Grow Out Toba Tilapia PT Suri Tani Pemuka (STP) berpendapat, budidaya nila di KJA perairan umum lebih efisien dan efektif terutama dari sisi parameter sirkulasi air. Keunggulan lainnya yaitu mengurangi penggunaan lahan tanah jika dibandingkan dengan di darat. “Di KJA kita bisa menebar ikan dengan yang kepadatan yang lebih tinggi dibanding di darat,” kata Hendri.
 
 
Namun, ia mengingatkan, budidaya di KJA perlu memperhatikan pemilihan lokasinya karena tidak bisa dilakukan diperiaran yang bergelombang besar karena sangat berisiko.  Yang kedua, perhatikan dengan transportasinya kalau bisa budidaya di KJA dekat dengan sumber pakan dan benih.  “Penting untuk diperhatikan juga lokasi tidak dekat dengan sumber limbah seperti pabrik, peternakan karena akan berpengaruh terhadap kualitas,” ujar Hendri.
Ia menambahkan, untuk kedalaman perairan yang ideal pada budidaya di KJA sebaiknya berada di atas ke dalaman 100 m. Hal ini karena pada ke dalaman itu terjadi proses penguraian secara alami, jadi berkemungkinan upwelling tidak terjadi atau dampaknya minim terhadap ikan yang dipelihara.
 
 
KJA Konvensional
Fakta lapangan menunjukkan teknis budidaya nila masih bisa dioptimalkan dengan sejumlah sentuhan teknologi akuakultur. Selama ini data FCR (konversi pakan) rata-rata budidaya nila konvensional  berkisar 1,25 - 1,3. Sementara SR (Survival Rate/daya hidup) nila rata-rata di atas 60 % sudah dianggap baik dengan padat tebar rata-rata 10 ekor per m3. 
 
 
Seperti diungkapkan Pembudidaya Nila di KJA Waduk Cirata Jawa Barat, Haji Mudin, dalam satu unit KJA berukuran 14 x 14 m ditebar benih ikan nila ukuran 3 cm minimal 3 kuintal. Benih tersebut  lalu dibesarkan selama 3 bulan 3 – 3.5 bulan, dengan target ukuran panen 1 kg isi 5 sampai 6 ekor. “Jumlah panen tergantung pakannya, kalau pakan habis 3 - 3,5 ton maka panen ikannya antara 2 sampai 3. Jika cuaca bagus panen dapat mencapai 3 ton,” kata Mudin.
 
 
Pembudidaya yang mengelola 20 unit KJA itu lebih lanjut menjelaskan, ketika awal benih ditebar pemberian pakan dengan cara dibibis (rendam air) terlebih dahulu. Tujuannya agar pakan mengembang dan agak lembut sehingga mudah dimakan benih. Cara pemberian pakan ini selama 2 sampai 1 bulan setelah penebaran tergantung dari kecepatan pertumbuhan benih. “Kita biasanya memberikan pakan 3 kali sehari. Jenis pakan yang digunakan pakan tenggelam dengan protein antara 25 % sampai 28 %, ukuran 3 mm,” kata Mudin.
 
 
Mudin menambahkan, selama ini tantangan budidaya nila di KJA waduk yang dirasakan anara lain saat musin eceng gondok sedang banyak dan perubahan cuaca. “Pada cuaca sedang panca roba biasanya kepadatan tebar kita kurangi untuk menghindari kerugian besar akibat kematian massal,’ kata Mudin.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 113/15 Oktober – 14 November 2021
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 112/15 September – 14 Oktober 2021

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain