Kamis, 14 Oktober 2021

Memburu Komposisi Optimal Pakan Ikan & Udang

Memburu Komposisi Optimal Pakan Ikan & Udang

Foto: dok.istimewa


Bandung (TROBOSAQUA.COM). Tepung ikan adalah sumber utama protein hewani di dalam komposisi pakan ikan yang porsinya mencapai 20 % dalam komposisi pakan.

 

Guna mengurangi biaya dan mengurangi eksploitasi penangkapan ikan sebagai bahan baku pakan, maka pengusaha pakan ikan mulai mencari bahan baku alternatif. Diungkapkan Peneliti Kelautan dan Perikanan Romi Novriandi dalam sebuah seminar pakan belum lama ini di Bandung, bahan baku yang digunakan untuk substitusi tepung ikan diharapkan mengandung asam amino essensial seperti lisin dan metionin dalam formulasi pakan ikan.

 

Lebih lanjut Romi menjelaskan, subsitusi tepung ikan baik sebagian ataupun secara keseluruhan dengan menggunakan protein alternatif dapat menunjukkan pertumbuhan ikan atau udang yang seimbang bahkan lebih baik. Pada studi ini, dilakukan uji keefektifan substitusi protein dari tepung alternatif sebagai bahan baku pakan terhadap tiga spesies hewan air yaitu ikan trout, udang, dan kakap putih.

 

Pada ikan trout, kata Romi, sebanyak 25 % tepung ikan disubstitusikan dengan menggunakan 25 % tepung ulat dan menghasilkan pertumbuhan yang seimbang. Sama halnya pada pakan udang, 13 % bahan baku tepung ikan digantikan dengan 20 % biomassa mikroba.

 

Menurut Romi, ada beberapa alternatif bahan baku sebagai sumber protein yang dapat dijadikan pilihan diantaranya protein produk sampingan dari hewan, protein sel tunggal, protein serangga, serta sumber protein nabati.

 

Masing-masing bahan baku alternatif memiliki kelemahan dan kelebihan seperti produk sampingan dari hewan yang memiliki kelebihan diantaranya mengandung level protein yang tinggi dan ketersediaan yang berlimpah.

 

Romi memaparkan, tepung yang berasal dari produk sampingan hewan memiliki kelemahan seperti nilai kecernaan rendah, kekurangan asam amino essensial tertentu, serta berpotensi sebagai vektor pembawa penyakit. Protein sel tunggal memiliki kelebihan yaitu mengandung protein yang tinggi namun dalam pengolahannya membutuhkan biaya yang sangat besar.

 

Lain halnya dengan sumber protein nabati yang jika dimanfaatkan dapat mengurangi eutrofikasi namun sumber protein nabati memiliki ketidak seimbangan profil asam amino essensial. Untuk mengatasi permasalahan asam amino essensial yang terkandung di dalam protein dari bahan baku alternatif, dapat menambahkan asam amino plus vitamin, lemak dan mineral untuk meningkatkan kualitas pakan.

 

“Jika kita dapat memenuhi spesifik asam amino essensial maka ikan akan tumbuh dengan level protein berapapun,” ungkap Romi.

 

Dengan banyaknya pilih sumber protein alternatif diharapkan pakan dapat di desain untuk memaksimal pertumbuhan, efisiensi, kesehatan, dan keberlanjutan produksi. Hal ini harus dimulai dari evaluasi nutrisi yang tepat dan akurat untuk memenuhi kebutuhan organisme akuatik.

 

Diungkapkan Romi, parameter untuk mengukur kualitas persen protein, persen pakan dan konsep ideal asam amino serta gross protein perlu diperhatikan keseimbangan komposisinya. Karena apabila jumlah protein terlalu sedikit akan mempengaruhi pertumbuhan ikan dan udang, namun jika terlalu banyak akan meningkatkan biaya produksi. “Setiap peningkatan protein seharusnya diikuti dengan peningkatan pertumbuhan,” ujar Romi.

 

Romi menambahkan, komposisi protein yang tinggi belum tentu menghasilkan pertumbuhan ikan yang terbaik. Terdapat pakan yang memiliki nilai protein yang rendah tetapi memberikan efek pertumbuhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan pakan yang mengandung protein yang lebih tinggi.

 

“Pakan yang mengandung protein tinggi tidak akan optimal untuk pertumbuhan ikan maupun udang jika tidak didukung dengan kondisi lingkungan budidaya yang optimal. Kualitas air dan daya dukung lingkungan seperti nitrat, kadar oksigen terlarut, dan suhujuga berpengaruh terhadap efektivitas penyerapan pakan oleh ikan,” kata Romi. ed/dian

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain