Minggu, 10 Oktober 2021

Pilihan Bahan Baku Lokal Pengganti Tepung Ikan

Bandung (TROBOSAQUA.COM). Harga bahan baku pakan berupa tepung ikan, tepung daging, dan tepung tulang selalu naik dari waktu ke waktu, sehingga memaksa produsen pakan menaikkan harga jual.

 

Menurut Prof Muhammad Agus Suprayudi dibutuhkan invensi dan inovasi bahan baku pakan untuk mengatasi tantangan tersebut. Mencari bahan baku pengganti merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kenaikan harga yang terjadi pada bahan baku contohnya tepung ikan.

 

Agus menjelaskan, bahan baku pengganti harus memenuhi syarat, diantaranya harus memiliki kualitas dan harga yang kompetitif jika dibandingkan dengan bahan baku yang akan digantikan. “Selain itu ketersediaan yang berkelanjutan serta diutamakan bahan baku lokal yang berpontesi,” ujar Prof Agus pada seminar pakan belum lama ini di Bandung.

 

Sejauh ini, Prof Agus menjelaskan, telah banyak peneliti yang melakukan penelitian dasar bahan baku pakan lokal untuk mencari bahan baku pengganti yang baik untuk digunakan di dalam kompisisi pakan ikan. Maggot, biji karet, dan biji kecipir merupakan beberapa bahan baku yang berpotensial digunakan sebagai bahan baku pengganti tepung ikan, tepung daging, dan tepung tulang.

 

Kata Prof Agus, bahan baku pengganti ini telah banyak diuji coba ke beberapa jenis ikan diantaranya ikan nila, gurame, patin, lele, dan mas, didapatkan hasil pertumbuhan yang cukup baik. Hal ini dikarenakan tepung maggot, tepung biji karet dan tepung biji kecipir memiliki nilai protein yang cukup tinggi berkisar antara 41,27 % - 45,35 %.

 

“Selain kandungan protein yang tinggi, susunan dan nilai asam amino essensialnya pun tidak beda jauh dengan tepung ikan,” ungkapnya.

 

Selain terdapat manfaat, menurut Agus, bahan baku penggantu tersebut juga memiliki kendala dalam pemanfaatannya. Pemanfaatan maggot (Hermetia illucens) sebagai bahan baku alternatif terkendala oleh kandungan kitin pada bagian luar tubuh maggot yang dapat menekan pertumbuhan ikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar kitin pada maggot adalah dengan cara hidrolisasi dan fermentasi.

 

Lalu tepung tepung biji karet (Hevea brasiliensis) juga memiliki kendala dalam pemanfaatannya, kandungan asam sianida (HCN) yang terdapat pada biji karet akan berbahaya jika dikonsumsi yang berdampak pada menurunnya nilai kecernaan serta mengikat Hemoglobin (Hb) ikan. Pemanasan menggunakan suhu yang tinggi merupakan salah satu cara untuk menurunkan kadar HCN di dalam biji karet.

 

Kemudian biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) mengandung senyawa anti gizi berupa asam fitat, senyawa ini dalam pencernaan dapat menghambat daya cerna terhadap gizi protein, mineral maupun karbohidrat.

 

Penambahan enzim pada biji kecipir merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya cerna protein dalam biji kecipir. Enzim bekerja dengan cara memecah protein yang terkandung di dalamnya sehingga lebih mudah untuk dicerna oleh tubuh ikan. ed/dian

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain