Kamis, 7 Oktober 2021

Membedah Manajemen Air Flow Through System pada Tambak Udang

Membedah Manajemen Air Flow Through System pada Tambak Udang

Foto: ist/dok.KKP


Lampung (TROBOSAQUA.COM). Petambak udang perlu menjalankan manajemen air flow trough system(FTS) dan memahami prinsipnya (mindset) sehingga lebih cekatan, lentur dan adaptif ketika terjadi perubahan yang tidak didapati rujukan pastinya dalam standard operation procedure (SOP).

 

Agus Nurul Huda, praktisi tambak udang, dalam pemaparannya mengungkapkan, udang yang dibesarkan di dalam tambak dengan diberi pakan akan menghasilkan kotoran padat. Kotoran padat ini ada 2 jenis, yang mengendap ke dasar kolam (setleable solid) dan yang melayang di air kolam (suspended solid). Termasuk kotoran yang tersuspensi halus dan terlarut (fine and dissolve solid) dan gas excretion (CO2 dan N2).

 

Dalam mengelola kotoran limbah ini, pembudidaya perlu menjalankan flow trough system(FTS) yang meliputi ketersediaan air baku secara kontinyu, air baku telah didesinfeksi, konstruksi dan desain kolam serta seting kincir harus sesuai, dan terdapat pembuangan limbah samping dan central drain.

 

“Ini diperlukan agar limbah padat berupa suspended solid, partikel, PO4 dan Nitrogen compound (N) dan limbah organik terlarut (Phosphor, Amonium dan bahan-bahan organik matter) bisa diminimalisir,” Agus mengingatkan.

 

Terkait disinfeksi air laut yang masuk ke tandon, Agus mengatakan, di tambaknya ia tidak menggunakan TCCA melainkan sinar UV yang dipasang pada saluran air masuk ke tandon. Untuk memperkuat sinar UV tersebut maka semua permukaan saluran air dipasang kaca yang mampu memantulkan sinar dan arus air yang melewati sinar UV harus lambat. Dari pengalamannya sinar UV efektif untuk menekan vibrio dan planton.

 

Hidrodinamika
Agus menggarisbawahi, jika lumpur sudah dibersihkan maka kemungkinan tumbuhnya bakteri jahat menjadi lebih kecil. Semakin banyak lumpur semakin kompleks. Sebab vibrio tumbuh pada saat konsentrasi TOM tinggi sehingga menimbulkan masalah pada budidaya.

 

Dia menambahkan bahwa dalam dalam menjalankan teknis budidaya udang yang harus dikembangkan adalah bagaimana cara berpikir (mindset), bukan bagaimana menjalankan SOP. Sebab jika tergantung SOP maka akan kelabakan ketika terjadi perubahan lingkungan.

 

FTS dan Ekosistem Tambak

Selanjutnya Agus menguraikan soal sistem dan teknik budidaya udang yang meliputi carrying capacity(CC) ekosistem dan carrying capacity microbial. Untuk CC ekosistem yakni mengatur dan mengendalikan eutrofikasi yang meliputi pengenceran, photoautotroph algae, chemo autotrophnitrifikasi dan asimilasi N yang bersifat heterotroph. Lalu CC mikrobial yakni dengan mengendalikan bakterial load yang meliputi membatasi/mengendalikan sumberdaya mikrobial; resirkulasi (mature mcrobial system).

 

“Tujuan akhir dari FTS adalah kesehaan ekosistem dan kesehatan udang. Untuk mencapai kesehatan ekosistem dijalankan dengan mengatur dan mengendalikan eutrofikasi dan mengatur dan mengendalikan bacterial loadpada manajemen limbah. Sementara kesehatan udang bisa dicapai melalui penggunaan pakan berkualitas; menjaga kesehatan usus/git dan meningkatkan imunitas udang,” urainya.

 

Jadi FTS sebetulnya adalah konsep mengeluarkan dan memahami limbah. Sebanyak 80 persen dari lmbah di kolam berasal dari plankton, feses udang dan sisa-sisa pakan. Dalam FTS terdapat r/K concept dan manajemen limbah (waste management). Dalam r/K concept adalah keseimbangan ekosistem di kolam.

 

“Jika konsentrasi vibrio naik maka otomatis bakteri baik turun. Begitu juga sebaliknya, jika konsentrasi bakteri baik naik maka konsentrasi vibiro turun. Artinya tidak ada keduanya sama-sama naik atau sama-sama turun,” urai Agus yang sudah mulai berkecimpung di tambak udang sejak era 90-an.

 

Diuraikan Agus, bakteri patogen bersifat oportunistik, membelah lebih cepat, berkembang pada suhu lingkungan tidak stabil dan mortalitas tidak tergantung kepadatan. Sebaliknya bakteri baik atau non patogen, hidup di lingkungan stabil, waktu membelah/regenerasi panjang, pertumbuhan lambat dan mortalitas tergantung kepadatan.

 

“Dengan fakta demikian maka pada lingkungan tidak stabil konsentrasi vibrio tinggi. Lalu pada kolam terjadi kompleksitas ekosistem, yakni perebutan tempat dan nutrien. Oleh karena itu usahakan agar lingkungan kolam stabil,” tutur praktisi dan konsultan tambak udang tersebut.

 

Cegah Myo

Menjawab pertanyaan peserta pada sesi diskusi soal cara mencegah Myo, Agus menerangkan, prosus moulting pada udang berlangsung empat tahap, yang dimulai dari pramoulting, intermouting, moulting, post moulting. Sebelum moulting udang menyerap Ca dari kulit lama lalu disimpan di hepato/gastrolit. Lalu pada tahap intermouting (persiapan moulting), udang menyerap energi yang akan digunakan pada proses moulting. Terakhir pada tahap postmoulting, Ca yang disimpan di hepato/gastrolit digunakan untuk mengeraskan kulit baru.

 

Pada poses moulting prematur energi yang diserap belum cukup sementara moulting sudah terjadi. Kondisi demikian bisa terjadi karena biasanya udang mengalami stres yang dipincu oleh goncangan lingkungan.

 

Jika proses moulting pada udang berlangsung sempurna maka indikasinya suspensi kasar di permukaan air kolam minim dan busa hilang. Sebab suspensi kasar dan busa yang melimpah ini lah menjadi pemicu munculnya Myo. Lalu sesuai sifatnya vibrio menempel pada partikel suspensi kasar maka jika suspensi kasar melimpah juga merupakan indikasi vibrio di dalam kolam tinggi. Jadi untuk mencegah melimpahnya suspensi kasar digunakan pengikat, seperti captan sehingga suspensinya larut ke tengah.

 

“Karena sifat udang memakan apa saja, ketika udang memakan suspensi kasar maka vibrio masuk ke pencernaan udang yang berpotensi menimbulkan penyakit baru,” tutup Agus pada diskusi yang berlangsung hingga hampir tengah malam tersebut karena bersemangatnya peserta bertanya ke narasumber. ed/datuk

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain