Rabu, 15 September 2021

Digitalisasi Investasi Bisnis Seksi

Digitalisasi Investasi Bisnis Seksi

Foto: 


Walaupun budidaya udang berisiko tinggi, dukungan perusahaan pendanaan modal usaha budidaya udang terus berkembang


Berbagai perusahaan yang mendukung usaha budidaya udang vannamei terus tumbuh, mulai dari ragam sarana dan prasarana yang terkait. Termasuk beberapa tahun kebelakang ramai menjadi perbincangan adalah perusahaan pendanaan atau permodalan untuk usaha budidaya tambak udang.
Perusahaan yang melakukan pendanaan untuk kegiatan budidaya udang kian bermunculan, dan terkenal dengan istilah fintech (finansial teknologi).

 

Dimana perusahaan tersebut tak serta merta memberikan dana ke petambak udang, melainkan banyak kriteria dan kapabilitas yang dinilai.
Hingga saat ini marak bermunculan perusahaan yang bergerak dalam bidang tersebut, lantas bagaimana alur investasi, hingga bagi hasilnya? Dan bagaimana pula pola manajemen risikonya. Tim TROBOS Aqua mencoba menenlaah lebih jauh mengenai perkembangan bisnis fintech ini.

 


Menurut Intan Head of risk and investment Alune Aqua yang merupakan salah satu perusahaan fintech di bidang budidaya udang mengatakan, bahwa para petambak udang vanname kesulitan mengakses paemodalan, dan rata-rata petambak udang selalu gagal dalam mengajukan pemodalan begitu pula lembaga keuangan lainnya.

 


Maka dari itu perlunya pendampingan dari perusahaan fintech yang memang bergerak di bidang spesifik. Dengan tujuan dapat membantu akses pemodalan dan pengembangan usahanya.

 


Akses Permodalan
“Asal muasal dibentuknya perusahaan kami adalah untuk mengakomodir orang-orang yang ingin menginvestasikan usahanya di bidang perikanan secara aman dan terukur, sehingga dapat membantu petambak atau pembudidaya terus menjalakan usahanya,” tutur Andika Gumilang Kushayadi selaku Chief Executive Officer (CEO) PT InFishta Digital Indonesia kepada TROBOS Aqua.     

 


Melihat industri budidaya udang vannamei, Ia lanjutkan, memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi. Maka dari itu kami mencoba membantu para petambak-agar usahanya tetap berjalan dari segi pendanaan. Dan juga pengadaan sarana prasarana yang sekiranya memang dibutuhkan untuk operasional tambak udang.

 


“Jadi tak hanya melakukan pendanaan budidayanya saja. Semisal ada kebutuhan sarana berupa kincir di lokasi tambak sekian unit, bisa kita realisasikan dari pengumpulan pendanaan investor dan sudah ada hitung-hitungannya,” ucapnya pria yang akrab disapa Dika.

 


Jadi contohnya, Dika katakan, semisal ada petambak yang mengajukan penambahan sarana berupa kincir. Maka pengelola akan mengumpulkan dana dari para investor untuk pengadaannya. Mengenai pembagian hasil dari penambahan sarana tersebut akan dihitung dalam perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.

 


Tak hanya segmen budidaya saja, InFishta juga coba menjangkau kelompok-kelompok nelayan di daerah yang kadang sulit memasarkan atau mendistribusikan hasil tangkapannya. Maka dari itu kami coba bantu dari pasarkan atau distribusikan ke lokasi tertentu. Sehingga hasil tangkapannya dapat dibeli dengan harga yang lebih baik.

 


Dijelaskan Dikan, hingga saat ini titik sebaran pemodalan pihaknya ada di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Subang, Nusa Tenggara Barat (NTB), Lampung dan lainnya. Target kedepannya agar bisa menyentuh wilayah papua dan Indonesia timur lainnya agar potensi perikanan dalam negeri bisa dioptimalkan.

 


Senada dengan Dika, Paundra Noorbaskoro selaku salah satu pendiri PT  SAY Grow Indonesia atau yang umum dikenal dengan growpal mengatakan, berangkat dari melihat potensi masyarakat pesisir dalam negeri saat ini sangat luar biasa. Disayangkan apabila kegiatan mereka begitu–begitu saja, seharusnya bisa ditingkatkan produksinya ataupun tangkapan ikannya, namun kembali lagi yang dihadapi adalah modal usaha yang sangat terbatas.
Menyambut niat baik tersebut, kata Paundra, pihaknya hadir ditengah-tengah mereka untuk memudahkan dari sisi pendanaan atau permodalan usaha. Tujuan utamanya agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pembudidaya ataupun petambak sehingga roda perekonomian pun naik di pelosok–pelosok daerah.

 


“Sulitnya para pelaku usaha di pelosok daerah dalam mengakses permodalan. Pasalnya kodisi para petambak rata-rata unbankable atau tidak dapat terjangkau perbankan, karena memiliki risiko usaha yang sangat tinggi,”terang pria yang akrab disapa Paundra.

 


Lebih dari itu, ungkap Paundra, pihak perbankan pun tidak mempunyai Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi spesifik budidaya untuk melakukan peninjauan. Maka dari itu perusahaan fintech-lah yang berperan agar membantu para petambak lokal mendapat permodalan.
Menimpali Paundra, Harya Candrasa Coostanto yang merupakan Chief Executive Officer (CEO) dari Mina Ceria Nusantara mengatakan, perusahaan fintech hadir tak hanya sisi pendanaan dan pengadaan saja. Melihat budidaya udang yang kini kian kompleks maka perlu dilakukan pendampingan usaha agar investasi yang diberikan bisa kembali sesuai prediksi yang telah direncanakan.



Investasi dan Bagi Hasil
Lalu bagaimana sistem investasi dan bagi hasil dari fintech? “Mengenai nominal investasinya beragam, tergantung komoditi apa yang dibudidayakan. Khusus untuk budidaya udang vannamei nilai paling rendah sebesar Rp 500 ribu rupiah untuk program pendanaan crowd funding (pengumpulan dana dari banyak investor),” ujar Paundra.

 


Lebih dari itu, lanjutnya, ada juga yang nilainya bisa mencapai ratusan juga rupiah untuk satu investor. Program ini adalah premium proyek pendanaan yang biasanya baru akan menjalankan tambak. Jadi dari mulai nol pembangungan tambak hingga panennya nanti, untuk yang program premium ini memiliki jangka pengembalian dan keuntugan yang lebih lama daripada yang umumnya.

 


“Setelah dana masuk, kemudian proses budidaya berlangsung. Lalu hingga panen satu siklus akan ada reporting (pelaporan) ke investor semua dana yang dikeluarkan hingga omzet pendapatannya,”ungkap Paundra yang memiliki latar belakang pendidikan perikanan.

 


Dana yang dikumpulkan, sambungnya, dari investor untuk program crowd funding biasanya diberikan kepada para petambak yang sudah memiliki aset tetap. Jadi hanya membutuhkan modal oprasionalnya saja selama satu siklus. Sedangkan untuk yang program premium akan berkolaborasi bersama tenaga ahli dibidangnya dalam membangun tambak udang sehingga bisa berjalan dengan baik.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 112/15 September – 14 Oktober 2021

 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain