Kamis, 9 September 2021

Vanamerator, Aerator untuk Tambak Tradisional

Vanamerator, Aerator untuk Tambak Tradisional

Foto: ist/dok.JIPP-Sulsel


Maros (TROBOSAQUA.COM).  Vanamerator, teknologi sederhana untuk stabilisasi oksigen terlarut pada tambak secara merata, terbukti mampu menekan angka kematian udang dan meningkatkan hasil panen tambak tradisional.

 

Pada 6 September lalu, Bakhtiar - Penyuluh Perikanan Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) berhasil menyabet penghargaan TOP 30 Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik tahun 2021 tingkat provinsi Sulsel, kategori pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Bakhtiar menciptakan alat vanamerator pengganti kincir alternatif bagi lokasi tambak yang tidak memiliki jaringan listrik.

 

Berangkat dari keprihatinanya melihat rendahnya tingkat produksi yang berdampak pada minimnya penghasilan masyarakat pembudidaya, muncullah gagasan inovasi teknologi sebagai upaya stabilisasi oksigen terlarut dalam air tambak secara merata di permukaan, pertengahan, maupun di dasar tambak. Tujuannya agar dapat membantu keberlangsungan hidup udang vaname, sehingga menekan angka kematian udang.

 

Bakhtiar pun menciptakan inovasi alat vanamerator yang merupakan alat pengganti kincir alternatif bagi lokasi tambak yang tidak memiliki jaringan listrik, bernama Vanamerator Hebat Tradisional.

 

Berkat inovasinya, Bakhtiar mendapat penghargaan yang diserahkan langsung oleh Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman pada rangkaian kegiatan Launching Knowledge Management Repository dalam Replikasi Inovasi Pelayanan Publik  dan  Pembukaan Kompetisi Replikasi Inovasi Pelayanan  Publik Tahun 2021, di Makassar.

 

Bakhtiar merupakan penyuluh perikanan pada Satuan Administrasi Pangkal (Satminkal) Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros di bawah Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

Sudirman menyampaikan  semua sentra inovasi bisa dijadikan percontohan pengembangan dan mereplikasi inovasi khususnya inovasi yang sudah masuk TOP 30 Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik tahun 2021 tingkat provinsi Sulawesi Selatan.

 

Menurut dia, inovasi ini mampu membuka peluang kerja bagi 1.000 orang dibandingkan sebelumnya yang hanya dapat mempekerjakan sebanyak 400 orang. Saat ini, Vanamerator Hebat Tradisional telah diaplikasikan di lokasi tambak kecamatan Keera yang lokasinya belum tersedia jaringan listrik.

 

Sebanyak enam Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) yang terdiri dari Pokdakan Tappae, Pokdakan Cillange, Pokdakan Malluse Empan, Pokdakan Malluse Tasi, Pokdakan Mattiro Bulu Watti, dan Pokdakan Malluse Empan, pun telah mengaplikasikan alat ini.

 

Berkat semangat dan kegigihannya, Bakhtiar pun berhasil mengangkat derajat wilayah kerjanya di desa Keera, kecamatan Keera, kabupaten Wajo. Tidak hanya itu, Vanamerator Hebat Tradisional juga diadopsi oleh beberapa pembudidaya udang vaname di daerah lain, seperti kecamatan Bola, kecamatan Sajoanging, kecamatan Takkalalla, dan kecamatan Penrang. Menurutnya, kondisi yang serba sulit di tengah pandemi Covid-19 bukanlah waktu untuk berpangku tangan, ia jadikan keadaan ini sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.

 

Sebelumnya, tingkat kematian udang mencapai 50 % per hektare per periode. Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat produktivitas hanya berkisar 250 kilogram perhektare perpanen dan berdampak pada rendahnya penghasilan pembudidaya yang masih berkisar 9,5 juta rupiah per panen. Selain itu produksi udang yang dihasilkan di dalam 1 kg berkisar 100 sampai 120 ekor per kilogram dengan harga 38 ribu hingga 42 ribu rupiah per kilogram," jelas Bakhtiar.

 

Alat vanamerator ini berfungsi menyediakan oksigen terlarut dalam air, yang membantu keberlangsungan kehidupan udang vaname. Alat ini dibuat dengan rangkaian pipa paralon yang dirakit secara paralel dan dihubungkan ke selang spiral dengan mesin pompa air dan ujungnya, lalu memasukkan vanamerator ke media air tambak. Vanamerator tidak perlu dinyalakan terus menerus, hanya pada saat dini hari atau dalam keadaan cuaca mendung dimana diperkirakan tambak dalam keadaan kekurangan oksigen, dibandingkan dengan penggunaan kincir yang harus menyala secara terus menerus.

 

Sejak pemakaian alat vanamerator hebat ini, ujar Nakhtiar, oksigen terlarut di dalam tambak meningkat sehingga tingkat kematian udang vaname menurun menjadi 35%. Produktivitas mencapai 430 kilogram per hektare per panen pada penebaran 50 ribu ekor per hektare. Ukuran panen udang juga meningkat sehingga mampu mencapai ukuran 60 sampai 70 ekor perkilogram. “Pendapatan petambak juga naik dari Rp 9,5 juta per hektare menjadi Rp 28 juta per hektare per panen," ungkapnya.

 

Ketua Pokdakan Labuleng Syamsu Alam mengatakan, Pokdakan binaannya yang terletak di Kecamatan Sajoanging, Kabupaten Wajo tersebut merasakan banyaknya manfaat dengan diterapkannya teknologi ini.

 

"Kami sangat bersyukur selalu didampingi oleh Pak Bachtiar selaku penyuluh perikanan di Kabupaten Wajo. Adanya Vanemerator Hebat Tradisional mampu mengatasi berbagai permasalahan di lokasi tambak kami yang minim listrik. Penggunaan listrik pun akan memakan biaya yang mahal. Adanya teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas tambak sehingga berdampak terhadap perekonomian warga Sajoanging," ujarnya.

 

Tak hanya masuk TOP 30 Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik tahun 2021 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. sebelumnya, inovasi ini juga mendapat penghargaan dari Bupati Wajo pada 16 Agustus 2021, sebagai Inovator Vanamerator Hebat Tradisional yang berhasil masuk dalam TOP 30 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Sulawesi Selatan. ist/ed/meilaka

 
Aqua Update + Headline Aquanews + Cetak Update +

Artikel Lain