Senin, 30 Agustus 2021

Mengenal IPAL Minimalis Tambak Udang

Mengenal IPAL Minimalis Tambak Udang

Foto: dok.ItangHidayat


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Budidaya udang intensif  berdampak pada peningkatan jumlah limbah cair dan limbah padat di tambak. Kondisi ini memerlukan perancangan Unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang efisien, efektif, serta dari segi ekonomi tidak mahal.

 

Itang Hidayat selaku Aquaculture Technology And Development PT Suri Tani Pemuka – JAPFA Aquaculture dalam sebuah webinar belum lama ini, memperkenalkan IPAL minimalis sebagai upaya pengolahan limbah budidaya yang tepat. Menurut Itang, IPAL minimalis merupakan solusi transisi sebelum penerapan infrastruktur IPAL sesuai SNI.

 

Ia menjelaskan, prinsip IPAL Minimalis yaitu menahan limbah padat (suspensi dan lumpur) agar tidak keluar dari lingkungan tambak udang. Sesuai dengan pedoman pengolahan limbah tambak Permen-KP nomor 75 tahun 2016.

 

“IPAL Minimalis merupakan penggabungan dari 3 sistem (kolam aerasi, Sequencing Batch Reactor/SBR, kolam fakultatif aerob-anaerob). Karena semua fungsi itu dapat kita capai tanpa harus membangun sekian banyak unit petakan tambak,” ujar Itang.

 

Itang memaparkan, terdapat 2 variasi IPAL minimalis, pertama yaitu kolam IPAL Minimalis dengan kolam biofiltrasi aerob, kedua kolam IPAL minimalis full (penuh) aerasi dengan kolam biofiltrasi atau disinfeksi.

 

Tahapan proses IPAL ini dimulai dengan pengoperasian kincir hanya 12 jam saat siang hari, untuk menghidupkan NH3 menjadi NO3. Kemudian kincir dimatikan selama 12 jam di malam hari agar terjadi proses anaerobik, mengubah nitrogen menjadi N2 dan lepas ke atmosfer. Hal ini akan menghemat penggunaan energi.

 

Selain itu, lanjut Itang, IPAL minimalis mempunyai waktu tinggal (HRT) 4 jam per hari dan sudah dapat dipertanggungjawabkan kualitas buangannya. Sehingga 1 kolam IPAL Minimalis mampu menampung debit air dari 8 kolam budidaya yang dipanen pada saat bersamaan.

 

Kata Itang, 1 kolam IPAL Minimalis juga mampu menampung debit air 20 kolam budidaya, namun dengan catatan kolam budidaya melakukan pergantian air maksimal 5 % per hari.

 

Itang mnambahkan, IPAL minimalis dapat menjadi alternatif pengolahan air limbah tambak budidaya udang. Aplikasi teknologi ini dapat mengakomodasi risiko pencemaran lingkungan dari kegiatan budidaya tambak dengan teknologi tepat guna, sederhana, perawatan mudah, dan biaya relatif murah dengan luasan lahan yang terbatas. ed/andini

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain