Minggu, 15 Agustus 2021

Artemia Tingkatkan Imunitas Udang

Artemia Tingkatkan Imunitas Udang

Foto: Istimewa


Optimalkan budidaya udang dengan tingkatkan daya tahan tubuh di tahap awal budidaya
 
 
Berbagai strategi dan upaya dilakukan pemangku kepentingan sektor perikanan, khususnya udang dalam mencegah munculnya aneka persoalan budidaya, khususnya penyakit yang intensitasnya meningkat belakangan ini.
 
 
Diantaranya adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) udang di tahap awal budidaya udang. Topik ini dibedah lebih dalam pada webinar yang digelar PT I&V Bio Indonesia melalui kanal Zoom meeting, Rabu (11/8) siang. Tampil menjadi pembicara Prof Bambang Widigdo, guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan ahli udang; Wayan Agus Edhy, praktisi tambak udang; Moh Afandi, pengawas perikanan dan pengarahan tambak udang Balai Perikanan Budidaya Air Payau (bpbap) Situbondo; dan Arif Masykur dari PT I&V Bio Indonesia. Webinar dengan moderator Waiso tersebut disela dengan sambutan Direktur I&V Bio Indonesia Moh Najib.
 
 
Kebutuhan Pakan Alami
Tahap awal budidaya erat hubungannya keseimbangan ekosistem di tambak Karena menurut Wayan Agus Edhy, ekosistem tambak adalah hal krusial di tahap
awal budidaya. Membangun keseimbangan ekosistem tambak udang dengan cara menciptakan suasana harmonis di antara organisme yang hidup di dalam ekosistem tersebut. Organisme tersebut adalah udang, zooplankton, fitoplankton (diatom), protozoa,bakteri nitrifikasi (aerobik) bakteri patogen, BGA, fitoplankton, bakteri denitrifikasi (anaerobik), yeast, bakteri heterotrof (aerobik).
 
 
Diantara organisme-organisme tersebut, adalah pakan yang dibutuhkan untuk konsumsi udang dalam tumbuh kembangnya. Mengupas soal pakan udang pada
masing-masing stadia siklus hidup udang, Bambang menyatakan, pada stadia naupli makanannya berupa kantong kuning telur dari induk. Pada stadia zoea 1-3 makanannya berupa herbivorus (fitoplankton) seperti Sceletonema, Mirocystis, Diatomese, dan Clorella.
 
 
Menginjak ke stadia mysis 1-3, makanannya berubah menjadi zooplankton/ artemia. berikutnya PL1-10 benur menjadi omnivora atau memakan segala (pakan
buatan (crumble), zooplankton/artemia).
 
 
Dan terakhir PL 10-sampai dewasa udang makan omnivorus/scavenger (makanan yang mulai membusuk). Seperti pelet, flok (bakteri, zoo-fitoplankton, detritus), bahan organik yang mulai membusuk. “Jika kita mengetahui sifat-sifat ini, kita bisa mempersiapkan air agar makanan alami cukup tersedia dalam air,” lanjut Bambang.
 
 
Bambang memaparkan, pakan alami yang penting bagi udang berupa mikroalga,zooplankton, zoobentos, dan perifiton. Jika manajemen kualitas air bagus, juga
banyak ditemukan detritus dalam usus udang. Nilai gizi detritus dalam usus disupport oleh banyaknya komunitas bakteri (5-10 % biomassa detritus). Detritus itu bagus, namun agar tidak mengganggu kualitas air maka jumlahnya harus dibatasi.
 
 
Selanjutnya Bambang menjelaskan soal pakan alami udang. Dinamika fitoplanton dan zooplankton di dalam kolam sangat menentukan karena keduanya dimakan udang. Ketersediaannya semakin terbatas dengan perkembangan umur budidaya. “Untuk itu pakan buatan menjadi penting dalam memenuhi vitamin, mineral, pigmentasi, micronutrient yang semakin terbatas karena pakan alami semakin tidak cukup. Makanya sistem bioflok dijalankan untuk meningkatkan ketersediaan pakan alami dan mengurangi ganti air. Menurut hasil penelitian, pada stadia mysis 1 sampai PL-5, yang paling tinggi tingkat kehidupannya yakni mencapai 99,3 % adalah kombinasi artemia 75 % dan pakan buatan 25 %,” profesor mengakhiri pemaparannya pada webinar yang diikuti hampir 500
peserta dari berbagai profesi dan daerah ini.
 
 
Artemia yang Tepat
Lebih lanjut Afandi menceritakan penggunaan artemia pada budidaya udang vaname di tambak intensif. “Dalam menjalankan budidaya petambak mengharapkan budidaya mudah; tidak ada gangguan penyakit; produksi tinggi dan makin meningkat; biaya rendah dan keuntungan layak serta dapat berproduksi secara
berkelanjutan,” ujarnya.
 
 
Namun kenyataan di lapangan, lanjutnya, petambak menghadapi permasalahan.Di antaranya, berbagai kasus penyakit, terutama virus dan vibriosis yang hingga kini menjadi momok bagi petambak. Penyebabnya, peningkatan kandungan bahan organik di dalam air (TOM) yang berimbas kepada menurunnya kualitas lingkungan; sering terjadi wabah penyakit dan munculnya penyakit baru, seperti white spot (WSSV), myo (IMNV), dan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disesase (AHPND).
 
 
Untuk mencegah munculnya permasalahan tersebut, Afandi menerangkan, terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan petambak melalui peningkatan penerapan teknologi yang efektif. Salah satu bentuk penggunaan bahan yang baik dan efektif adalah artemia instart pada awal pemeliharaan. Karena artemia instart memiliki nutrisi yang tinggi dan mudah dalam aplikasi. Dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat kehidupan udang dan meningkatkan daya tahan.
 
 
Moh Najib pun menegaskan tentang pentingnya artemia dalam stadia hidup udang. Ia mengatakan, artemia merupakan pakan alami wajib bagi udang bagai ASI pada bayi. Apalagi artemia sudah diperkaya dengan enzim dan selenium sehingga bisa meningkatkan imun tubuh udang agar lebih tahan terhadap serangan penyakit.
 
 
“Kedepannya, berkat kemajuan teknologi, artemia bagaikan kapsul. Kita bisa menitipkan berbagai asupan untuk dimasukkan ke udang guna membuat udang lebih cepat pertumbuhannya, lebih imun dan macam-macam,” tambah Najib yang mengabarkan pihaknya segera membuka produksi artemia instart di Jawa Timur.
 
 
Bebas Vibrio
Arif kemudian menguraikan soal artemia instart yang diproduksi dan dipasarkan perusahaannya. Disebutkannya, artemia merupakan pakan alami dengan kandungan nutrisi yang sangat baik. Artemia bisa dikeringkan dan disimpan dalam waktu lama. Cara kulturnya pun masih sederhana dan permintaan akan artemia lebih simpel, bersih dan bebas vibrio.
 
 
Mengenai perusahaannya Arif menyebut, didirikan oleh Frank Indigne dan Luk van Nieuwenhove di Thailand pada 2013 dan di Indonesia, artemia instart mulai
diproduksi di Lampung Selatan tahun 2018. I&V Bio merupakan suplier hatchery dan tambak inovatif yang menawarkan produk dan jasa kepada konsumennya.
 
 
Menurut Arif, problem artemia selama ini yakni berupa kandungan vibrionya tinggi, terutama di cangkang (penyumbang penyakit di bak larva) dan munculnya bolitas di hepato serta semakin lama kultur nutrisinya semakin berkurang. “Umumnya bolitas muncul setelah pemberian artemia cyste. Sindrom bolitas disebabkan oleh vibrio dengan gejala nafsu makan menurun dan lambat berenang.
 
 
Terjadi kerusakan pada hepato dan angka kematian meningkat,” urainya. Arif mengatakan instart energi merupakan stadia artemia instart-2 yang sudah enrichment, bergizi tinggi, dikemas dalam bentuk pasta hidup, cocok digunakan pada stadia PL5-besar (nursery dan tambak). Sudah memiliki registrasi KKP dengan No KK RI UV 1615112018.
 
 
Dengan SOP budidaya (persiapan awal tebar) yang baik ditambah penggunaan instart E di awal tebar akan meningkatkan daya tahan benur sehingga tingkat
kelulushidupan udang di awal tebar akan lebih baik. Hal ini tentunya akan berimbas pada hasil panen yang lebih baik. “Pemilihan benur dari hatchery yang
minim vibrio menjadi faktor penentu kesehatan udang. Tentunya hatchery yang menggunakan instart artemia kandungan vibrio jauh lebih rendah dibanding hatchery yang masih menggunakan artemia kaleng,” tutupnya. TROBOS Aqua/Adv
 
 

 
Aqua Update + Advertorial Aqua + Cetak Update +

Artikel Lain