Kamis, 15 Juli 2021

Optimalisasi Feed Cost Formulation dan Pemanfaatan Lemak/Energi Pakan dengan Lyso-phospholipid

Optimalisasi Feed Cost Formulation dan Pemanfaatan Lemak/Energi Pakan dengan Lyso-phospholipid

Foto: 


Suplementasi Lyso-phospholipid pada pakan udang dapat meningkatkan performa pertumbuhan dengan biaya formulasi pakan yang lebih rendah
 
 
Terjadi peningkatan harga soy-products yang sangat signifikan termasuk soy-lechitin hingga lebih dari 60 % di Indonesia. Hal ini akan terus terjadi karena adanya keterbatasan stok di beberapa negara pemasok.
 
 
Soy-product sejak lama sudah menjadi salah satu solusi untuk mengurangi penggunaan tepung ikan dan mengurangi biaya formula. Saat ini harga kedelai dan produk turunannya yang meningkat tajam, pengurangan biaya formulasi tanpa mempengaruhi performa pakan menjadi tantangan besar. Salah satu strategi dari formulator pakan adalah melihat cara lain untuk pemakaian nutrien yang lebih baik.
 
 
Lyso-phospholipid yang teruji dan terseleksi secara spesiik dapat menjadi alternatif bagi formulator untuk membantu dalam peningkatan performa pakan sekaligus meminimalkan biaya formulasi.
 
 
Peran Lyso-phospholipid
Pada udang, pertambahan bobot tertinggi secara umum di dapatkan dengan kadar lemak pakan sebesar 5 - 6 % (NRC, 2011), sedangkan kadar tinggi (>10 %) dapat menghambat pertumbuhan. Hal ini karena saluran pencernaan udang yang pendek dan kurangnya sistem cairan empedu yang menyebabkan emulsiikasi dan pencernaan lipid yang kurang optimal. Kekurangan cairan empedu pada udang menyebabkan pembentukan dan penyerapan misel lemak yang kurang efektif sehingga menyebabkan penurunan fungsi hepatopankreas.
 
 
Lyso-phospholipids membantu sistem pencernaan secara alami menjadi lebih eisien yang sehingga mampu meningkatkan emulsiikasi, pencernaan, dan penyerapan lemak pakan. Bekerja dengan memfasilitasi pemecahan lemak pakan menjadi bentuk lebih sederhana dan dapat tersebar di seluruh cairan saluran pencernaan, sehingga memungkinkan tindakan yang lebih eisien oleh enzim lipase. 
 
 
Tersedianya misel lemak dengan ukuran yang lebih kecil tidak hanya menawarkan lebih luasnya area permukaan untuk kinerja enzim lipase, tetapi juga mempermudah pengangkutan dan penyerapan lemak oleh sel-sel hepatopankreas. Hal ini yang dapat membuat udang dapat lebih eisien memanfaatkan lemak sebagai nutrisi penting dan sumber energi untuk mengoptimalkan pertumbuhan.
 
 
Lesitin adalah bahan baku yang umum sebagai sumber phospholipid yang digunakan dalam pakan udang dimana nutrisionis memanfaatkannya sebagai antisipasi bahan emulsiikasi. Dua ekor asam lemak yang bersifat lipoilik di dalam molekul phospholipid membuat lesitin menjadi agen pengemulsi yang eisien untuk emulsi air dalam minyak (yaitu air dalam jumlah terbatas ditambahkan ke lingkungan yang kaya lemak), tetapi merupakan pengemulsi yang lemah untuk kondisi minyak dalam air (yaitu jumlah lemak yang terbatas ditambahkan ke lingkungan yang kaya air) seperti pada saluran pencernaan udang (Gambar 1).
 
 
Oleh karena itu, peran lesitin harus lebih dianggap sebagai sumber phospholipid daripada agen pengemulsi pakan. Lyso- phospholipids diperoleh melalui proses hidrolisis enzimatik terkontrol dari phospholipid dimana salah satu ekor asam lemak dihilangkan. Kondisi Lyso-phospholipids yang hanya memiliki satu residu asam lemak per molekul. Ini membuatnya menjadi lebih hidroilik dibandingkan dengan phospholipid sehingga meningkatkan potensi fungsi produk sebagai pengemulsi minyak dalam air dalam saluran pencernaan udang. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji eikasi dari Lyso-phospholipids dalam menggantikan lesitin serta meningkatkan kinerja pertumbuhan pada udang vannamei.
 
 
Pakan Uji dan Kondisi Penelitian
Tiga pakan uji dengan komposisi formula 15 % tepung ikan dan 1,7 % minyak ikan (Tabel 1). Kontrol positif (Pos CTRL) menggunakan 1,5 % lesitin , dimana pemakaiannya berkurang dari 1,5 % ke 0,75 % pada perlakuan kontrol negatif (Neg CTRL). Lyso-phospholipid berbasis emulsiier (Aqualyso® STD by Adisseo, France) disuplementasikan sebanyak 0,1 % pada perlakuan kontrol negatif (Neg CRTL + Aqualyso® STD) dengan tujuan kompensasi penurunan pemakaian lesitin dalam pakan.
 
 
Pakan udang tenggelam diproduksi dengan diameter dies 2 mm, dikeringkan dalam oven bersuhu 60°C, dan disimpan pada suhu -20°C sampai digunakan.
Pakan uji secara acak diberikan ke 12 tangki (70L, empat ulangan per perlakuan) dalam sistem resirkulasi tertutup. Suhu air pada sistem pemeliharaan terkontrol di 28±1°C. Pemeliharaan dilakukan dengan jumlah 15 ekor udang Litopenaeus vannamei per akuarium, bobot awal tebar 3 g, dan diberi makan sebanyak 6 %
dari bobot basah udang pada pukul 07.00, 12.00, 17.00 dan 22.00.
 
 
Sampling bobot dilakukan 14 hari dan pergantian air dilakukan 50% setelah sampling. Pemberian pakan uji dilakukan selama 8 minggu. Pada akhir penelitian dilakukan analisa pada total pakan, bobot udang secara individual, dan kinerja pertumbuhan termasuk pertambahan berat badan (WG), laju pertumbuhan spesiik (SGR), dan tingkat kelangsungan hidup.
 
 
Hasil dan Diskusi
Udang dengan perlakuan pakan negatif kontrol (0,75 % lesitin) memperlihatkan pertambahan bobot dan laju pertumbuhan (SGR) yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan pakan positif kontrol (1,5 % lesitin) (Gambar 2). Hasil ini dapat dikaitkan dengan pencernaan dan pemanfaatan lemak pakan yang kurang baik dengan pasokan lemak/energi yang lebih rendah.
 
 
Semantara, suplementasi Lyso-phospholipid (Aqualyso® STD sebanyak 0,1 %) dalam pakan dengan pemakaian l esitin rendah (0,75 %) secara signiikan dapat meningkatkan persentase bobot tubuh dan SGR sebesar 14,7 % dan 11,6 % dalam kaitannya dengan perlakuan kontrol negatif. Hasil ini selaras dengan perbedaan yang signiikan pada ratarata pertumbuhan harian (ADG) dari 1,52 g/minggu dan 1,74 g/minggu untuk perlakuan negatif kontrol dan perlakuan dengan
suplementasi. Peningkatan secara angka dalam parameter yang sama juga terdapat dalam kaitannya dengan perlakuan kontrol positif.
 
 
Hasil ini menunjukkan bahwa pergantian bahan emulsi lemah dalam jumlah besar dengan pengemulsi kuat dalam jumlah rendah strategi yang efektif untuk mengoptimalkan pencernaan lemak dan penyerapannya serta meningkatkan kinerja pertumbuhan. Pada hasil ini juga terlihat bahwa penggunaan Aqualyso® STD membantu formulator pakan dalam peningkatan potensi penghematan biaya formula pakan. Dalam penelitian sebelumnya, 1 kg Aqualyso® STD secara efektif dapat menggantikan lesitin 1 % tanpa mengurangi kinerja pakan (Guerin et al. 2020). Pada kondisi saat ini dimana harga soya-lesitin meningkat tajam, penggantian 0.75% lesitin dengan 0.1% Aqualyso® STD dapat membawa penghematan biaya formula pakan yang sangat menarik. Tentunya disertai peningkatan kinerja pakan seperti pada penggunaan pakan lesitin tinggi. TROBOS/adv
 
 

 
Aqua Update + Advertorial Aqua + Cetak Update +

Artikel Lain