Kamis, 15 Juli 2021

Sumbar Kembangkan Tambak Udang

Sumbar Kembangkan Tambak Udang

Foto: Dok. Syafnijal Datuk


Galakkan budidaya udang di lima kabupaten yang memiliki garis pantai. Gubernur berjanji mendorong kabupaten/kota merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) guna menjaring investasi masuk ke wilayahnya.
 
 
Menurut Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, regulasi soal usaha tambak udang di Sumbar belum memadai. “Selama ini payung hukumnya belum ada. Untuk itu perlu revisi RTRW pada kabupaten yang memiliki garis pantai agar bisa mengakomodir investasi tambak sehingga tidak berbenturan dengan sektor ekonomi lainnya,” ujar Gubernur ketika melakukan studi banding regulasi tambak udang ke Lampung, baru-baru ini.
 
 
Terdapat lima kabupaten yang menjadi kawasan pengembangan tambak udang di Sumbar yakni: Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, Padang Pariaman, Pasaman Barat dan Mentawai. Khusus Kabupaten Mentawai merupakan kawasan masa depan tambak udang Sumbar. “Saat ini tambak udang baru mulai dikembangkan di Kabupaten Padang Pariaman,” lanjutnya.
 
 
Dijelaskannya setelah mengamati regulasi dan kemajuan sektor pertanian dan perikanan di Provinsi Lampung. Dari sini, ia melihat ternyata banyak hal yang bisa dijadikan masukan terkait regulasi dan teknologi budidaya udang vannamei. 
 
 
Diterangkan Gubernur, regulasi dan pengaturan kawasan tambak udang di Lampung tersebut akan menjadi masukan bagi Pemda Sumbar dalam penyusunan Perda RTRW, dan Perda RTRW Kabupaten/Kota yang akan diawali dengan Perbup di masing-masing kabupaten. Regulasi ini nantinya menjadi landasan hukum bagi investor tambak agar bisa membuka tambak.
 
 
Nantinya kawasan tambak akan ditempatkan sesuai zonasinya sehingga sama-sama berkembang dengan sektor ekonomi lainnya sehingga tidak saling mengganggu. Jika salah menempatkan dan mengelolanya maka akan berdampak kepada lingkungan untuk jangka panjang. Untuk itu harus diatur tata ruangnya, terutama antara kawasan tambak dan pariwisata serta sektor ekonomi lainnya.
 
 
Dalam pengembangan tambak udang, Gubernur menyatakan, Pemprov Sumbar ingin budidaya udang yang bekelanjutan. Terhindar dari masalah-masalah, seperti penyakit, dampak lingkungan dan benturan dengan sektor ekonomi lainnya. Diharapkan budidaya udang nantinya bermanfaat bagi masyarakat dan menjadi sumber PAD bagi Pemprov Sumbar dan Pemkab.
 
 
“Kita ingin hal-hal yang tidak diharapkan bisa dicegah dari awal, seperti dampak limbah tambak terhadap kelestarian lingkungan perairan. Oleh karena itu, sistem pengolahan limbah tambak harus mendapat perhatian sehingga dampaknya terhadap lingkungan bisa diminimalisasi,” jelas Mahyeldi yang merupakan sarjana pertanian tersebut.
 
 
Ditambahkan Mahyeldi, selama ini Pemprov Sumbar sudah mengembangkan budidaya ikan air tawar yang difokuskan di Danau Maninjau. Kini terdapat 239 pembudidaya yang membudidayakan ikan dengan sistem keramba jaring apung (KJA) di danau tersebut.
 
 
Oleh karena itu, Gubernur menambahkan, selama kepemimpinannya, pihaknya fokus mengembangkan pertanian di mana sektor perikanan masuk di dalamnya. Alasannya, sebanyak 57 % dari 5,4 juta jiwa penduduk Sumbar memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Lalu, sebanyak 24 % dari Rp 2,5 triliun PAD Sumbar disumbang sektor pertanian. “Untuk itu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2021-2026 Provinsi Sumbar fokus pada sektor pertanian,” tutupnya.
 
 
Sementara, Kadis Kelautan dan Perikanan Sumbar Yosmeri menambahkan, pihaknya berkunjung ke Lampung belajar teknologi budidaya dan regulasinya. Dimana, turut mengatur dan mendorong tumbuhnya investasi budidaya udang karena Lampung sudah berpengalaman dalam mengembangkan tambak udang. 
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 110/15 Juli – 14 Agustus 2021
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 110/15 Juli – 14 Agustus 2021

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain