Kamis, 15 Juli 2021

Produksi Melesat, Serapan Terhambat

Produksi Melesat, Serapan Terhambat

Foto: 


Sistem dan produktivitas budidaya banding kian meningkat, sayangnya tidak sejalan daya serap pasar yang tengah lesu
 
 
Wajah merengut agaknya cukup bisa menggambarkan kondisi usaha para pelaku budidaya ikan bandeng. Pasalnya harga bandeng yang kian merosot seiring menurunnya daya beli masyarakat. Terlebih lagi adanya aturan pemerintah mengenai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, yang menyebabkan alur distribusi bandeng seret.
 
 
Hal tersebut disampaikan oleh Tejo Sukmono selaku Technical Sales Supervisor Aquafeed dari PT Suri Tani Pemuka. Bahwa saat ini stok bandeng di para pembudidaya banyak, namun sangat disayangkan dengan berlakunya PPKM darurat saat ini, membuat alur distribusi bandeng ke beberapa daerah tersendat dan daya beli lesu.
 
 
Pemasaran Tersendat
Membenarkan Tejo, Mumfaizin Faiz selaku ketua Asosiasi Pelaku Usaha Bandeng Indonesia (ASPUBI) mengenai stok bandeng saat ini dalam negeri cukup banyak. Namun sayangnya, alur distribusi bandeng saat ini cukup tersendat. “Stok bandeng saat ini lumayan banyak, tapi tidak sebanyak pada 2019 - 2020 lalu, begitu pula serapannya di tahun lalu itu masih cukup baik dibanding tahun ini,” ungkapnya siang itu.
 
 
Pria yang akrab disapa Faiz tersebut meIanjutkan, bahwa dalam kondisi pandemi ini sektor budidaya bandeng pun juga berdampak, khususnya dalam pendistribusian serta penjualan. “Saat kunjungan ke binaan pengolah pindang di Karawang, Jawa Barat (Jabar), produksi pun tidak berjalan. Kata salah satu pemilik usaha pindang, produksi tidak ada masalah namun serapannya sangat berkurang,” kata Faiz kepada TROBOS Aqua.
 
 
Para pengolah bandeng di Karawang tersebut, Faiz lanjutkan, biasanya menjual bandeng ke wilayah Bandung—Jabar, namun melihat situasi dan kondisi seperti ini permintaan anjlok hingga akhirnya memutuskan berhenti produksi terlebih dahulu. Minimnya daya beli saat ini berdampak pada serapan bandeng dalam negeri, karena memang 85 % produksi bandeng diserap oleh pasaran lokal, baik itu pasar tradisional maupun pasar moderen. Selain itu di beberapa daerah penjualan bandeng dilakukan oleh pedagang keliling, mereka ragu berjualan di tengah kondisi PPKM ini.
 
 
Menimpali Faiz, Tejo mengatakan, pasar utama bandeng terpusat di di Pulau Jawa, terlebih lagi ke Ibukota Jakarta. Dalam satu bulannya wilayah Indramayu saja bisa menghasilkan sekitar 500 - 600 ton bandeng yang biasanya distibusi ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim). Namun dengan jarangnya orang yang berbelanja bandeng di pasar-pasar saat ini, maka akan berdampak pada stok di pembudidaya menumpuk, dimana pada ujungnya harga bandeng
turun perlahan-lahan.
 
 
“Saat ini yang terjadi adalah permintaan akan bandeng menurun karena daya belinya, sedangkan stok melimpah di berbagai daerah. Hingga beberapa waktu lalu yang semula harga bandeng dengan ukuran satu kg berisi 3 – 4 ekor dibanderol dengan harga Rp 21 – 22 ribu, saat ini harganya sekitar Rp 18 – 19 ribu per kg,”ungkap Tejo.
 
 
Bicara mengenai harga, Faiz sampaikan, bahwa saat ini harga bandeng cukup berluktuasi akibat akibat kendala transportasi. Untuk bandeng fresh (langsung dari tambak) harganya berbeda dengan bandeng beku yang berasal dari luar daerah. Untuk yang fresh sekitaran Pulau Jawa harganya berkisar antara Rp 20 – 21 ribu per kg, sedangkan untuk yang beku lebih murah Rp 2 – 3 ribu per kg nya biasanya sekitar Rp 18 – 20 ribu per kg.
 
 
“Sebenarnya bandeng yang dibekukan harganya lebih murah, semisal kami mengambil bandeng dari Tarakan, harga di lokasinya cukup murah. Namun, karena alasan transportasi dan ada biaya penanganan pasca panen ini yang menjadi tambahan,” tutur pria yang juga berprofesi sebagai Business Development Director di PT Boga Perkasa Sejahtera.
 
 
Pangsa Pasar
Soal pasar bandeng lebih lanjut dijelaskan Faiz, hingga saat ini pangsa pasar terbesar untuk bandeng masih didominasi oleh serapan domestik,
walaupun ada juga permintaan untuk pangsa pasar ekspor namun tidak terlalu besar dan sering. Sambungnya, rata-rata permintaan bandeng masih
terpusat ke Ibukota.
 
 
Untuk ukurannya pasar lokal beragam ada yang meminta 1 kg berisi 2 - 3 ekor, ada juga yang meminta 3 - 4 ekor per kg. Untuk di bandeng sendiri
pun, juga disiapkan bandeng berukuran jumbo yang dimana kadang ukurannya mencapai 1 - 2 ekor per kg namun untuk pasar khusus yang kita ketahui bersama yakni bandeng imlek.
 
 
Untuk pangsa pasar domestik sediri, lanjut Faiz, masih didominasi oleh permintaan bandeng fresh yang di jual pasar-pasar tradisional, dan bandeng olahan seperti bandeng cabut duri atau bandeng presto. “Namun untuk saat ini permintaan akan bandeng olahan seperti cabut duri dan presto cukup tinggi dimana melihat kondisi saat ini yang serba terbatas, maka masyarakat banyak yang memilih produk yang ready to cook (siap masak) atau ready to eat (siap makan),”ungkapnya.
 
 
Faiz mengungkapkan, untuk memenuhi pangsa pasar lokal maka pihaknya bekerjasama dengan para mitra di berbagai wilayah seperti Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP) Karawang untuk memproduksi bandeng cabut duri,serta beberapa Rumah Tangga Produksi (RTP) di Karawang untuk membuat bandeng presto dan pindang. “Dari sana bandeng diolah lalu kami branding (beri merek) dan bantu pasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia,” ujat Faiz.
 
 
Untuk bandeng ukuran besar, Faiz lanjutkan, juga ada permintaan dari pasar middle east (Timur Tengah) dan Korea Selatan. Mereka ratarata meminta bandeng dengan ukuran 2 - 3 kg per ekor. Selain ukuran tersebut, banyak juga permintaan ekspor bandeng yang ukurannya lebih kecil sekitar 1 kg isi 12 - 15 ekor. Permintaan tersebut banyak berasal dari luar negeri seperti Sri Lanka, Taiwan, Korea, dan China yang tujuanya untuk umpan pancing tuna atau istilahnya dikenal dengan tuna bites. “Saat ini cukup sulit mencari bandeng dengan ukuran tersebut di beberapa daerah, beberapa waktu lalu sudah mencari dari Gresik,
hingga Karawang tidak dapat juga ikannya,”terang Faiz.
 
 
Terkait pasar bandeng ukuran kecil Kuswantoro Pembudidaya Bandengan asal di Pemalang Jawa Tengah ikut menjelaskan. Menurutnya, untuk permintaan bandeng ukuran 1 kg isi 10 – 12 juga banyak untuk pangsa pasar domestik. Bandeng-bandeng yang diproduksi di lokasi daerahnya yaitu di Desa Pesantren, Kecamatan Ulujami, Pemalang biasanya di distribusikan ke Purwokerto, Semarang dan beberapa daerah di Jawa Tengah lainnya. Umumnya bandeng ukuran
tersebut akan dipindang oleh produksi rumahan.
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 110/15 Juli – 14 Agustus 2021

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain