Selasa, 15 Juni 2021

Transformasi BKIPM Jakarta IIdengan Aplikasi Spectra Line

Transformasi BKIPM Jakarta IIdengan Aplikasi Spectra Line

Foto: 


Melalui aplikasi ini, BKIPM Jakarta II dukung percepatan ekspor dengan memangkas 9 tahapan menjadi 4 tahapan
 
 
Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Jakarta II (BKIPM Jakarta II) melakukan transformasi besar-besaran pada layanannya dengan meluncurkan aplikasi Spectra Line pada April 2021 lalu.
 
 
Aplikasi Spectra Line atau Sistem Pelayanan Ekspor Cepat Terintegrasi Akuntabel dan Berbasis Online merupakan aplikasi online (daring) berbasis website dimana proses pengajuan ekspor sampai dengan pencetakan sertifikat kesehatan diakukan secara mandiri oleh pengguna jasa di tempat masing-masing.
 
 
Kepala BKIPM Jakarta II, Nandang Koswara, menjelaskan, Spectra Line memberikan banyak kemudahan bagi penggunanya. “Jika dibandingkan dengan sistem pelayanan yang lama, Spectra Line jauh lebih efisien, hemat waktu, dan biaya,” terang Nandang terkait inovasi dari BKIPM Jakarta II yang berlokasi di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara ini.
 
 
“Sebelumnya, sistem pelayanan Transformasi BKIPM Jakarta II dengan Aplikasi Spectra Line Melalui aplikasi ini, BKIPM Jakarta II dukung percepatan ekspor dengan memangkas 9 tahapan menjadi 4 tahapan lama membutuhkan waktu 2 jam 40 menit mulai dari pengajuan PPK Online hingga mencetak sertifikat. 
 
 
Dengan Spectra Line cukup 40 menit saja. Selain itu, pengguna jasa harus melewati 9 tahapan dengan sistem yang lama. Dengan Spectra Line dipangkas menjadi 4 tahapan saja yang harus dilewati,” papar Nandang .
 
 
Dia pun menjelaskan lebih rinci tentang Spectra Line bagi pelayanan yang diterapkan, terkhusus lagi di Pelabuhan Tanjung Priok yang menjadi salah satu wilayah kerja BKIPM Jakarta II. Aplikasi ini, terang Nandang, sudah diterapkan di Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia.
 
 
“Pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor impor maupun antar pulau sehingga dibutuhkan aplikasi yang akuntabel. Frekuensi lalu lintas komoditas perikanan baik untuk ekspor, impor, maupun antar wilayah terbilang sangat tinggi. Tidak heran, kesibukan pelayanan terjadi di BKIPM ini setiap harinya. Kondisi kantor pelayanan selalu ramai dan petugas pelayanan tak henti-hentinya melayani melewati batas waktunya,” jelasnya.
 
 
Maka, ia melanjutkan, di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, Spectra Line menjadi solusi terbaik. Tidak ada kontak langsung antara petugas dengan pengguna jasa. Semuanya dilakukan secara online.
 
 
Selain itu proses kegiatan pengawasan stuffing oleh petugas dilakukan menggunakan IP Camera dengan resolusi tinggi melalui ruang kontrol di BKIPM Jakarta II, sehingga tidak diperlukan lagi kehadiran petugas di lokasi stuffing. Hal ini tentu saja sangat menghemat sumberdaya manusia.
 
 
Dengan penggunaan aplikasi Spectra Line dapat menekan biaya-biaya logistik, akomodasi dan waktu. Pengguna cukup mengakses laman website http://spectraline.ddns.net. Bisa diakses kapan saja dan dimana saja.
 
 
Sejauh ini, imbuh Nandang, respon pengguna jasa dengan adanya inovasi ini sangat positif. Pengguna merasa sangat puas karena mengurus dokumen semakin
mudah, cepat, dan hemat.
 
 
Dukung Percepatan Ekspor
Terobosan lain yang dilakukan BKIPM Jakarta II adalah terintegrasinya pelayanan ekspor komoditas perikanan dengan pelayanan ekspor INSW (Indonesia National Single Window). “Dengan adanya integrasi layanan ini, yang tadinya eksportir saat akan mengekspor komoditas perikanannya menghubungi banyak pihak seperti BKIPM, Bea dan Cukai, Kementerian Perdagangan, BPOM dan lainnya, sekarang cukup satu tindakan saja. 
 
 
Pengguna jasa cukup mengirimkan datanya melalui aplikasi Sisterkaroline yang sudah terintegrasi dengan aplikasi Single Submisison, kemudian akan terdistribusi ke semuanya pihak terkait. Selain itu kegiatan pemeriksaan juga dilaksanakan secara bersama-sama antara karantina dengan Bea dan Cukai sehingga dapat menghemat waktu biaya logistik,” tambah Nandang.
 
 
Inovasi dalam pelayanan yang semakin cepat, mandiri, pemangkasan biaya menjadi salah satu bentuk dukungan BKIPM Jakarta II terhadap percepatan dan peningkatan nilai ekspor yang digaungkan pemerintah. Hal ini dibuktikan adanya peningkatan nilai ekspor komoditas perikanan yang melalui wilayah kerja BKIPM Jakarta II setiap tahunnya.
 
 
Selain pelabuhan Tanjung Priok, wilayah kerja BKIPM Jakarta II diantaranya Bandara Halim Perdana Kusuma; Pelabuhan Muara Baru dan Muara Angke; serta Kantor Pos Besar Cikarang.
 
 
Nandang mengungkapkan, data nilai ekspor komoditas perikanan yang melalui wilayah kerjanya. Nilai ekspor 2019 tercatat Rp 20,3 triliun dengan total volume 409.502 ton. Di 2020 terjadi peningkatan yang cukup signifikan walaupun dalam kondisi pandemi. Nilai ekspor 2020 tercatat Rp 22 triliun dengan total volume 467.291 ton. Untuk 2021, ia optimis nilai ekspor meningkat dibanding 2020. Karena menurut data Januari hingga awal Juni terlihat ada peningkatan dibanding tahun lalu.
 
 
Menurut Nandang, hal tersebut menunjukkan bahwa produk perikanan bisa menjadi penyangga utama devisa negara. Walaupun pandemi pertumbuhan ekspornya justru meningkat. Berbeda dengan komoditas lainnya yang mengalami penurunan.
 
 
“BKIPM Jakarta II tetap konsisten mengawal agar kegiatan ekspor produk perikanan tidak terganggu dan terhambat di tengah pandemi,” tegas Nandang.
 
 
BKIPM Jakarta II aktif melakukan pendekatan secara langsung kepada UPI atau eksportir agar selalu menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Untuk menghindari terkontaminasinya produkproduk perikanan dengan virus Covid-19. 
 
 
Selain memastikan penerapkan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak), BKIPM juga memastikan rapid test dilakukan secara berkala di lingkungan UPI. Sehingga tidak ada kontaminasi virus dari karyawan ke produk perikanan.
 
 
Saat ini terdapat 105 eksportir terdaftar atau Unit Pengolahan Ikan di BKIPM Jakarta II. Komoditas perikanan yang paling dominan yang dilalulintaskan adalah tuna, udang vaname, tenggiri, rumput laut, dan kerapu. Negara tujuan utamanya adalah China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
 
 
Nandang berharap kehadiran BKIPM Jakarta II dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh pengusaha perikanan terutama dalam hal mendukung percepatan usaha.
 
 
Dilihat dari hasil survei terakhir yang dilakukan UPT ini, kepuasan pelanggan berada di angka sangat memuaskan yakni 94 %. Ini menjadi pemacu untuk terus menjadi lebih baik dan terus berinovasi. “BKIPM Jakarta II akan terus berkaya dan mengabdi dengan penuh totalitas,” imbuh Nandang.
 
 
Selain inovasi dalam pelayanan yang terus dilakukan, BKIPM Jakarta II juga selalu eksis di tengah-tengah masyarakat. Misalnya melalui kegiatan sosial, sosialisasi layanan, sosialisasi pentingnya mengonsumsi ikan yang sehat dan bermutu, bakti lingkungan, menjalin kerja sama dengan akademisi, komunitas, dan sebagainya.
 
 
Pada 2020 lalu, UPT ini berhasil meraih juara umum lomba pelaksanaan Bulan Mutu Karantina (BMK) tingkat nasional.
Kegiatan yang dilakukan diantanya pembagian puluhan ton ikan kepada masyarakat yang terdampak pandemi dan mengalami stunting. “Bagi kami juara adalah bonus, yang terpenting adalah bakti dan sumbangsih kita bisa dirasakan masyarakat,” ujar Nandang. lTROBOS Aqua/Adv

 
Aqua Update + Advertorial Aqua + Cetak Update +

Artikel Lain