Selasa, 15 Juni 2021

ARLI: Bali Bisa Bangkitkan Kembali Rumput Laut

ARLI: Bali Bisa Bangkitkan Kembali Rumput Laut

Foto: Dok. Meilaka
Pembudidaya rumput laut di Badung Bali



Bali (TROBOSAQUA.COM). Perekonomian Bali yang mengandalkan sektor pariwisata terpuruk setelah setahun lebih masa pandemi. Sektor tersebut tampaknya tak cukup kuat menopang roda perekonomian sehingga berimbas pada kesejahteraan masyarakat lokal.


Melihat hal tersebut, Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis menghimbau agar Bali dapat membangkitkan kembali sektor akuakultur, terutama pengembangan budi daya rumput laut. "Sebaiknya Bali tetap mengembangkan sektor pariwisata dengan sektor-sektor lainnya secara paralel. Untuk rumput laut sendiri, Bali merupakan wilayah yang sangat berpotensi," ungkap Safari usai pertemuannya dengan Ketua Umum Kadin Bali, Made Ariandi di Denpasar (14/6).



Safari juga mengatakan, Bali merupakan daerah yang pertama membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma spinosum dan Eucheuma cottonii pada awal tahun 1980-an. Kemudian diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan dan beberapa provinsi lain di Indonesia. Selain itu, Bali juga pernah menjadi tempat penyelenggaraan pertemuan rumput laut dunia, the 21st International Seaweed Symposium (ISS) pada tahun 2013 yang dihadiri oleh peneliti, pengusaha, pemerhati serta pembuat kebijakan dari 50 negara.



Menurut Safari, rumput laut juga pernah menjadi sumber penghasilan masyarakat di beberapa daerah di Bali. Seperti di Pesisir Nusa Dua dan Pulau-Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Oleh karena itu, ARLI akan mendorong adanya perluasan wilayah budidaya rumput laut untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, membantu pemulihan ekonomi Bali, juga untuk meningkatkan ekspor rumput laut.


Berdasarkan data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut Provinsi Bali tahun 2019 mencapai 849,66 ton (basah). Kemudian menurun di tahun 2020 menjadi hanya 149 ton (basah) saja.



"Selama ini kami mendapat laporan jika memang ada tantangan yang ditemui untuk mengembangkan rumput laut di Bali, diantaranya karena bersinggungan dengan area pariwisata atau hotel," ungkap Safari.



Sehingga menurutnya, pengaturan zonasi menjadi sangat penting dilakukan untuk mengakomodir kepentingan kedua sektor usaha tersebut. ARLI berharap agar dibuat tata ruang wilayah antara budidaya rumput laut, lalulintas laut, perhotelan atau resort, serta objek wisata lainnya yang disepakati bersama Pemerintah Daerah Kabupaten, Kota, dan Provinsi bersama kementerian dan lembaga terkait, juga Kadin Bali dan ARLI.



"Sebenarnya bisa digabung menjadi semacam  eco-wisata, sehingga tak harus bersinggungan satu sama lain. Banyak turis yang tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga kearifan budaya lokalnya termasuk kegiatan usahanya," usul Safari.



Sehingga ke depannya rumput laut bisa menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Bali. Setelah menggandeng Kadin Bali, ARLI juga siap bekerjasama dengan pemda setempat untuk menindaklanjutinya.



Sementara itu, Ketua Umum Kadin Bali, Made Ariandi menyambut baik langkah ARLI untuk membangkitkan kembali budi daya rumput laut di sana. "Kami sudah bersepakat untuk mengembangkan lagi pusat-pusat produksi rumput laut di Bali. Iklimnya kan cocok untuk budi daya dan bagus juga untuk membuka lapangan kerja baru dan menunjang perekonomian lokal," kata Made.



Ia juga mengatakan, pihaknya bersama ARLI akan melaksanakan program pelatihan bagi masyarakat untuk memperkaya wawasan dan kemampuan teknis pembudidaya agar produksi rumput laut di Bali bisa meningkat dengan optimal. "Kami akan menggandeng pemerintah daerah terkait, sekaligus melibatkan perbankan untuk pembiayaan produksinya, sementara untuk pemasaran ekspornya sudah dijamin oleh ARLI," pungkasnya.  Ist/ed/Bella

 

 

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain