Sabtu, 15 Mei 2021

KKP Dorong Balai Perikanan Budidaya jadi Tumpuan Peningkatan Ekspor dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarak

KKP Dorong Balai Perikanan Budidaya jadi Tumpuan Peningkatan Ekspor dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarak

Foto: 
Menteri Kelautan dan Perikanan Meninjau Budidaya Kepiting di BBPBAP Jepara

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya fokus pada kegiatan perekayasaan dan menjadi bagian dalam pengembangan bisnis, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap ekonomi nasional
 
 
Sejalan dengan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan (Men KP), Sakti Wahyu Trenggono. Dimana, ada dua terobosan guna menggenjot subsektor perikanan budidaya, yakni pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan, serta pembangunan kampungkampung perikanan budidaya tawar, payau dan laut berbasis kearifan lokal. 
 
 
“Guna mendukung dua program tersebut peranan balai sangat diperlukan guna merealisasikan itu semua. Pasalnya balai bersentuhan langsung dengan masyarakat di daerah-daerah,” ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara beberapa waktu lalu.
 
 
Menurut Slamet, sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) harus terus fokus pada kegiatan perekayasaan.
 
 
Selain itu juga harus menjadi bagian dalam pengembangan bisnis sehingga nantinya akan menggerakkan ekonomi masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap ekonomi nasional.
 
 
Dikatakan Menteri Trenggono, peran UPT selain melayani dan mendampingi masyarakat, juga sebagai agent of change serta pemberi solusi. “Saat ini UPT juga harus dapat menjadi inkubator sekaligus akselerator bisnis di daerah,” ungkap Trenggono.
 
 
Program Unggulan
Lebih lanjut Slamet menjelaskan, arahan dari Men KP saat melakukan kunjungan di BBPBAP Jepara, yaitu mendorong untuk memaksimalkan keberadaan UPT DJPB agar menghasilkan inovasi-inovasi teknologi yang bernilai ekonomi, serta bisa diaplikasi dan ditiru oleh masyarakat. Salah satunya seperti tambak Millenial Shrimp Farming (MSF). 
 
 
“Dalam peninjauannya, Bapak Menteri menyampaikan masa depan dunia perikanan dan kelautan Indonesia tak lepas dari peran serta tenaga-tenaga milenial,” terang Slamet.
 
 
Selain itu dalam kunjungan, Menteri Trenggono juga melakukan tebar benih kepiting sebanyak 20 ribu ekor. BBPBAP Jepara sebagai salah satu UPT DJPB yang berhasil dalam pengembangan teknologi sistem perbenihan maupun budidaya kepiting secara massal dan menjadi rujukan bagi pelaku usaha untuk teknologi pengembangannya.
 
 
Dalam rangkaian kunjungannya di BBPBAP Jepara, juga dilakukan penyerahan bantuan pengembangan perikanan budidaya dengan total senilai Rp 4,7 miliar. Paket bantuan tersebut antara lain berupa 1 paket klaster budidaya bandeng, 12 paket sarana budidaya ikan sistem bioflok, 2 juta benih udang lokal, 2,5 juta benih udang windu, 500 ribu benih udang vaname, 200 ribu nener bandeng, 100 ribu benih ikan nila salin, 200 ribu benih kepiting, 1 ton pakan mandiri, 1 ton bibit rumput laut, serta 2 paket UPR nila salin.
 
 
Di sisi lain, Slamet menyampaikan guna pencapaian dua terobosan terkait perikanan budidaya tersebut, salah satunya melalui pengembangan pakan mandiri. Dan upaya yang telah dilakukan oleh BBPBAP Jepara lainnya adalah instalasi budidaya maggot yang dikunjungi dan dilihat langsung oleh Menteri Trenggono.
 
 
Beberapa keunggulan maggot diantaranya memiliki kandungan protein 40 – 48 % dan lemak 25 - 32 %. Selain itu produksi maggot tidak membutuhkan air, listrik dan bahan kimia serta infrastruktur yang digunakan relatif sederhana, sehingga teknologi produksi maggot dapat diadopsi dengan mudah oleh masyarakat.
 
 
Maggot mempunyai peluang digunakan sebagai bahan baku alternatif pakan ikan dan dapat diproses menjadi tepung maggot (mag meal) sehingga dapat menekan biaya produksi pakan. Selain itu maggot mampu mendegradasi limbah organik menjadi material nutrisi lainnya. 
 
 
“Bisa dibayangkan jika semua pembudidaya mampu menghasilkan budidaya maggot, maka bukan hanya nilai ekonomi yang didapatkan tapi secara langsung kita berperan dalam penyelamatan bumi dari masalah limbah organik (zero waste),” papar Slamet.
 
 
Masih dikatakan Slamet, melalui inovasi teknologi BBPBAP Jepara seperti budidaya maggot ini diharapkan dapat memudahkan perputaran ekonomi masyarakat pembudidaya dalam usaha budidaya yang berkelanjutan serta diharapkan dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian bagi masyarakat daerah.
 
 
Dukung Program KKP
Sementara, Kepala BPBAP Jepara, Sugeng Raharjo menegaskan bahwa pihaknya siap dan terus berupaya dalam rangka pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor serta pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya melalui kegiatan perekayasaan untuk menciptakan inovasi teknologi yang mudah ditiru oleh masyarakat pembudidaya.
 
 
Dikatakan Sugeng, melalui Tambak MSF diharapkan bisa mencetak generasi milenial sebagai tenaga yang siap diterjunkan ke masyarakat menjadi pelaku usaha budidaya udang yang profesional sehingga mendukung peningkatan produksi udang nasional. 
 
 
Selain itu juga melalui program klaster tambak udang percontohan di Kabupaten Sukamara diharapkan memberikan multiplier effect dalam mendorong peningkatan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, mempercepat transfer teknologi kepada masyarakat serta perluasan kawasan budidaya udang yang mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
 
 
“BBPBAP Jepara juga berperan dalam membantu menjaga kelestarian lingkungan dengan pemanfaatan limbah organik sebagai pakan maggot. Selain sebagai bahan baku produksi pakan mandiri, maggot menciptakan nilai tambah menjadi bahan makanan seperti crispy, minyak organik, dan sisa media, budidaya maggot bisa digunakan untuk pupuk tanaman,” ujar Sugeng.
 
 
Sugeng memaparkan, pun BBPBAP Jepara membangun kemitraan dengan bank-bank sampah dari kelompok masyarakat di Jepara dan sekitarnya untuk pengembangan maggot dari hulu ke hilir. Selain itu juga membangun kemitraan dalam pengelolaan lingkungan terutama limbah organik sehingga menciptakan usaha baru bagi masyarakat di Jepara.
 
 
Instalasi budidaya maggot dilengkapi dengan 140 bak budidaya dan ruang lalat Black Soldier Fly (BSF) dengan kapasitas produksi selama 1 bulan yakni fresh maggot kurang lebih sebanyak 1,3 ton. Lalu ada 900 kg kompos tanaman bekas media pemeliharaan maggot atau selama 1 tahun dengan kapasitas produksi fresh maggot kurang lebih sebanyak 15,6 ton, serta kompos tanaman bekas media pemeliharan maggot kurang lebih sebanyak 10,8 ton.
 
 
Tidak sampai di situ, atas capaian yang sudah diwujudkan, Bupati Jepara, Dian Kristiandi memberikan apresiasi terhadap program-program yang dikembangkan
KKP seperti kegiatan kegiatan perikanan budidaya di BBPBAP Jepara. 
 
 
“Kami akan dukung semua program-program KKP yang memberikan dampak bagi masyarakat dalam mengembangkan perikanan budidaya menjadi lebih baik dan mendorong roda perputaran ekonomi bagi masyarakat Jepara,” ujar Bupati Dian.
 
 
Dian menambahkan, Pemerintah Kabupaten Jepara akan terus berupaya memotivasi masyarakat untuk usaha berbudidaya ikan yang berkelanjutan. Tentunya memanfaatkan potensi sumber daya laut yang melimpah dengan sebaik mungkin sebagai sumber perekonomian yang luar biasa. lTROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain