Sabtu, 15 Mei 2021

Marikultur, Mimpi Besar Masih Samar

Marikultur, Mimpi Besar Masih Samar

Foto: TROBOS Dini


Masih menanti secercah harapan untuk kembali bangkitkan usaha marikultur nusantara

 

Beberapa waktu lalu, TROBOS Aqua mewawancarai pembudidaya kerapu di daerah Bali, Dharma Manggala. Menurutnya pembudidaya marikultur (budidaya laut), masih kembang kempis. Laki-laki yang akrab disapa Dharma ini bertutur mengenai masa-masa cukup sulit, khususnya dalam pandemi ini. “Sampai saat ini (bisnis kerapu konsumsi), masih jalan sih. Cuma pasarnya ya lokalan saja sementara ini,” terang pembenih kerapu cantang di Desa Gerokgak, kecamatan Gerokgak, Kabupaten Beleleng-Bali ini. 
 
 
Menurutnya, serapan pasar lokal untuk ikan konsumsi berada di kisaran 2 sampai 3 ton per bulan. “Memang harganya anjlok,” imbuhnya seperti telah diangkat dalam TROBOS Aqua edisi 106. Sebelum pandemi, harga untuk kerapu cantang dan cantik berada di kisaran Rp 90 ribu sampai Rp 110 ribu per kg. Selama pandemi, harga turun hingga ke level Rp 50 ribu per kg. 
 
 
Begitu juga dialami oleh Karsono, pembudidaya pendederan kakap putih di Indramayu-Jawa Barat. Ia bertutur, tren budidaya laut saat ini bisa dikatakan turun jauh daripada tahun-tahun sebelumnya. Dan sesuai komoditas yang ia lakoni, ia sebutkan penurunan terjadi pada komoditas kakap putih. 
 
 
Bisnis Lesu
Gambaran lesunya bisnis marikultur di lapangan seperti diungkapkan Karsono dan Dharma juga terpampang jelas melalui data produksi perikanan. Dilansir oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dari 2010 - 2019, budidaya laut yang sempat menanjak produksinya di periode 2010 - 2013, mulai mengalami penurunan pada 2014.
 
 
Pada 2013 lalu, dalam data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, tercatat produksi kerapu nasional mencapai 18.864 ton. Namun, semenjak 2014, tren penurunan mulai terjadi. Dimana, pada 2014 ini, produksi kerapu tercatat 13.346 ton.
 
 
Padahal, kerapu termasuk satu andalan program KKP lima komoditas perikanan budidaya unggulan pada 2010 - 2014 lalu selain rumput laut, lele, patin, dan bandeng. Namun, data memberikan gambaran sebaliknya. Semenjak 2014 ke sini, belum ada tanda-tanda kenaikan signifikan dari produksi kerapu. 
 
 
Bahkan, dari data yang dikeluarkan satu data KKP, data produksi malah memberikan kesan sangat fluktuatif. Tentu saja, menggambarkan ketidakpastian kegiatan budidaya di lapangan. Data produksi kerapu, contohnya, dari 2015 lalu yang tercatat 16.795 ton, sempat turun di 2016, sebelum menanjak tinggi pada 2017 di angka 30.000 ton. 
 
 
Yang kemudian, sesuai satu data KKP, menunjukkan angka terjun bebas di 2018 dengan angka produksi 8.622 ton. Dan pada 2020 lalu, data ini menggambarkan angka produksi sementara kerapu nasional adalah 16.461 ton. 
 
 
Di lain sisi, kakap pun tidak terlalu memberikan data menggembirakan. Pada 2013, produksi kakap mencapai 6.735 ton. Dan pada 2014, tren penurunan budidaya laut pun menyandera kakap yang produksinya tercatat turun hingga 5.447 ton.
 
 
Dan fluktuatifnya data juga membayangi produktivitas budidaya laut komoditas kakap. Dimana, mirip seperti kerapu yang produksinya sempat menanjak pada 2015, di angka 6.558 ton dan terus menanjak pada 2017 di angka 8.177 ton. Namun, data sementara (*) menunjukkan, sejak 2018 terjadi fluktuasi data pada produksi kakap dimana pada 2020 lalu, produksi kakap sementara tercatat 7.250 ton. 
 
 
Penyebab Penurunan
Ibaratnya, terang Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung Ujang Komarudin, usaha marikultur sekarang ini sudah jatuh tertimpa tangga. Dia menyebut ragam faktor membuat tantangan semakin besar. 
 
 
Antara lain, terang Ujang; merebaknya  ekspor benih ikan laut ke negara-negara tetangga pada 2010-an (yang menguatkan industri budidaya di negara tetangga/pesaing), regulasi pembatasan kapal pengangkut ikan hidup, hingga hantaman pandemi Covid-19 sampai sekarang. Maka, hal ini pun cukup ‘menggusur' kejayaan budidaya ikan laut di Indonesia.  
 
 
Kalah pamor pun diamini Ujang Komarudin. Menurut Ujang, sebagian besar, atau bahkan hampir seluruhnya, komoditas (ikan) laut hasil budidaya merupakan luxury food (makanan mewah). Artinya, komoditas ini dikonsumsi kalangan tertentu pada suasana tertentu yang lebih mengarah kepada sebuah kesenangan; tidak sekadar sumber pangan.  
 
 
“Karenanya, pangsa pasarnya relatif terbatas, hanya golongan tertentu, biasanya golongan ekonomi menengah ke atas.  Bahkan, di beberapa tempat, ikan laut ini harus dipamerkan dalam kondisi hidup (live fish) untuk mendapatkan kualitas dan harga yang premium.  Karenanya, pangsa pasarnya tidak selebar komoditas perikanan budidaya lainnya,” terang Ujang.
 
 
Penyebab-penyebab ini disepakati oleh Karsono. “Satu penyebab penurunan ini, masa pandemi yang membuat pasar agak sulit. Karena kan ini ada beberapa jenis ikan yang diekspor, teman-teman pembesaran sulit jual hasil panen. imbasnya, kami -pendeder dan pembenih- sulit memasarkan produk kami,” ungkap Karsono. 
 
 
Penyebab lainnya, tambah Karsono, adanya beberapa kebijakan yang berpengaruh besar pada aktivitas budidaya lalu. “Ada beberapa kebijakan ya. Misalnya itu, kapal yang dari Hongkong (pembeli) dulunya langsung ke pembudidaya pembesaran, jadinya gak bisa langsung kayak dulu. Padahal permintaan sebelumnya luar biasa. Saya sendiri dari 2014 - 2016 itu lagi bagus-bagusnya. Bisa jual sebanyak 50 - 100 ribu ekor benih per bulan,” terangnya. 
 
 
Hal yang dimaksud Karsono merujuk pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Republik Indonesia nomor 15 Tahun 2016 tentang Kapal Pengangkut Ikan Hidup. Yang kemudian kembali ditanggapi KKP dengan mengeluarkan Permen KP nomor 32 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Permen KP nomor 15 Tahun 2016 tentang Kapal Pengangkut Ikan Hidup.
 
 
Makanya, imbuh Karsono, permintaan menurun karena faktor ini. Dan untuk mengatasinya, ia mengaku tetap berproduksi walaupun dengan jumlah tidak banyak. “Angka gak banyak karena takut gak keserap. Saat ini kita hasil produksi secukupnya saja sekitar 2 ribu ekor per bulan, itu juga lebih banya untuk permintaan sebagai ikan hias,” tambahnya.
 
 
Tidak berbeda jauh dari praktisi di lapangan, produsen pakan dan Keramba Jaring Apung (KJA) laut pun memberikan aura kehati-hatian terhadap budidaya laut saat ini. Fauzan Bahri, Sales Director Skretting Indonesia mengungkap, secara umum tingkat konsumsi pakan di kalangan pembudidaya cukup menurun. Terlebih lagi, sejak pandemi tahun lalu. 
 
 
Pasa merupakan tantangan terbesar penyebab tren penurunan. Fauzan menemukan di lapangan, pembudidaya cenderung belum merasa ada kejelasan di sisi market (pasar), sehingga ada kecenderungan mengerem pemakaian pakan. 
 
 
“Ekspor terganggu, apalagi selama pandemi. Sementara, pasar lokal sangat sulit. Untuk pasar lokal bisa dikatakan spesies budidaya itu sulit bersaing dengan tangkapan. Harga komoditas budidaya akan lebih mahal,” Fauzan memberi alasan.
 
 
Harus Pintar Bertahan
Otomatis, terang Fauzan, ‘pemain' budidaya laut pun cenderung bertahan untuk menyelamatkan diri. Pembudidaya skala kecil lebih terkena imbas. Karena menurutnya, tantangan itu di market. Kalau budidaya ikan laut siklusnya panjang, butuh investasi besar. Kalau pengusaha kecil itu berat, kecuali dibuat segmentasi, misalnya mulai dari pembenihan, nursery (pendederan) hingga pembesaran. 
 
 
“Nursery juga bisa dibagi lagi segmentasinya, dari ukuran 8 cm ke 20 gram, 20 - 50 gram, 50 - 100 gram atau 200 gram, baru 200 gram sampai pembesaran. Dan ini bisa dibuat seperti sebuah kawasan,” terang Fauzan.
 
 
Usaha segmentasi pun diterangkan Ujang Komarudin. Dia memaparkan, masyarakat (swasta) bisa terlibat melalui usaha-usaha segmentasi yang bisa dibentuk dalam produksi benih ikan laut ini. 
 
 
“Dan, peran pemerintah sangat strategis untuk saat-saat ini, khususnya dalam hal penyediaan benih bermutu.  Usaha pembenihan (yang lengkap mulai dari pemeliharaan induk) sangatlah mahal dan penuh risiko; sehingga biarlah pemerintah melalui balai-balai perikanan yang mengerjakannya,” tambah Ujang. 
Balai-balai yang menyediakan benih ikan laut antara lain di  Batam (kakap putih, bawal bintang), Lampung (kakap putih, bawal bintang, kobia, kerapu), dan Situbondo (kerapu, kakap putih). Adapula Gondol (bandeng, kerapu), Lombok (bawal bintang, kakap putih), dan Ambon (bubara/giant trevally).
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-107/15 April – 14 Mei2021
 

 

 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-107/15 April – 14 Mei2021
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain