Kamis, 15 April 2021

Megami, Pakan Ikan Laut Andalan Saat Pandemi

Megami, Pakan Ikan Laut Andalan Saat Pandemi

Foto: 


Stok pakan Megami yang selalu tersedia dengan komposisi nutrisi lengkap dan berprotein tinggi sudah dipercaya bertahun- tahun oleh para pembudidaya ikan laut
 
 
Karsono adalah salah satu pelaku usaha budidaya benih ikan kakap putih di Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara, Subang Jawa Barat. Ia sudah cukup lama menggeluti usaha pendederan ikan kakap putih sejak 2014.
 
 
Model usaha pendederan yang ia jalani dengan membeli benih kakap putih dari sentra pembenihan Situbondo atau Bali. Benih yang ia beli ukuran 3 cm sampai 5 cm, kemudian benih didederkan atau dibesarkan selama 2 bulanan hingga ukuran 10 cm sampai 15 cm.
 
 
Pakan Megami
Selama masa pendederan, benih kakap putih tersebut dikenalkan juga dengan pakan pelet. Hal ini untuk mengimbangi pemberian pakan alami pada saat pembenihan. “Sehingga saat pendederan, kita latih agar benih-benih ini bisa makan pakan buatan atau pelet,” ujar ayah dari 2 anak ini. 
 
 
Ia menjelaskan, saat benih datang diberi pakan hidup, biasanya berupa cacing sutera selama sekitar 3 minggu. Setelah terlihat benih nyaman dengan lingkungan baru, perlahan dikenalkan pakan pelet dengan cara dipuasakan terlebih dahulu. Proses peralihan dari pakan alami ke pakan pelet biasanya sekitar 3 - 5 hari.
Selanjutnya, pemberian pakan pelet dilakukan secara ad libitum atau diberikan pakan
hingga kenyang, untuk mencegah kanibalisme. Sejak awal memulai usaha pendederan ikan kakap putih, ia selalu menggunakan pakan Megami dari Matahari Sakti (MS).
 
 
“Pakan Megami proteinnya tinggi di atas 35 % dan dibuat khusus untuk benih ikan laut, sehingga disukai ikan dan pertumbuhan ikan bisa optimal,” kata Karsono. Lebih lanjut ia memaparkan, pelet yang digunakan untuk benih ukuran 3 cm adalah nomor 1, untuk ukuran benih 3 - 5 cm menggunakan nomor 2, dan ukuran 7 - 10 cm ke atas itu menggunakan nomor 3 tergantung ukuran bukaan mulut ikannya. 
 
 
Adapun nomor yang dimaksud adalah kode dari pabrikan pakan. “Kami menggunakan Megami dari MS karena kami lihat mereka konsisten kualitasnya untuk pakan ikan laut. Kami juga sempat menggunakan pelet yang untuk kakap putih dan kerapu ternyata selama ini hasilnya bagus. 
 
 
Yang paling kami rasakan adalah produksi Megami selalu stabil dan tersedia terus, serta komposisi nutrisi dari pakan ini tercukupi,” jelas Karsono.
 
 
Pegeseran Pasar
Diakui Karsono, belakangan ini tren budidaya kakap putih sudah menurun jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya, jelas Karsono, adalah masa pandemi yang membuat pembudidaya sulit memasarkan hasil panennya.
 
 
Serta kebijakan terkait kapal pengangkut ikan yang tidak bisa lagi mengambil langsung hasil panen ikan dari pembudidaya. “Teman-teman pembesaran sulit menjual hasil panen, sehingga kami pendeder dan pembenih juga jadi sulit menjual menproduk kami,” curhatnya.
 
 
Padahal, menilik permintaan dari tahun-tahun sebelumnya, omzet usaha benih kakap putih Karsono bisa mencapai 50 ribu ekor per bulan dengan harga Rp 1.000 per ekor ukuran 10 cm sampai 15 cm. Kini, permintaan benih kakap putih tinggal sekitar 5 ribu ekor per bulan.
 
 
Mensiasati sulitnya mencari pasar hasil panennya, kini Karsono tetap produksi benih kakap putih. Tetapi, angkanya tidak terlalu tinggi sekitar 3.000 - 5.000 ekor per bulan untuk melayani permintaan benih ikan kakap putih sebagai ikan hias. “Sekarang kami upayakan bagaimana ikan kakap putih bisa hidup di air tawar dan ternyata bisa. Kami aplikasikan 100% air tawar dengan salinitas 2 per mill,” terangnya.
 
 
Karsono menyampaikan harapannya agar dapat dikembalikan kejayaan budidaya ikan laut karena potensi kelautan negara yang sangat besar. “Dari segi produksi tidak terlalu masalah karena banyak yang mendukung teknisnya, seperti dari balai. Kami lebih berharap dibukakan akses pasar agar produk lebih terserap. Jika pasar terbuka, pembudidaya sudah siap,” pungkasnya. lTROBOS Aqua/Adv 
 
 
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain