Kamis, 15 April 2021

Romi Novriadi: Kendalikan Penyakit dengan Pakan Fungsional

Romi Novriadi: Kendalikan Penyakit dengan Pakan Fungsional

Foto: dok. trobos


Saat ini, satu faktor penghambat utama dari keberlanjutan produksi udang putih Litopenaeus vannamei adalah penyakit. Beberapa penyakit yang ada selama masa produksi dapat disebabkan oleh beragam faktor.
 
 
Yakni; virus, seperti kelompok DNA virus: White Spot syndrome virus (WSSV) dan Infectious hypodermal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV), kelompok RNA virus: Taura Syndrome virus dan Infectious myonecrosis virus (IMNV). Penyebab lainnya, bakteri, utamanya oleh Vibrio spp; ada pula jamur, seperti keberadaan Black-gill disease yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp. dan parasit, seperti penyakit gregarine yang disebabkan oleh cacing Nematopsis spp. 
Dalam perkembangannya, penyakit juga dapat disebabkan oleh strain yang bersifat lebih toksik seperti Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). Penyebabnya, strain toksik Vibrio parahaemolyticus yang telah memperoleh “selfish plasmid” dan dapat memproduksi toksin PirAvp/PirBvp. Akibatnya, mampu menyebabkan kematian massal pada udang yang dibudidayakan hingga mencapai 100 % setelah 30 – 35 hari di kolam produksi. 
 
 
Banyaknya jenis penyakit yang menginfeksi udang umumnya disebabkan oleh ketiadaan sistem imun spesifik pada krustasea dan hanya bergantung kepada sistem imun non-spesifik. Sehingga, udang tidak mampu menghasilkan antibodi, serta sifat non-selective filter feeder yang dimiliki krustasea dan menjadikan ini sebagai entry point bagi organisme patogen untuk mulai menginfeksi organ dalam krustasea.
 
 
Respon selular dan humoral udang untuk mengenali dan menghancurkan material asing yang masuk ke dalam tubuh terhitung cukup cepat dan efisien. Walaupun, hanya bergantung kepada sistem imun non-spesifik, 
Bagi udang, respon pro-phenoloxidase (proPO) umumnya dapat diaktivasi oleh ß-glukan. Dimana, dinding sel bakteri dan lipopolisakarida menjadi salah satu respon yang sangat penting karena bertanggung jawab terhadap proses pengenalan benda asing dan meningkatkan sistem pertahanan selama masa infeksi. 
Riset yang penulis lakukan adalah dengan perendaman krustasea di suspensi ß-glukan. Hasilnya menunjukkan kesehatan udang untuk melawan tahapan infeksi oleh patogen dan stres lingkungan dapat ditingkatkan, namun hanya dalam periode yang cukup singkat. 
 
 
Hal ini menjadikan hipotesa bahwa peningkatan sistem pertahanan udang sebenarnya dapat dilakukan secara optimal melalui formulasi pakan yang tepat. Yang mana akan mengaktifkan respon selular dan humoral udang dan dipadukan dengan manajemen pakan udang yang tepat untuk mengantisipasi penurunan sistem imun selama proses aktivasi.
 
 
Fungsi Pakan Fungsional
Pakan fungsional dapat diartikan sebagai penambahan bahak aktif dalam formulasi pakan yang ditujukan untuk keperluan tertentu, baik untuk meningkatkan status kesehatan atau laju pertumbuhan udang. Bahan baku yang dapat digunakan untuk meningkatkan status kesehatan udang adalah high protein distiller’s dried grain with solubles (HPDDGS) yang diperoleh dari hasil olahan jagung. Bahan ini memiliki kandungan protein sekitar 50% dan yeast sekitar 25%. 
 
 
Pengamatan efficacy dari HPDDGS ini dilakukan dengan memberikan pakan pada udang. Dimana pakan dengan kandungan HPDDGS berbeda yaitu 6, 9, dan 12 % dibandingkan dengan positif kontrol (pakan tanpa HPDDGS). Setelah diberi pakan selama 21 hari, udang Litopenaeus vannamei diuji tantang dengan Vibrio parahaemolyticus strain AHPND selama 10 hari. Dengan positif kontrol dimaksudkan udang yang diuji tantang dengan VPAHPND tanpa HPDDGS dan negatif kontrol dimaksudkan untuk udang tanpa dilakukan uji tantang dengan VPAHPND. 
 
 
Hasil analisa menunjukkan bahwa HPDDGS memiliki dampak positif untuk meningkatkan tingkat kelulushidupan udang di kisaran 40.87 ± 23.53 - 58.93 ± 18.41% dibandingkan kontrol yang memiliki tingkat kelulushidupan 28.30 ± 5.43% (sumber Loc Tran, 2020). Perbaikan formulasi pakan dengan menggunakan konsentrasi HPDDGS kemudian disesuaikan dengan harga pakan di Indonesia saat ini. Kemudian, dilakukan dengan uji performa di tambak udang yang memiliki intensitas wabah AHPND yang sangat tinggi. Hasil sementara menunjukkan bahwa udang yang diberi pakan HPDDGS masih memiliki tingkat kelulushidupan yang cukup baik.
 
 
Penggunaan pakan fungsional dapat juga dipadukan dengan kemampuan pakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan kesehatan udang secara bersamaan. Riset yang penulis lakukan dengan menggunakan bahan aktif yeast cell wall (YCW) dan bahan aktif saponin (NFA). Hasil menunjukkan, pakan memiliki kemampuan fungsional untuk meningkatkan status kesehatan dan laju pertumbuhan udang vananmei. Manajemen pemberian pakan dilakukan sebanyak 7 kali dengan interval pemberian pakan selama 3 jam.
 
 
Dari data disajikan, laju pertumbuhan udang dan status kesehatan udang dapat ditingkatkan. Yakni melalui aktivasi sistem imun non-spesifik seperti hemosit dan aktivitas lysozyme melalui penggunaan jenis dan jumlah bahan baku dalam formulasi pakan yang diintegrasikan dengan manajemen pakan yang tepat (interval 3 jam). 
 
 
Berdasarkan data yang disajikan penulis, pengendalian penyakit pada udang selama masa produksi dapat diarahkan kepada tindakan pengendalian. Tindakan yang dimaksud, bersifat spesifik pada sistem imun non-spesifik dan tanpa penggunaan antibiotika atau bahan kimia sintetis lainnya. Hasil kajian ini diharapkan dapat menambah khazanah dari teknologi aplikatif yang dapat diterapkan untuk optimalisasi sistem produksi udang vananmei di Indonesia.
 
 
 
 
*Dosen Pasca Sarjana Politeknik Ahli Usaha Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain