Kamis, 15 April 2021

Plus Minus Pemijahan Lele Alami atau Buatan

Plus Minus Pemijahan Lele Alami atau Buatan

Foto: dok. trobos
Penyuntikan Hormon

Banyak perbincangan di kalangan pembudidaya metode mana yang terbaik digunakan dalam memijahkan lele, alami atau buatan, keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan
 
Teknologi perikanan budidaya semakin berkembang begitu pula metode budidayanya. Sepeti halnya dalam budidaya lele, dahulu kala pembenihan lele dilakukan secara alami, hanya dengan mencampurkan induk jantan dan induk betina dalam satu kolam. Namun saat ini, pemijahan lele bisa dilakukan dengan rangsangan hormon. Sehingga dipastikan setelah dilakukan injeksi hormon tersebut  ke induk lele akan segera memijah dalam beberapa jam kedepan.
 
 
Walaupun demikian, masing-masing metode pemijahan memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Untuk mendapatkan informasi lebih detil mengenai hal tersebut TROBOS Aqua mewawancarai Sahban I Setioko selaku pembenih lele di Pasir Gaok, Bogor – Jawa Barat (Jabar). “Masing-masing metode memiliki kelemahan dan keunggulannya. Namun, penerapannya kembali lagi kepada kesanggupan dan kenyamanan si pembudidaya dalam menjalankan usahannya,” ungkapnya. 
 
 
Ragam Pemijahan
Pemijahan lele saat ini, Sahban terangkan, secara umum dibagi menjadi tiga. Pertama pemijahan alami yang dimana diawali dengan seleksi induk jantan dan betina, setelah diperoleh maka kedua induk tersebut dijadikan satu kolam dengan media telurnya adalah kakaban (ijuk yang dijepit bambu). “Biasanya setelah dicampurkan jantan dan betina, akan memijah pada dini hari atau subuh. Jika kita memasukan induk di sore hari, besok paginya kedua induk tersebut sudah memijah dan terlihat telurnya di kakaban,” ucap pria yang menamai usahanya Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Pasir Gaok.
 
 
Kedua, ada istilah pemijahan semi buatan. Dimana induk jantan dan betina yang sudah diseleksi terlebih dahulu disuntik menggunakan hormon perangsang dan pematang gonad. Tujuannya agar induk yang telah disuntik sudah pasti mengeluarkan telurnya semua, berbeda dengan alami yang terkadang tidak melakukan pembuahan walaupun sudah disatukan keduanya dalam satu wadah. 
 
 
Mengenai hal tersebut dibenarkan oleh Mudji selaku pembenih lele asal Cimuning, Kota Bekasi. Ia katakan, pemijahan lele dengan alami ada kalanya tidak terjadi pembuahan karena beberapa faktor. Seperti kurang imbangnya ukuran tubuh jantan dan betina, kemudian salah satu induk yang lebih agresif yang menyebabkan induk lainnya akan lari-larian saja. Maka dari itu, untuk melakukan pemijahan alami perlu memperhatikan hal-hal tersebut.
 
 
Ketiga, Sahban lanjutkan, pemijahan buatan dengan disuntik jantan dan betinanya lalu kemudian induk betina akan diurut perutnya hingga keluar telur. Sedangkan untuk induk jantan dibedah dan diambil kantong spermanya. Tujuannya agar pembuahan dilakukan secara eksternal dengan bantuan manusia, dan juga memaksimalkan pembuahan telur. Sehingga jumlah telur yang dibuahi lebih banyak dengan harapan jumlah larva yang dihasilkan cukup banyak daripada pemijahan alami. 
 
 
“Namun kembali lagi, untuk melakukan alami, semi, ataupun buatan kembali kepada kenyamanan si pelaku usaha, dan juga mempertimbangkan sarana dan prasarana yang menunjang ketika melakukan ragam pemijahan tersebut,” imbaunya. Sahban lanjutkan, karena dalam ketiga metode pemijahan tersebut membutuhkan sarana yang berbeda. Untuk alami dan semi mungkin masih sama, hanya dibutuhkan tambahan hormon dan jarum suntuk serta larutan fisiologis berupa NaCl, ataupun Aquades. Sedangkan untuk buatan perlu menyiapkan alat dan bahan, serta sarana yang lebih mumpuni agar hasilnya bener-benar maksimal.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-107/15 April – 14 Mei2021
 

 
Aqua Update + Andalan Air Tawar + Cetak Update +

Artikel Lain