Kamis, 15 April 2021

Kenali Vibrio, Kendalikan AHPND

Kenali Vibrio, Kendalikan AHPND

Foto: Ute


Penyakit AHPND sudah merebak di berbagai daerah, selain pengetatan SOP produksi, peningkatan imunitas udang juga bisa jadi solusi
 
 
Keberadaan kasus Early Mortality Syndomre (EMS) atau dikenal juga dengan AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) tak dapat ditangkal lagi. Penyebarannya sudah hampir merata di berbagai daerah di Indonesia. Banyak petambak yang sudah mengonfirmasi keberadaannya, beberapa tempat bahkan terjadi sangat parah. Daerah-daerah pertambakan yang relatif baru seperti di Pesisir Selatan Jawa, Sulawesi, bahkan Batam tak pelak ikut terjangkiti.  
Petambak muda sekaligus Chief Operating Officer PT Aditya Inovasi Makmur (FisTx), Rico Wibisono mengonfirmasi bahwa AHPND dan WFD (White Feces Disease) secara rata sudah menyerang pertambakan di daerah Pesisir Selatan Yogyakarta dan sekitarnya. “Kena semua, Pacitan yang paling parah,” kata pria yang berdomisili di Jogja ini. 
 
 
Sementara di daerah Sulawesi, penyebaran terparah terjadi di daerah Kabupaten Bulukamba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebelumnya, penyebaran di daerah tersebut terjadi di daerah Tanamelo, Kecamatan Bontobahari atau di sekitar Pantai Bira. Penyebarannya kini sudah sampai ke arah Kabupaten Bantaeng. 
Keberadaan AHPND di daerah Sulawesi Selatan ini dikonfirmasi oleh Supervisor BWI-C PT. Suri Tani Pemuka (STP), Ridlo Al Hakim. Menurutnya, AHPND di Sulsel tak hanya menghantam tambak-tambak intensif, tapi juga tambak semi intensif atau tradisional plus seperti yang banyak terjadi di Kabupaten Barru dan Pinrang (Sulsel), serta Kabupaten Kolaka dan Bombana (Sulawesi Utara). Meski ditemui juga penyakit lain seperti WFD dan Myo, tapi sejauh ini serangan AHPND lah yang paling merepotkan petambak.
 
 
Menurut pria yang biasa dipanggil Hakim ini, kasus AHPND di wilayah Bulukamba tidak hanya ditemui di area pertambakan, tapi juga sudah mengontaminasi perairan laut. “Saat diambil sample air (air laut dari pompaan pertama, air tandon pengendapan, dan air dipetakan) dibawa ke laboratorium Balai Riset Takalar, hasilnya semua positif AHPND. Demikian juga dengan biota yang dicek seperti udang dan kerang. Sehingga disimpulkan bahwa air laut sudah terkontaminasi AHPND,” ungkapnya. 
 
 
Gejala dan Pemicu
Sudah sejak lama diketahui bahwa penyebab AHPND tidak lain karena infeksi bakteri Vibrio parahaemolyticus. Namun, kata Rico, AHNPD juga ternyata dipicu oleh meledaknya Blue Green Algae (BGA) dalam tambak, terutama dari jenis Microcystis dan Anabaena. Sebab saat fitoplankton tersebut mati, ia bisa mengeluarkan toksin yang dapat meracuni udang. 
 
 
Selain kematian massal pada masa awal budidaya, AHNPD pada udang secara klinis dapat dilihat pada bagian hepato (kelenjar pencernaan) udang yang mengecil. Hal itu disebabkan Vibrio penyebab AHPND menyerang pada bagian tersebut. 
 
 
Menurut pengamatan Rico, penyakit AHPND memiliki korelasi dengan WFD. Keduanya sama-sama disebabkan oleh bakteri Vibrio. Terutama kelompok Vibrio hijau yang terdiri dari V. Parahaemolyticus, V. Harveyii, dan V. Cambellii. Ia menambahkan, Vibrio hijau memiliki sifat proteolitik yang bisa memecah protein. “Dia makan protein langsung, jadi usus tuh dimakanin terus sama dia sampai ke bagian hepato. Makanya hepato udang nyusut kan,” katanya kepada TROBOS Aqua baru-baru ini.
 
 
Jika imun udang sedang kuat, maka dampak infeksi Vibrio akan memunculkan penyakit WFD atau berak putih saja. Sementara jika imun udang lemah, maka infeksi bakteri tersebut akan menyebabkan AHPND atau EMS. 
 
 
Hal ini sejalan dengan berbagai informasi yang menyatakan bahwa sebelum terjadi EMS di beberapa negara produsen udang seperti Thailand dan Vietnam, mereka terlebih dulu diserang oleh penyakit WFD. Selain itu, BGA yang Rico sebut ikut memicu AHNPD juga dikaitkan sebagai pemicu penyakit tersebut.
Kemunculan Vibrio dan BGA pada masa-masa awal budidaya ini juga dipicu oleh fluktuasi kualitas air. Faktor yang paling memengaruhi adalah fluktuasi rasio N/P yang mendukung pertumbuhan Vibrio. Selain itu, kualitas air ikut mendukung jika alkalinitas anjlok di bawah 120 ppm atau pH ada dalam keadaan basa di atas 8,3. 
 
 
Kehadiran Vibrio dalam media budidaya udang, kata Rico, sulit dihindari meski petambak sudah melakukan desinfeksi saat persiapan lahan. Desinfektan yang digunakan petambak umumnya tidak membunuh semua Vibrio, tapi hanya menekan pertumbuhannya saja. Sehingga tak ayal Vibrio akan tumbuh atau hidup kembali setelah beberapa waktu. 
 
 
Sementara menurut Ridlo Al Hakim, kematian udang oleh AHPND tidak menunjukkan gejala yang signifikan sebelum kematian massal terjadi. Senada dengan Rico, ia menilai serangan AHPND didahului oleh adanya perubahan dominansi phytoplankton
“Tiba-tiba waktu sifon sudah ada bangkai udang di sekitar central drain pada pola budidaya intensif. Sedangkan pada pola budidaya tradisional plus, udang tiba-tiba mati memerah di dasar tambak,” ungkapnya. 
 
 
 
Menurut Hakim, beberapa petambak ada yang nekat melanjutkan produksi meski sudah terkena AHPND. Mereka berharap masih bisa memanen udang paling tidak sekitar 30 persennya saja. Namun naas, SR (Survival Rate) atau tingkat kelangsungan hidup yang didapat jeblok hingga hanya 18 – 5 persen saja. “Hampir bisa dipastikan FCR jebol, karena adanya kematian ini,” ujar Hakim.
 
 
Mengelola Vibrio
Peran bakteri Vibrio dalam merebaknya wabah AHPND memang tak diragukan lagi. Sehingga menurut praktisi perudangan nasional, Agus Saiful Huda, salah satu upaya untuk mencegahnya yaitu dengan mengendalikan bakteri Vibrio di dalam tambak. Hal tersebut ia ungkapkan saat memberikan presentasi dalam acara Elanco Aquaculture Master Class 2021 yang digelar Elanco Animal Health secara virtual melalui aplikasi pertemuan virtual Zoom, beberapa waktu lalu. 
 
 
Berdasarkan pengamatan Agus, menyebarnya AHPND di dalam tambak selain disebabkan oleh adanya bakteri Vibrio itu sendiri, juga dipicu oleh tingkat keragamannya yang rendah. Meskipun volume total Vibrio (total Vibrio counts/TVC) di dalam tambak rendah, tapi jika keragamannya juga rendah, maka potensi udang terserang AHPND lebih besar. Sebaliknya meskipun angka TVC di tambak tinggi, tapi jika keragamannya tinggi juga, maka bisa saja udang terbebas dari AHPND.
 
 
Sehingga cara untuk menghindari AHPND dapat dilakukan dengan mengelola jumlah keragaman dan TVC di dalam tambak. Pengelolaan ini, kata Agus, dapat dilakukan dengan memahami tiga karakteristik pada Vibrio. Antara lain siklus hidupnya, proses penularannya, dan cara infeksinya.
“Cara menyikapinya adalah, pertama dengan memahami life cycle (siklus hidup) Vibrio. Misalnya Vibrio hidup dan berkembang pada kondisi sisa-sisa organik tinggi, maka diusahakan agar sisa-sisa organik rendah,” ujarnya kepada peserta seminar.
 
 
Kedua, yang perlu dipahami dari Vibrio adalah proses transmisi atau penularannya ke udang, yakni berupa transmisi vertikal dan horizontal. Untuk transmisi vertikal, kata Agus, perlu dilakukan pengecekan pada broodstock (pusat induk), hatchery (pembenihan), dan benur. Sementara untuk transmisi horizontal dilakukan melalui pengecekan kondisi perairan tambak dan sekitarnya.
 
 
Untuk pengecekan transmisi vertikal, petambak mau tidak mau harus bersinergi dengan hatchery. Komunikasi yang terbuka antara hatchery dengan petambak perlu dikedepankan. Sehingga benur yang akan digunakan petambak bisa dipastikan benar-benar bebas Vibrio penyebab AHPND dan WFD.
Tak hanya itu, sehari sebelum penebaran benur yang dikirim dari hatchery, petambak harus screening benur sebagai salah satu langkah untuk mengendalikan penyakit AHPND, di samping desinfeksi sumber air dan penerapan biosekuriti yang ketat.
 
 
Sementara untuk pengecekan transmisi horizontal, petambak perlu memeriksa kondisi perairan di sekitar tambak. Sisa-sisa bahan organik yang berbentuk nitrogen dan karbon harus dikendalikan karena Vibrio berkembang baik pada kondisi sisa-sisa organik tinggi.
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-107/15 April – 14 Mei2021
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain