Kamis, 25 Maret 2021

Men-KP Ingin Lombok Jadi Sentra Budidaya Lobster, Ketua Abilindo: Lampung Lebih Cocok

Men-KP Ingin Lombok Jadi Sentra Budidaya Lobster, Ketua Abilindo: Lampung Lebih Cocok

Foto: dok. KKP
Menteri Trenggono saat mengunjungan KJA lobster di Lombok (24/3)

Lombok (TROBOSAQUA.COM). Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menargetkan Lombok sebagai pusat budidaya lobster yang bisa jadi rujukan negara lain. Hal tersebut ia sampaikan saat meninjau keramba jaring apung milik masyarakat yang ada di sekitar Pelabuhan Perikanan Teluk Awang, Lombok Tengah, Rabu (24/3).
 
 
Target besar yang disampaikan Trenggono itu merupakan penegasan komitmennya dalam mendukung budidaya lobster dalam negeri. "Saya ingin jadikan Lombok pusat budidaya lobster. Bahkan sampai kelas dunia. Semangatnya harus begitu," ujar Trenggono dalam siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) (24/3).
 
 
Menurutnya, untuk mendukung produktivitas budidaya lobster dalam negeri, proses birokrasi perizinan budidaya akan dipermudah. KKP juga akan memberi bantuan sarana dan prasana, pendampingan bagi para pembudidaya, hingga menyiapkan pasar. "Benur kekayaan bangsa ini. Kalau ada yang mau ekspor benur untuk memperkaya orang luar negeri, saya lawan. Tapi kalau untuk budidaya di sini, saya dukung sampai mati," tegasnya.
 
 
Namun secara terpisah, rencana Trenggono menjadikan Lombok sebagai sentra budidaya lobster ditanggapi oleh pelaku usaha marikultur nasional, Wajan Sudja. Menurut Ketua Abilindo (Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia) ini, penetapan Lombok sebagai sentra budidaya lobster dinilai kurang tepat karena secara ekosistem tidak mendukung. Terutama soal ketersedian pakan alami bagi lobster.  
 
 
Menurutnya, Lombok tidak memiliki dukungan budidaya dan penangkapan ikan rucah dan kerang-kerangan, yang menjadi pakan utama lobster, dalam jumlah besar. Dalam pengamatannya, kebutuhan ikan rucah untuk olahan pindang sebagai konsumsi warga setempat saja masih kurang dan harus didatangkan dari Sumbawa. 
 
 
“Selain itu, Lombok juga belum punya dukungan penerbangan kargo udara langsung ke kota-kota tujuan ekspor. Jadi ongkirnya (ongkos kirimnya) mahal,” ungkap Wajan. 
 
 
Oleh Sebab itu, Wajan lebih menyarankan Lampung sebagai sentra produksi lobster. Menurutnya, ekosistem pendukung usaha budidaya lobster seperti budidaya kerang-kerangan dan ikan rucah mudah untuk dikembangkan. Selain karena lahannya luas, kondisi alamnya juga mendukung dan tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi warga. Sistem logistik ekspornya juga dinilia Wajan jauh lebih siap jika dibandingkan bandara di Lombok.
 
 
“Karena Lampung relatif dekat dengan bandara CGK (Soekarno-Hatta, Cengkareng) yang jauh lebih siap dan jauh lebih ramai dibanding bandara Lombok yang kalah ramai. Bandara CGK didukung belasan maskapai dengan penerbangan langsung ke kota-kota tujuan ekspor. Kapasitas ferry penyeberangan ke pulau Jawanya juga jauh lebih siap dibanding di Lombok,” ujar Wajan dalam pesan Whatsapp kepada TROBOS Aqua. Ed/asep
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain