Senin, 15 Maret 2021

BKIPM Siaga Dukung Keberhasilan Perikanan Indonesia

BKIPM Siaga Dukung Keberhasilan Perikanan Indonesia

Foto: 


BUSKIPM terus berupaya meningkatkan kinerja dan layanan laboratorium dengan selalu meng-update metoda uji sesuai perkembangan kasus penyakit ikan,mutu dan keamanan hasil perikanan
 
Indonesia termasuk lima negara terbesar pemasok kebutuhan komoditi perikanan dunia, sehingga peran laboratorium pengujian mutu dan keamanan hasil per­ ikanan sangat penting dalam memberikan hasil uji yang digunakan sebagai dasar pener­ bitan sertifikat kesehatan ikan (Health Cer­ tificate) di unit pelaksana teknis di seluruh Indonesia. Tentunya bersama stakeholder (para pemangku kepentingan) perikanan saling bersinergi untuk mendukung pem­
bangunan di sektor perikanan.
 
 
Kepala Balai Uji Standar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BUSKIPM), Woro Nur Endang Sariati mengungkapkan, sebagai laboratorium acuan yang memiliki tugas dan fungsi antara lain; pelaksanaan pen­ gujian dan pengembangan teknik metode pengujian Hama dan Penyakit Ikan Karan­ tina (HPIK), mutu dan keamanan hasil perikanan, melaksanakan validasi metode uji, menyelenggarakan uji profiensi, serta BUSKIPM memiliki tugas menyusun Ran­ cangan Standar Nasional Indonesia (RSNI).
 
 
“BUSKIPM menjadi laboratorium acuan yang tidak hanya men-support laboratorium lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saja, tapi juga labora­ torium perguruan tinggi, daerah, dan unit usaha perikanan. Dengan tugas–tugas yang diberikan, BUSKIPM akan terus berupaya memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat perikanan di Indonesia,” jelas Woro.
 
 
Program 2021
Lebih lanjut, Woro menjelaskan sejak Tahun 2020 BUSKIPM membantu meracikan beberapa reagen pengujian, yang disebut kit diagnostik.
Saat ini, BUSKIPM sudah membuat lima parameter penyakit udang diantaranya; White Spot Syndrom Virus (WSSV), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), Infectious Hypodermal dan Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) dan dua penyakit ikan, Koi Herpes Virus (KHV), dan Tilapia Lake Virus (TILV).
 
 
Kit diagnostik ini sudah diuji coba di beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT); Ja­ karta I, Lampung, Surabaya I dan Makassar. Inovasi pengujian ini memiliki keunggulan seperti proses cepat dan mudah, dapat digunakan dimana saja, sehingga sangat membantu proses pengujian.
 
 
“Sejauh ini direspon baik, dan harga pun lebih murah, sehingga biaya pembelian bahan secara keseluruhan di UPT dapat menjadi lebih hemat. Kedepan BUSKIPM akan perluas lagi untuk dapat menyediakan kit diagnostik ini ke seluruh UPT yang ada di Indonesia,” paparnya.
 
 
Selain itu, dalam rangka program unggulan Menteri KKP, dengan diadakannya kampung budidaya atau cluster budidaya, Tahun 2021 ini BUSKIPM akan mengha­ dirkan semacam rapid test untuk pengujian penyakit ikan. Guna mendeteksi penyakit serta dapat menekan penyebaran penyakit yang ada di wilayah tersebut.
 
 
“Untuk meningkatkan performa BUSKIPM saya mengawali dengan kegiatan morning briefing, setiap pagi sehinga ko­ munikasi antar pegawai lebih terbuka dan semua permasalahan bisa tersampaikan. Budaya ini mampu meningkatkan kekom­ pakan, menyamakan presepsi, dan langkah serta pegawai tidak alergi dengan perubahan dan tentunya lebih tanggap sehingga kinerja organisasi semakin meningkat”, terang Woro Saat ini BUSKIPM sedang gencar melakukan livestreaming di akun Youtube BUSKIPM yaitu kegiatan knowlegde sharing dan Question and Answer (Q n A) dengan mengangkat tema mengenai teknik dan metode pengujian.
 
 
Dan juga mengadakan asistensi online secara live via aplikasi whatsApp/Video Call, kepada laboratorium lain dalam penerapan sebuah metoda
pen­gujian. “Selain itu kami juga ada program Sapa Smart setiap hari menyapa sahabat bahari seluruh Indonesia melalui akun media sosial BUSKIPM, alhamdulillah media sosial kita mendapat respon yang sangat baik,” ungkap Woro.
 
 
Pelayanan Optimal
Peningkatan pelayanan selalu menjadi fokus utama setiap instansi, khususnya BUSKIPM, terbukti tiga standar pelayanan BUSKIPM yaitu pengujian HPI/HPIK, mutu dan keamanan hasil perikanan, penyediaan bahan acuan dan penyelenggaraan uji profisiensi tersertifikasi ISO 9001:2015. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan BUSKIPM telah berstandar internasional. 
 
 
Pelayanan pun sudah menerapkan sistem online di laman https://buskipm.id/layanan dengan memudahkan akses pengguna layanan sehingga dapat dilakukan dimana saja. “Untuk layanan pengujian tergantung dari jenis pengujian , berbeda­beda waktu penyelesaian seperti contoh parasit 2 hari, bakteri 5 hari, sekuensing 9 hari, biologi molekuler 3 hari, dan lainnya,” jabar Woro.
 
 
Dikatakan Woro BUSKIPM juga menerapkan kompensasi layanan, jika pelayanan tidak sesuai janji layanan maka, BUSKIPM akan memberikan kompensasi berupa tas lipat, topi ataupun kaos. “Tiap bulan kami pun melakukan rekapitulasi data pelayanan, untuk pelayanan yang semakin baik,” tegasnya.
 
 
BUSKIPM selalu memberikan layanan yang optimal, terus berupaya meningkatkan kinerja laboratorium dengan selalu meng­update metoda uji sesuai perkembangan kasus penyakit dan mutu keamanan hasil perikanan.
 
 
Capaian BUSKIPM
Tidak sampai disitu, semua upaya yang telah dilakukan BUSKIPM mengantongi hasil yang sangat baik. Laboratorium Penguji BUSKIPM telah menerapkan SNI ISO/IEC 17025:2017 dan terakreditasi oleh KAN nomor LP-392-IDN dengan 69 parameter pengujian di bidang hama penyakit ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan.
 
 
BUSKIPM sebagai Penyelenggara Uji Profisiensi (PUP) telah menerapkan SNI ISO/ IEC 17043:2010 dan terakreditasi oleh KAN nomor PUP-007-IDN dengan 17 parameter ruang lingkup produk isolat bakteri kering beku, isolat jamur kering beku, organ target (beku kering, fiksatif dan ekstrak DNA), preparat parasit, preparat histopatologi, dan tepung ikan kering beku.
 
 
Dikatakan Woro, di tingkat nasional BUSKIPM menjadi laboratorium refrensi pengujian pangan Indonesia yang ditetap­ kan oleh Jejaring Laboratorium Pengujian Pangan Indonesia (JLPPI) dengan ruang ling­ kup Escherichia coli, Salmonella spp., Vibrio parahaemolyticus, Anisakis sp., Hepatitis A (HAV) dan ALT (Angka Lempeng Total).
 
 
Woro melanjutkan BUSKIPM saat ini menuju laboratorium refrensi OIE (World Organisation for Animal Health) dengan ruang lingkup WSSV dan IHHNV. BUSKIPM terus melakukan peningkatan kapasitasnya sebagai laboratorium internasional me­ lalui kegiatan Twinning Program dengan Laboratorium Yellow Sea Fisheries Research Institute China.
 
 
Pada Tahun 2020 pelayanan BUSKIPM mendapatkan penghargaan peringkat 1 dengan kategori Penilaian Kinerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkup Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM). “Alhamdulillah tiga tahun saya di sini, sudah mendapatkan empat penghargaan, meskipun masih di lingkup BKIPM. Hal ini, sebagai bukti kepada pimpinan, bahwa Tim BUSKIPM sudah memiliki persepsi dan semangat yang sama sehingga bisa lari bersama sama,” ungkap Woro.
 
 
Dengan inovasi–inovasi yang digu­lirkan BUSKIPM untuk pelayanan terbaik, tentunya BUSKIPM memiliki harapan, salah satunya adalah kehadiran BUSKIPM lebih dirasakan lagi oleh BKIPM, KKP ataupun masyarakat–masyarakat usaha perikanan. Sehingga saling bersinergi untuk mendu­kung keberhasilan perikanan Indonesia. TROBOS Aqua/Adv 
 
 

 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain