Senin, 15 Maret 2021

eFishery Tawarkan Program Pencegahan Penyakit Udang

eFishery Tawarkan Program Pencegahan Penyakit Udang

Foto: 
Tim aquaculture support eFishery, sedang mengatur dosis pemberian Aqualisan di tambak udang Pamanukan, Subang

Potensi perikanan nasional meru­ pakan nomor satu di dunia. Yakni; mencapai 1,2 triliun dolar US dengan 30,2 juta kolam dan melibatkan 3,3 juta pembudidaya. “Dari data 2019 lalu, volume ekspor udang Indonesia mencapai 207,7 ton; no­ mor dua terbesar setelah rumput laut. Dari sisi nilai, ekspor udang paling tinggi yakni 1,7 miliar dolar US,” ungkap Givaldi Zhafran Amsi, Bussines Develop­ment Manager eFishery dalam webinar ‘Budidaya Udang di Tengah Krisis’ baru­baru ini. Acara ini digelar eFishery bekerjasama dengan perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan akuakultur, Alune Aqua.
 
 
Disamping itu, pertumbuhan sektor perikanan juga tertinggi di bidang pangan; yakni mencapai 9,4 miliar dolar US per tahun dengan 18,7 % CAGR (laju pertumbuhan majemuk tahunan). Selain untuk sasaran ekspor, pasar udang di dalam negeri juga melonjak tajam. Hal ini terlihat dari kenaikan angka konsumsi ikan termasuk udang yang naik sebesar 46 %.
 
 
Namun, ada kata waspada karena mere­ baknya penyakit Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei) sejak dua tahun terakhir di tanah air. Efeknya, terjadi penurunan produksi udang secara signifi­kan dan belum pulih seperti sebelumnya.
 
 
“Sehingga, perlu upaya serius guna men­ cegahnya (AHPND),” ungkap Givaldi.
“Dengan mewabahnya penyakit AHPND di tanah air, produksi dan ekspor udang terancam. Apalagi penyakit ini menyerang udang pada usia 30 hari ke bawah dan menyebabkan kematian mas­ sal. Berbeda dengan penyakit lainnya yang muncul pada saat udang sudah besar dan bisa dipanen sehingga sudah bernilai jual,” urai narasumber.
 
 
Akibatnya, sambung Givaldi, kemun­ culan AHPND begitu meresahkan pelaku usaha budidaya sehingga banyak farm yang stop operasi karena tidak mampu mengatasi penyakit ini. Kerugian yang diderita berkisar antara 20 hingga 25 % dari biaya produksi. Artinya, jika total biaya produksi satu petak kolam sebesar Rp 100 juta, maka ketika diserang AHPND yang berakibat kematian massal maka biaya yang dikeluarkan sudah Rp 25 juta.
 
 
Pentingnya Data untuk Pencegahan Penyakit
Menurut Givaldi, kehadiran eFishery bisa untuk membantu pelaku usaha di bidang perikanan, khususnya udang dalam mence­ gah dan mengatasi penyakit. Tujuannya, agar kenaikan produksi dan ekspor udang yang ditargetkan pemerintah naik 250 % pada 2024 dapat tercapai.
 
 
Jadi, ungkapnya, selain komponen pakan; penyakit merupakan tantangan besar lainnya pada budidaya udang. Mengatasi permasalahan pakan, eFishery menyediakan eFisheryFeeder yang dapat mengatur pemberian pakan secara terjadwal. Data mengenai pemberian pakan dicatat dalam laporan budidaya. Saat ini eFisheryFeeder sudah digunakan pelaku usaha udang se­banyak 7 ribu unit yang tersebar ke 180 kota atau daerah di tanah air.
 
 
Lalu untuk mencegah penyakit, tantangannya adalah masih lemahnya biosekuriti; jarang melakukan cek kualitas air; tidak menganalisis laporan kualitas air dan treatment air tidak berdasarkan data. “Ini terjadi karena pelaku bisnis udang kurang menyadari pentingnya pencatatan data, terutama data parameter kualitas air,” ungkapnya.
 
 
Terakhir, program yang sedang ditawarkan eFishery kepada pelaku usaha budidaya udang; yakni eFishery Disease Prevention System (DPS) atau program pencegahan penyakit yang disupervisi oleh tim eFishery. Dalam program ini, reko­ mendasi pengendalian kualitas air tambak dilakukan berbasiskan teknologi.
 
 
Lalu masih dalam program ini juga terdapat rekomendasi dosis disinfektan Aqualisan. Untuk menjalankan program ini pelaku usaha cukup berlangganan dengan tarif yang efisien. Dengan berlang­ ganan eFishery Disease Prevention System (DPS), pelaku usaha budidaya udang akan memperoleh pendampingan pengecekan kualitas air; rekomendasi dosis treatment pada air; laporan rutin harian dan mingguan perkembangan budidaya dan free outbreak protocol.
 
 
Cegah Penyakit dengan eFishery
Disease Prevention System (DPS)
Khusus mengenai Aqualisan, Givaldi Zhafran menjelaskan, adalah produk yang aman serbaguna dan berkelanjutan. Aqualisan merupakan disinfektan yang diproduksi khusus untuk budidaya udang sebagai pengendali kuat yang secara terus­ menerus mengoksidasi dinding sel virus, bakteri, protoza, spora dan mikroba berba­ haya lainnya dengan cara membunuh atau membuatnya tidak berbahaya. Produk ini sangat aman untuk digunakan, aplikasinya mudah, serta terbukti mampu mengontrol dan menurunkan risiko penyakit.
 
 
Aqualisan tidak berbahaya terhadap udang karena terkomposisi secara sempurna di dalam air tanpa meninggalkan residu berbahaya. Lalu, Aqualisan diproduksi dalam standar tinggi atas keamanan makanan. Penggunaannya mudah dan tidak akan terjadi residu obat, tidak diperlukan peng­enceran, cepat, dan efektif. Secara detil fungsi Aqualisan adalah untuk mengontrol dan membunuh virus, bakteri dan mikroba berbahaya lainnya; mengoksidasi dan mengeliminasi H2S, NH3, NO2, racun alga; meningkatkan  oksigen  terlarut; ramah terhadap lingkungan; dan tidak berbahaya terhadap udang.
 
 
Dalam pemaparannya, Givaldi Zhafran juga menampilkan contoh laporan indeks kualitas air tambak salah satu mitra eFishery dan rekomendasi yang diberikan kepada pemilik. Dalam laporan data tersebut tertulis kadar nitrit 5.0 pada kolam B­1 di atas nilai yang disarankan 0.6 maka direkomenda­ sikan untuk menambahkan Aqualisan 3,8 kg. Lalu pada kolam B­2, salinitas 18.0 di bawah nilai yang direkomendasikan 20.0. Lalu nitrit 2.0 di atas nilai yang disarankan maka yang harus dilakukan adalah penam­ bahan Aqualisan 4.6 kg.
 
 
Pada bagian akhir pemaparannya, Gi­valdi juga menampilkan data kinerja tambak Carwadi, mitra eFishery di Subang­ Jawa Barat. Sebelum aplikasi Aqualisan, rerata kepadatan tebar 119,11 ekor per meter persegi (m2) dan setelah menggunakan Aqualisan, padat tebar sebanyak 119,86 m2. Meski kepadatan tebar hampir sama, produksi panen setelah menggunakan Aqualisan mencapai 2,03 kg per m2 atau naik dari sebelumnya 1,64 kg per m2. Lalu, berat rerata udang juga naik dari 21,44 gram per ekor menjadi 23,16 gram per ekor. Demikian pula laju sintasan (SR) naik dari 65,76 % menjadi 73,48 %. Sebaliknya, rasio konversi pakan (FCR) turun dari 1,71 menjadi 1,43.
 
 
Untuk berlangganan program pence­gahan penyakit eFishery, Givaldi menyebut petambak dapat menghubungi eFishery secara langsung di nomor 0821­2740­ 2055. Dengan berlangganan program ini; pelanggan akan mendapatkan produk Aqualisan, rekomendasi dosis, pendam­ pingan aquaculture support, dashboard dan laporan rutin dan protocol outbreak. TROBOS Aqua/Adv 
 
 
 
 
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain