Senin, 15 Maret 2021

Benih Seukuran, Budidaya Aman

Benih Seukuran, Budidaya Aman

Foto: TROBOS Syafi


ketidakseragaman benih dapat mengakibatkan kerugian yang berdampak pada gagalnya usaha budidaya lele, baik pembenihan atau pembesaran

 
Ikan Lele (Clarias.Sp) sudah lama jadi primadona ikan air tawar, pasalnya ikan berkumis satu ini banyak diminati berbagai kalangan di dalam negeri. Merilik ke sisi budidayanya, untuk keberhasilanya memerlukan beberpa faktor penting yang diperhatikan. Salah satunya adalah keseragaman ukuran benih lele yang dihasilkan baik oleh pembenih ataupun yang digunakan oleh pembudidaya pembesaran. Ketidakseragaman benih cukup merugikan bagi kedua segmen budidaya lele tersebut.
 
 
Menelisik lebih jauh mengenai seberapa pentingnya keseragaman lele yang dibudidayakan, TROBOS Aqua mewawancarai beberapa narasumber. Salah satunya Sahban I Setioko selaku pembenih lele di Pasir Gaok, Bogor. 
 
 
Ia mengatakan, jika ditanyakan seberapa penting, sudah pasti ini menjadi salah satu kunci keberhasilan bagi segmen pembesaran. Sedangkan untuk di segmen pembenihan tak kalah penting pula mengenai keseragaman, karena berdampak pada jumlah benih yang bisa diproduksi yang ujungnya berpengaruh pada omzet usaha nantinya. 
 
 
“Keinginan para pembenih adalah memproduksi benih lele dalam kurun waktu tertentu dan ukurannya sama semua, sehingga bisa langsung dijual semua. Namun kan hal itu tidak mungkin terjadi, karena ada sejumlah faktor yang mempengaruhi benih yang seragam, dari mulai induk hingga teknis budidayanya baik dari manajemen pakan, air, dan lainnya,” candanya saat diwawancarai sore itu. 
 
 
Kanibalisme
Menjelaskan lebih gamblang, Sahban katakan, sudah kita ketahui bersama bahwa lele ini merupakan ikan air tawar yang sangat diminati, permintaan benihnya pun cukup tinggi. Namun, dibalik itu semua ada satu faktor yang sangat menunjang keberhasilan usaha budidaya lele yakni keseragaman benih. Dalam hal ini adalah seragam ukuran benih yang dihasilkan dan dipelihara, yang menjadi masalah utama jika benih yang dipelihara tidak seragam akan memicu sifat kanibal (memakan sesama)  di berbagai fase pembenihan. 
 
 
“Apabila dalam segmen pembenihan tidak menjalankan Standar Opersional Prosedur (SOP) yang ketat, maka benih yang dihasilkan ukurannya beragam. Sehingga, yang besar akan memakan yang kecil,” terang pria yang menamai usahanya empangQQ. 
 
 
Sambungnya, dampak dari kanibalisme di pembenihan lele beragam, yang kemungkinan besar akan mendapatkan kerugian karena jumlah benih yang dihasilkan sedikit dan tidak berbanding dengan jumlah pakan yang telah dikeluarkan. Selain itu, akan hilangnya kepercayaan dari pelanggan yang biasa membeli benih, jika keadaan tersebut tidak segera diperbaiki maka akan bangkrut usahanya.
 
 
Senada dengan Sahban, Alexander yang juga merupakan pembenih lele asal Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar) mengatakan, kanibalisme muncul akibat dari ketidakseragaman benih yang dipelihara. Hal tersebut bisa dipicu berbagai hal seperti pemberian pakan yang tidak tepat, baik teknis dan jenis pakan yang diberikan, dan kemudian kualitas air yang buruk pula dapat menyebabkan benih tidak seragam. 
 
 
“Apabila kualitas air kolam benih buruk, semisal kandungan amoniak tinggi. Maka ikan yang memiliki stamina baik akan tetap bertahan dan tumbuh, sedangkan untuk ikan yang tidak kuat akan lebih memilih bertahan dengan kondisi air yang ada dan tidak tumbuh. Dengan demikian akan terjadi kesenjangan ukuran benih lele nantinya,” ujar pria yang akrab disapa Alex.
 
 
Dari sisi lain, Haji Usman selaku pembudidaya pembesaran lele di Depok – Jabar mengatakan, kanibalisme pun juga terjadi di usaha pembesaran. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah faktor ketidaksergaman benih lele yang dipelihara. 
 
 
Hal tersebut cukup fatal dirasakan, pertama dengan memelihara benih lele yang ukurannya tidak seragam maka akan terjadi kanibalisme. Terlebih lagi ditunjang dengan lebih dominan benih yang ukurannya lebih besar ketika pemberian pakan, sehingga yang kecil tersisihkan dan pertumbuhannya terhambat. Jika yang besar lapar maka yang kecilpun akan dimakan olehnya. 
 
 
“Walaupun setiap adanya kematian yang terlihat dicatat setiap harinya, namun yang terjadi jika dihitung saat panen hasilnya berbeda dengan catatan. Jumlah kematiannya lebih banyak daripada data pencatatan, hal ini disebabkan kanibalisme terjadi di kolam pembesaran selama pemeliharaan,” Ungkap Usman.
 
 
Untuk meminimalisir adanya kanibalisme dalam budidaya lele, Sahban katakan, ada sejumlah hal yang perlu dilakukan. Semua faktor budidaya dari mulai sarana prasarana, indukan, pakan, dan manajemen air yang baik perlu dibenahi sesuai standar Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) maupun Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), serta tidak terlepas dari Standar Nasional Indonesia (SNI) budidaya lele. Jika pembudidaya mengacu kepada hal tersebut keseragaman ikan bisa diperoleh, dan kanibal pun dapat di tekan. 
 
 
Indukan Berkualitas
“Salah satu upaya dalam menghasilkan benih yang seragam dapat dilakukan pembenahan dalam menggunakan induk lele. Karena ini merupakan salah satu faktor yang cukup mempengaruhi dalam menghasilkan benih berkualitas dan cukup seragam ukurannya,” terang Sahban sore itu. 
Lanjutnya, pemilihan indukan lele haruslah yang telah tersertifikasi, maksudnya adalah indukan yang diperoleh sebaiknnya dari balai perikanan milik pemerintah. Karena induk yang telah tersertifikasi tersebut teleh melalui seleksi ketat dan perbaikan genetik mengenai laju pertumbuhan, daya tahan, serta tingkat keseragaman yang lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan yang banyak beredar di pembudidaya konvensional yang hanya mengandalkan induk dari hasil benih yang telah dipelihara hingga besar. 
 
 
Hingga saat ini, Sahban katakan, banyak asumsi yang salah terjadi dikalangan pembenih lele. Bahwa jika dalam memelihara benih kemudian ada benih yang ukuranya jauh lebih besar (jumper) daripada rata-rata ukuran benih lainnya maka itu baik dijadikan indukan nantinya. Ini yang perlu diedukasi kepada teman-teman pembudidaya, bahwa anggapan itu salah adanya. 
 
 
Secara logika bahwa memang jika benar memilih ikan tersebut karena lebih cepat besar, namun nyatanya benih jumper tersebut tidak seragam saat dibudidayakan. “Maka dari itu, kita percayakan saja kepada balai pemerintah yang melakukan seleksi baik pertumbuhan dan keseragaman, serta daya tahan, sehingga menghasilkan induk yang memang berkualiatas,” tutur Sahban yang lokasinya acap kali menjadi tempat Praktik Kerja Lapang (PKL).
 
 
Menimpali Sahban, Alex pun juga mengutarakan betapa pentingnya dalam menggunakan indukan berkualitas dan tersertifikasi. Alex sampaikan, berdasarkan pengalamannya benih lele yang dihasilkan dari indukan lele dengan strain (jenis) sangkuriang memiliki tingkat keseragaman yang cukup tinggi. Dengan demikian, pelanggan yang biasa mengambil benih pun akan lebih senang ketika dipelihara kembali, karena dengan adanya keseragaman benih yang dihasilkan maka angka Survival Rate (SR) atau daya hidup tinggi, sehingga target produksi di segmen pembesaran pun tercapai.
 
 
Susilo Hartoko selaku Ketua Bidang Lele di Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) pun ikut angkat bicara mengenai indukan lele. Ia katakan, bahwa dalam usaha pembenihan indukan yang tersertifikasi dan berasal dari balai merupakan komponen penting yang tidak boleh dilewatkan. 
Tak sampai di sana saja, jika sudah memiliki induk lele yang berasal dari balai perlu juga pemahaman bagi kita bagaimana memelihara induk lele yang baik. Karena jika di balai dipelihara dengan baik, dan ketika tiba di kolam pembudidaya tidak dirawat dengan baik, yang ada kualitasnya bisa menurun.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-106/15 Maret – 14 April 2021
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain