Senin, 15 Pebruari 2021

Adopsi Auto-Feeder dan Aerator untuk Peningkatan Profit Akuakutur

Adopsi Auto-Feeder dan Aerator untuk Peningkatan Profit Akuakutur

Foto: 


Perkembangan teknologi dalam dunia perikanan terus mengalami peningkatan. Salah satunya adalah penggunaan auto-feeder (pemberi pakan otomatis) dan aerator
 
 
Perkembangan ini terlihat dari Aquabinar Series 9 yang digelar oleh TROBOS Aqua bekerjasama dengan AgResults dan Yayasan WWF Indonesia yang digelar pada Sabtu, 13 Februari 2021 lalu. Webinar ini mengusung tema ‘Adopsi Auto-Feeder dan Aerator untuk Peningkatan Profit Akuakutur’ yang menghadirkan Prof. Nurul Taufiqu Rochman selaku Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Romi Novriadi selaku peneliti di Kementrian Kelautan dan Perikanan sekaligus Wakil Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia, Imanuel Dwi Kanta Nugraha selaku pembudidaya ikan nila di Kabupaten Klaten – Jawa Tengah (Jateng), dan Nur Ahyani selaku Koordinator Akuakultur Nasional Yayasan WWF Indonesia sebagai pembicara pada tema kali ini.
 
 
Aplikasi Teknologi Finebubble
Prof Nurul dalam materinya lebih banyak menjelaskan mengenai Teknologi Finebubble (Nanobubble), peluang dan tantangan dalam peningkatan daya saing di bidang akuakultur. Ia menjelaskan mengenai aplikasi teknologi nanobubble sehingga ikan air laut dan air tawar bisa hidup bersama dengan pertumbuhan yang lebih cepat 30% daripada tidak menggunakan teknologi nanobubble. “Karakteristik finebubble ini bisa mensterilkan bakteri, sehingga bakteri akan mati ketika bersentuhan dengan nanobubble di dalam air,” ujarnya. Aplikasi finebubble bisa dilihat pada kincir, aerator putar, aerator statis, mau pun floating aerator. Cara kerjanya adalah dengan menggabungkan gelembung pada makro bubble, finebubble, ultrafine bubble sehingga oksigennya tercampur.
 
 
Menyadur dari Profesor Emeritus Akimi Serizawa di Kyoto University, Prof. Nurul menjelaskan bahwa berdasarkan mekanisme pembentukannya, ada bermacam-macam teknologi finebubble Macam-macam teknologi tersebut adalah; shear flow, nucleation, cavitation, bubble break down by shockwave, combination. Dalam penerapannya, modifikasi teknologi finebubble juga dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: ultrafine bubble berukuran lebih halus (100-200 nm), lebih stabil di air; ultrafine bubble berjumlah lebih banyak; merata/ homogen, lebih lama di air; dan bisa untuk berbagai gas yang spesifik selain udara (O2, CO2, N2). “Peluang aplikasi finebubble di bidang pertanian, peternakan dan perikanan; meliputi processed agricultural product, pig farming, vegetables/ fruits, marine products, dan lain-lain,” lanjutnya.
 
 
Sedangkan implementasi nanobubble bisa ditemukan di beberapa lokasi seperti Subang – Jawa Barat (Jabar), yaitu di tambak udang vannamei (luasan 1200 m2), dan di Situbondo - Jawa Timur, yakni di pembesaran ikan kerapu cantik (RAS). Prof Nurul juga mengimbuhkan, implementasinya juga pada baby lobster (di Bandung – Jabar), peternakan (Korea Selatan), water treatment (Malaysia), ikan gabus (Bogor - Jabar), ozonisasi (Semarang - Jateng), benur udang (Situbondo), nener bandeng (Bali), koi impor (Cimahi - Jabar).
 
 
Peningkatan Produksi dengan Auto-Feeder dan Aerator
Sementara itu, Romi Novriadi, lebih banyak menjelaskan Perkembangan Teknologi Auto-Feeder dan Aerator dalam Sistem Produksi Akuakultur. Menurutnya, teknologi ini sangat membantu kinerja budidaya, tapi penggunaannya harus bijak. Sehingga, ia menuturkan, harus ada kombinasi penggunaan auto-feeder dengan pemberian pakan terbatas sesuai dengan kebutuhan udang ataupun ikan. “ Penggunaan teknologi harus didukung oleh para pelakunya dan harus bijak,” pungkasnya.
 
 
Di Kendal, Imanuel Dwi Kanta Nugraha menceritakan pengalamannya berbudidaya ikan nila dengan menggunakan kincir. Sebelumnya, ia mengembangkan ikan nila jenis larasati di luasan kolam 200 m2 tanpa menggunakan kincir. Dengan kepadatan 10-15 m per ekor, tebar ikan nila 50 kg gelondongan (ukuran benih 20 gr per ekor) dan masa pemeliharaan selama 5-6 bulan, menghabiskan pakan sebanyak 25 sak plus daun pepaya dan daun ketela, hasilnya mencapai 5 kuintal. Berikutnya, Imanuel mencoba menggunakan kincir, dengan tujuan untuk meningkatkan padat tebar, meningkatkan suplai oksigen, mempercepat waktu panen, serta menambah keuntungan pada kegiatan budidaya. Dari penggunaan kincir ini, Imanuel meraup untung yang berlipat “Dengan pakai kincir, ukuran 200 m2, kepadatan 60-70 m per ekor, benihnya 2 kuintal (kira-kira 12 sampai 13 ribu ekor ukuran 20 gr), Usia panennya jadi 4 bulan, menghabiskan pakan sebanyak 100 sak, hasil panen 2,1 ton,” ujar Imanuel.
 
 
Kompetisi untuk Dorong Budidaya
Di akhir sesi materi, Nur Ahyani selaku Koordinator Akuakultur Nasional Yayasan WWF Indonesia menjelaskan mengenai program kompetisi yang sedang digelar oleh AgResults dan Yayasan WWF Indonesia selama empattahun ke depan. Program kompetisi yang dimaksud adalah‘Agresults Indonesia Aquaculture Challenge Project’. Program ini merupakan kompetisi penjualan berhadiah selama empat tahun untuk memperkuat sektor budidaya perikanan. “Kompetisi ini mendorong sektor swasta berperan dalam meningkatkan adopsi teknologi seperti aerator dan auto-feeder oleh pembudidaya skala kecil. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivita pembudidaya skala kecil, peningkatan pendapatan dari produksi udang dan ikan, memperkuat hubungan rantai nilai dengan penyedia teknologi akuakultur fan offtaker dalam mengadopsi teknologi,” ujar Nur Ahyani.
 
 
Ada 4 kategori yang diperlombakan, yaitu aerator tradisional, aerator modern, autofeeder tradisional, dan auto-feeder modern. Pesertanya adalah produsen serta distributor teknologi aerator dan/atau auto-feeder di Indonesia. Pendaftaran ditutup pada pukul 17.00 WIB, tanggal 19 Februari 2021. “Target lokasi penjualan alat ada di enam wilayah; yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan,” imbuh Nur Ahyani.
 
 
Di tahun pertama, penjualan dalam kompetisi akan dimulai pada Mei 2021 hingga Januari 2022 dengan target pembudidaya skala kecil dengan komoditas udang galah, udang windu, ikan mas, nila, lele, pangasius, dan bandeng. “Peserta kompetisi yang berhasil menjual atau menyewakan 50 unit alat per tahun akan mendapatkan hadiah, serta akan ada nominasi hadiah utama sebesar 250.000 USD bagi peserta kompetisi yang bisa menjual 5.000 unit alat selama periode 4 tahun kompetisi,” pungkas Nur Ahyani.
 
 
Selain itu, kompetisi ini juga melibatkan Technical Advisory Committee yang terdiri dari empat orang yaitu; Coco Kokarkin,Evelyne Nusalim, Arief Arianto, dan Ery Damayanti.
 
 
“Bagi yang berminat untuk mengikuti kompetisi ini, dapat langsung mendaftarkan institusinya atau membaca informasi lebih lanjut pada link (https://bit.ly/aquaculturecompetition),” tutupnya. Calon peserta yang berminat untuk mendaftarkan institusinya dapat mengunjungi situs AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project atau menghubungi admin kompetisi melalui Whatsapp di 0813-3721-8883. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain