Senin, 15 Pebruari 2021

Udang Olahan Indonesia untuk Dunia

Udang Olahan Indonesia untuk Dunia

Foto: dini


Pergeseran target pasar ke produk olahan udang siap masak dan siap saji, jadi satu kunci merebut pasar udang udang global 
 
 
Setelah diumumkan Indonesia masuk dalam resesi, tidak sedikit pihak yang merasa was-was dengan keadaan ekonomi nasional. Dalam konferensi pers yang disiarkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) secara virtual akhir Januari lalu, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi memaparkan pada 2020, pandemi telah berdampak terhadap berkontraksinya perekonomian dunia sebesar -3,5 %.
 
 
Namun, ada hal positif yang diutarakan Lutfi tentang pertumbuhan ekonomi global. Dia menerangkan bahwa berdasar laporan Dana Moneter Internasional (IMF), diproyeksikan ekonomi dunia tumbuh 5,5 % pada 2021 ini. Dimana ekonomi negara maju tumbuh 4,3 % sementara negara berkembang tumbuh 6,3 %.
 
 
Sementara itu, Lutfi menambahkan, laporan IMF juga memproyeksikan pertumbuhan volume perdagangan barang dan jasa pada 2021 mengalami pertumbuhan 8,09 %. “Dimana, pertumbuhan volume perdagangan di negara maju sebesar 7,46 % dan negara berkembang mencapai 9,19 %. Pada 2020 lalu, pandemi telah berdampak terhadap berkontraksinya volume perdagangan barang jasa dunia sebesar -9,61 %,” Lutfi membacakan data IMF. Di lain pihak, ujar Lutfi, di tengah kelesuan ekonomi global pada 2020, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD 21,7 %. Dimana sektor non migas memberikan peran penting.
 
 
Khusus untuk sektor kelautan dan perikanan, hal yang cukup menggembirakan, adalah pergerakannya dalam dunia perdagangan. Seperti tertera dalam laporan Kemendag yang diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS) ini, produk seafood (produk perikanan) merupakan produk dengan tren pertumbuhan positif ketiga terbaik sepanjang 2016 - 2020; setelah besi baja dan produk pulp kayu. Produk seafood mengalami tren pertumbuhan sebesar 9,7 % sepanjang 2016 - 2020.
 
 
Tentunya, terlepas dari gejolak ekonomi akibat pandemi, tren pertumbuhan ini memunculkan optimisme pada produk kelautan dan perikanan. Hal ini dipicu pula dari aura positif yang dilaporkan Organisasi Pangan Dunia (FAO) awal Januari lalu.
 
 
Khusus untuk produk udang yang menjadi primadona ekspor seafood Indonesia, laporan FAO (Badan Pangan Dunia) menyebut bahwa akhir 2020 lalu ada perkembangan positif terkait peredaran pasar udang dunia. Perkembangan positif ini ditandai dengan tren kenaikan harga udang dunia di akhir 2020. 
 
 
Sebelumnya, laporan FAO tercatat, harga udang dalam perdagangan internasional terpantau rendah hingga Agustus 2020. Ekuador adalah negara yang paling parah terpukul di mana harga jatuh ke rekor terendah pada Juli menyusul larangan impor parsial dari China. Namun, sejak September dan seterusnya, harga mulai pulih.
 
 
Naiknya harga ini, terpantau pula dalam laporan Forum Udang Indonesia (FUI) yang sudah dikupas TROBOS Aqua pada edisi 104, dimana pada November tahun lalu harga rata-rata ekspor udang Indonesia 8,6 USD per kilogram (kg) atau 1,9 miliar USD per 219 ribu ton. Naik dari harga rata-rata udang Indonesia pada 2019, yakni 8,2 USD per kg atau 1,7 miliar USD per 207 ribu ton.
 
 
Positivitas Pasar 2020
Adanya tren peningkatan ini memberikan kecerahan, setelah sepanjang 2020 bisa disebut sebagai satu masa kelam dalam perdagangan dunia. Pandemi telah mengurangi permintaan udang di seluruh dunia. Namun, selain memetakan Indonesia, pergerakan pasar udang yang melibatkan Ekuador dan India patut dicermati sepanjang 2020 ini.
 
 
Dalam runutan, laporan FAO memaparkan tentang pasokan udang global. Selama paruh pertama 2020, pasokan meningkat dari Indonesia, selain Ekuador. Ekuador didukung oleh harga ekspor yang rendah dan peningkatan penjualan ke Amerika Serikat (AS), sementara ekspor udang olahan Indonesia meningkat selama periode ini. 
 
 
Yang tergambar jelas dari pasar Indonesia, adalah pergerakan pasarnya. Dimana, sektor jasa makanan (food service) yang menjadi satu andalan peredaran udang global, telah mengalami kerugian yang besar. Hal ini diutarakan oleh Ketua Umum AP51 (Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia), Budhi Wibowo. 
 
 
Budhi menjelaskan, sebelumnya pasar untuk food service, seperti hotel, katering, kafe, dan restoran sempat turun sangat tajam hingga 80 % selama pandemi. “Market cuma 20 %. Mulai Juni-Agustus, pasar mulai naik dan saat ini sudah sedikit membaik, turunnya hanya menjadi 60 % dibanding sebelum pandemi,” ujar Budhi dalam webinar Digifish Desember 2020 lalu.
 
 
Tetap saja, negara utama tujuan ekspor udang Indonesia adalah Amerika Serikat atau AS (64 %), Jepang (16 %), (China 5%), Malaysia (3 %), dan Thailand (2%) yang disadur dari Trade Map (2020). Hal ini diutarakan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto pada suatu kesempatan webinar  beberapa waktu lalu. 
 
 
Dan menjelang akhir 2020, terjadi peningkatan ekspor udang Indonesia ke AS dibanding 2019. Yakni dalam laporan NMSF, total pasokan Indonesia adalah 160.744 metrik ton sepanjang Januari-Desember 2020. Naik dari pasokan sebesar 133.163 metrik ton di periode yang sama pada 2019.
 
 
Sementara dari segi pasar yang terkait pasokan dari Indonesia dan negara kompetitor, beberapa narasumber pun memberikan gambaran. Willem van der Pijl dari Shrimp Insight Belanda memberikan gambaran pasar Uni Eropa (UE) seperti sudah dikupas dalam TROBOS Aqua edisi 101. Dimana, udang dari Ekuador karena mempunyai nilai jual dari udang premium.
 
 
Willem menyebut, pemasaran udang organik menunjukan tren positif di Uni Eropa. Terutama di Belanda, udang organik dari Ekuador mendapat tempat di sebagian besar supermarket di Belanda sebagai udang premium.
 
 
Sedangkan menurut Vincent Lin, Grobest Seafoods Taiwan, Ekuador adalah pengimpor udang nomor satu di China. Terlepas dari dampak pandemi, pada paruh pertama 2020 China masih mengimpor udang Ekuador dalam jumlah besar. Pada Juli 2020, ditemukan jejak virus pada kemasan udang milik produsen udang terbesar ketiga Ekuador. Insiden tersebut menyebabkan penurunan tajam impor dari Ekuador. Impor Ekuador secara bertahap baru pulih sejak Agustus. Namun kepercayaan konsumen telah rusak. Konsumsi pengguna akhir sulit untuk naik seperti level sebelumnya.
 
 
Sementara India, pada 2019, menjadi negara pengimpor udang nomor 2 untuk China, berjumlah lebih dari 150 ribu ton. Ketegangan antara China dan India meningkat sejak pertempuran kecil terjadi di perbatasan di Himalaya. Pada Juli 2020, Bea Cukai China menanggapinya dengan memperketat pemeriksaan udang India.
 
 
Geser Target Pasar
Menjadi catatan penting, dalam laporan FAO, yakni di Vietnam dan Indonesia, situasi suplai lebih baik. Pengolah ekspor di Vietnam dan Indonesia berfokus pada produk bernilai tambah dan kemasan ritel sebagai respons terhadap perubahan permintaan pasar.
 
 
Ekspor udang olahan juga meningkat dari negara lain, namun tidak dari Thailand dan China. Ekspor udang beku yang dimasak (cooked frozen shrimp) 35 % lebih tinggi di India dan Indonesia selama periode 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.
 
 
Budhi pun menjelaskan respon ini. Dimana, pasar untuk retail (konsumen akhir) baik lewat retailer ataupun penjualan daring stabil bahkan ada yang tumbuh sekitar 30 %. “Adanya upaya untuk perubahan food service. Kita perbanyak switching (geser target). Kami mencoba perbanyak penjualan ke arah retail konsumen akhir, terutama produk-produk value added yang sifatnya ready to cook, ready to eat. Yang saat ini peningkatannya sangat luar biasa,” ungkapnya.
 
 
Adanya pergerakan switching ke penjualan daring yang ‘manut' teknologi informasi ini patut dicermati. Khususnya, terang Budhi, hal ini menjadi strategi khusus bagi unit pengolahan ikan (UPI) untuk bisa berkembang di masa pandemi sekaligus berkompetisi di pasar ekspor yang semakin ketat. 
 
 
Tantangan Global
Pesatnya arus informasi dalam dunia digital juga bisa membawa pengaruh penting. Apalagi, demi pemenuhan target produksi budidaya 250 % pada 2024 nanti, khususnya komoditas udang. Ditambah, ujar Budhi, ada niatan dari eksportir untuk mengeksplorasi peluang ekspor ke negara lain selain negara-negara tujuan ekspor saat ini.
 
 
Sebagai contoh, adalah China yang disasar semenjak beberapa tahun lalu. Baru-baru ini, pengetatan yang dilakukan China terhadap produk frozen food yang masuk ke negaranya cukup membuat eksportir was-was. 
 
 
Alasannya, China tidak akan menerima produk yang terdeteksi membawa patogen Covid-19 di kemasan produknya. Karena, ditengarai kontaminasi permukaan produk merupakan sumber utama keberadaan virus di produk beku.
 
 
Walaupun, belum ada bukti penguat bahwa seseorang bisa tertular Covid-19 dari makanan atau kemasan makanan. Hal ini terungkap dalam webinar umum yang diadakan oleh satu perusahaan lab Malaysia Desember lalu. Laporan dalam webinar ini memaparkan, bahwa impor dari perusahaan yang dilaporkan terjadinya klaster infeksi telah dilarang. Yakni sebanyak 99 perusahaan dari 20 negara dilarang, 82 perusahaan itu telah diberlakukan tes secara sukarela (voluntary testing).
 
 
China pun memperketat impor produk frozen untuk mencegah penularan Covid-19 yang berasal dari luar. Sehingga, importir China wajib meminta laporan uji nucleic acid atau PCR dari eksportir dan bukti disinfeksi pada produk beku yang diimpor. Walaupun, hingga webinar ini diadakan, masih belum jelas detail tentang voluntary testing terkait ini.
 
 
Tantangan juga dirasa dari kekuatan pasar (market power) Indonesia dengan negara-negara pengimpor. Hal ini tertuang dalam webinar Kemendag beberapa waktu lalu, Choirin Nisaa’ dari Pusat Pengkajian Perdagangan Luar Negeri Kemendag memaparkan presentasi tetang analisis seputar market power produk ekspor Indonesia. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-105/15 Februari – 14 Maret 2021
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain