Jumat, 15 Januari 2021

Dongkrak Ekspor Udang 250 % Bisa

Dongkrak Ekspor Udang 250 % Bisa

Foto: datuk


Program peningkatan nilai ekspor udang 2,5 kali lipat bukan hal yang mustahil untuk dicapai
 
 
Budhi Wibowo Ketua Forum Udang Indonesia (FUI) dalam penjelasannya kepada media, nilai ekspor udang Indonesia pada 2019 sebesar 1,7 miliar USD ditargetkan akan meningkat 2,5 kali lipat menjadi 4.25 M USD di akhir 2024. Untuk itu ada 2 hal yang perlu dilakukan secara bersama yaitu meningkatkan value udang yang diekspor dengan memperbanyak produk value added terutama produk ready to cooked/ready to eat dan meningkatkan volume produksi udang nasional. Untuk mencapai target tersebut diperlukan pertumbuhan volume dan nilai ekspor udang masing - masing sekitar 14 % dan 20 % per tahun. 
 
 
Data ekspor udang Indonesia pada 2020 dari KKP menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Walaupun pasar food service (restaurant, café dan catering) mengalami penurunan yang drastis akibat pandemi Covid19, namun eksporter udang di Indonesia mampu melakukan switching ke pasar retail luar negeri sehingga nilai ekspor udang olahan Indonesia telah naik sekitar 35 % di 2020. Komoditas udang mengambil porsi sekitar 40 % dari total nilai ekspor perikanan Indonesia.
 
 
Saat ini Indonesia telah menjadi peringkat pertama eksporter produk breaded shrimp ke pasar Amerika Serikat (AS), setelah ekspornya meningkat 2 kali lipat pada 2020. Hal tersebut merupakan peningkatan yang luar biasa mengingat pada 2019 Indonesia masih berada pada peringkat ke 4 eksporter breaded shrimp ke Amerika Serikat.
 
 
Forum Udang Indonesia (FUI) adalah organisasi yang beranggotakan berbagai pemangku kepentingan industri udang dari hulu kehilir. FUI telah melakukan penelahaan yang mendalam terhadap interaksi berbagai permasalahan utama perudangan di Indonesia dan telah menghasilkan 6 rekomendasi guna mencapai target udang tersebut.
 
 
Coco Kokarkin, Sekjen FUI menjelaskan rekomendasi Pertama dari FUI kepada pemerintah yang sangat mendesak adalah perlunya penyederhanaan praktek perizinan baik di tingkat pusat maupun daerah serta adanya kesamaan peraturan daerah. Selain itu mengingat masih banyaknya keluhan perijinan hingga saat ini, Kemenkomarves dan KKP diharapkan mempunyai desk perizinan/hotline yang siap menerima pengaduan/klarifikasi pertanyaan yang berkaitan dengan perizinan tambak udang. 
 
 
Rekomendasi Kedua, pemerintah pusat dan daerah melalui penganggaran APBN pada kementrian terkait serta APBD Daerah Tingkat 1 dan Tingkat 2, perlu memprioritaskan dukungan pengembangan infrastruktur budidaya pada sentra - sentra budidaya udang yang sudah luas agar lebih cepat dan lebih mudah mencapai target pertumbuhan produksi. Pengembangan infrastruktur tersebut antara lain adalah saluran irigasi, IPAL kolektif/ komunal, jalan - jalan produksi, laboratorium lingkungan (Posikandu) dan listrik . 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-104/15 Januari – 14 Februari  2021

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain